"Ini, minum buat kamu," ujar Ronald sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Angela.
Perempuan itu menerimanya dengan ragu, lalu berkata pelan, "M-makasih."
Ronald terkekeh, suara tawanya rendah dan penuh arti. "Saya nggak nyangka kamu akan mengambil keputusan yang—jujur aja—berat banget buat kamu. Sepertinya saya lumayan berhasil mempengaruhi cara berpikirmu."
Angela langsung mendelik tajam. "Diem kamu! Aku sama sekali nggak terpengaruh sama kamu, oke? Aku cuma nurut apa kata hatiku. Kamu nggak ada hubungannya sama keputusan ini."
Ronald tersenyum kecil. Dalam hati, ia tetap yakin bahwa ialah yang telah membukakan pintu bagi Angela untuk keluar dari zona nyamannya—mengatasi rasa takut dan berani melangkah. Meski keputusan itu sempat memicu konflik hebat antara Angela dan orang tuanya, Ronald tak menganggapnya sebagai masalah besar.
Baginya, melihat Angela terbebas dari aturan kaku dan batasan yang selama ini mengikatnya adalah sebuah kemenangan. Sesaat, pikiran bahwa dirinya adalah lelaki paling berdosa karena melarikan anak gadis orang sempat melintas di benaknya. Tapi pikiran itu segera lenyap, tenggelam oleh perasaan bahagia yang lebih mendominasi.
Angela memandang Ronald tajam. "Sebenarnya apa sih maksudmu? Kenapa aku ini jadi seperti peliharaan kamu?"
Ronald tersenyum tipis, senyum yang penuh teka-teki. Ia sudah menduga pertanyaan seperti itu akan muncul. "Suatu saat nanti kamu akan ngerti, Angela. Tapi nggak untuk sekarang."
Angela mendengkus, menatapnya penuh kesal. "Hei! Aku bukan anjing atau kucing, ya! Aku manusia, kayak kamu! Mana mungkin aku jadi peliharaanmu. Dan aku juga nggak mau! Enak aja!"
Ronald malah tertawa semakin keras, tawa yang terdengar hangat tapi juga sedikit menggoda. Baginya, ada makna tertentu di balik keinginannya menjadikan Angela seperti "peliharaannya". Namun, ia memilih untuk tidak menjelaskan lebih jauh. Biarlah waktu dan rasa penasaran Angela yang memberikan jawabannya.
Tiba-tiba, suara lirih dari perut yang kosong memecah keheningan. Angela tersentak. Wajahnya memerah, sementara Ronald menatapnya, berusaha menahan tawa.
"Kamu lapar?" Ronald bertanya dengan nada geli.
Angela menunduk, mencoba menyembunyikan rasa malu, lalu menelan ludah.
Mengembuskan napas panjang, Ronald berdiri dan mengulurkan tangan. "Ikut saya."
Angela memandangnya curiga. "Ikut ke mana? Aku nggak mau kamu bawa aku ke tempat aneh-aneh. Apalagi kalau kamu sampai macem-macem. Kamu pikir aku cewek murahan, apa?"
Mendengar itu, Ronald hanya tersenyum, tatapannya tenang dan penuh misteri, seolah menyimpan rencana yang tak ingin ia bagi.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Ronald mengembuskan napas panjang, ekspresinya mencerminkan kelelahan bercampur kesabaran. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan Angela dan menariknya pergi dengan langkah tergesa-gesa.
"Eh, lepasin aku, Ronald!" Angela berontak, mencoba melepaskan cengkeraman tangannya. Namun sia-sia, karena genggaman lelaki itu terlalu kuat.