Ronald tahu, tidak ada jalan lain selain meminta bantuan Darius. Namun, sejauh ini, semua usahanya sia-sia. Panggilannya tak dijawab, pesan-pesannya tak dibalas. Sementara itu, ia tidak bisa membiarkan Angela menderita—hidup kedinginan dan sengsara setelah memutuskan kabur dari rumah. Ronald membutuhkan uang, tetapi ia tidak tahu harus mencarinya dari mana.
Di tengah kebuntuan itu, Angela tiba-tiba membuka mulut. “A-aku … makasih buat semuanya,” ucapnya lirih sambil menunduk.
Ronald mengernyit, menatapnya dengan pandangan tajam yang sulit diartikan. “Ya, udah seharusnya kamu berterima kasih. Bahkan rasa terima kasih pun nggak cukup.”
Mendengar itu, Angela merasa darahnya berdesir naik ke kepala. Sesal menyelinap. Kenapa juga aku harus bilang makasih sama dia? pikirnya kesal. Bagaimana bisa seorang lelaki seperti Ronald tetap menuntut pamrih, bahkan setelah diberi rasa terima kasih?
Namun, Angela berusaha menahan emosinya. Mungkin ini hanya sifat dasar Ronald—atau mungkin, dia sebenarnya hanya tidak tahu bagaimana menerima rasa terima kasih dengan baik.
“Terserah kamu, deh. Nyesel aku bilang makasih.”
Ronald malah tertawa terbahak. Tawanya begitu lepas, seolah Angela baru saja melontarkan lelucon terbaik yang pernah ia dengar. “Oke, baiklah. Sekarang saatnya kita pergi dari sini.”
Angela menatapnya curiga. “Kita mau ke mana?”
Ronald memasang ekspresi berpikir sejenak sebelum menjawab, “Hmm, kamu akan tinggal di kos saya.”
Reaksi Angela langsung berubah drastis. Matanya melebar, ekspresi wajahnya penuh keterkejutan. “Apa?! Tinggal di kos kamu?! Ogah! Aku nggak mau, ya! Aku tahu kamu pasti punya banyak kesempatan buat ngapa-ngapain aku kalau tinggal sama kamu! Kamu pikir aku udah segitu putus asanya apa, sampai mau nyerahin diri aku begitu aja?! Denger, ya! Walaupun kamu udah baik sama aku …”
Kata-katanya terputus mendadak saat Ronald mengulurkan tangan dan meletakkan jari telunjuknya di bibir Angela. Gerakannya membuat Angela terdiam, matanya membelalak kaget. Ronald menggeleng pelan, mengisyaratkan agar Angela berhenti bicara.
“Nggak ada penolakan. Kalau kamu mau tidur di luar, silakan. Saya nggak akan menghentikanmu. Tapi di luar dingin, dan pakaianmu sekarang cukup terbuka. Jadi, pilihan ada di tanganmu,” katanya dingin dan tegas.
Angela terdiam. Ia tak bisa menyangkal logika Ronald, meski dalam hati ia mendidih karena kesal.
Tanpa menunggu respons lebih lanjut, Ronald berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju kasir, membayar dua porsi nasi goreng yang mereka habiskan, lalu beranjak keluar dari kedai tanpa berkata apa-apa lagi.
Angela mendengkus kesal, tetapi akhirnya bangkit juga dari tempat duduknya. Sialan, aku nggak punya pilihan, pikirnya sambil mengekor di belakang Ronald. Di dalam hati, ia terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya lelaki itu rencanakan untuknya.
“Ih! Kenapa, sih, kamu nyebelin banget!” gerutu Angela sambil meninju-ninju bahu Ronald, langkahnya tetap mengikuti lelaki itu dari belakang.
Ronald terkekeh, menoleh sekilas sambil menyunggingkan senyum jahil. “Itu karena saya diciptakan untuk bikin kesal perempuan sepertimu.”
Tawa Ronald semakin keras, memecah keheningan malam yang mulai sunyi. Hanya ada suara langkah kaki mereka berdua yang menggema di jalanan yang semakin sepi. Lampu-lampu kendaraan satu per satu menghilang, meninggalkan bayang-bayang panjang di trotoar yang mereka pijak.
Angela mendesah pelan, matanya memandang lurus ke depan. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini—berjalan di malam yang dingin bersama lelaki yang paling tidak ingin ia temui. Ronald. Lelaki menyebalkan yang sekarang malah menjadi satu-satunya orang yang bisa ia andalkan.