Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #15

Satu Selimut Berdua

Angela mengernyit, menatap kamar kos Ronald dengan penuh rasa tidak percaya. Ruangan itu kecil, hanya berukuran 4x4 meter, dengan satu tikar lusuh, satu bantal tipis, dan tak ada perabotan lain. Tidak ada televisi, tidak ada lemari, bahkan tidak ada kipas angin. Hanya sebuah paku di dinding yang berfungsi sebagai gantungan jaket.

“S-serius aku harus tidur di sini?!” tanya Angela dengan raut wajah terkejut, nyaris histeris.

Ronald yang sudah membuka pintu hanya tertawa kecil sambil melangkah masuk dan melepas sepatunya. “Kenapa? Ya, saya tahu ini ruangan kecil dan nggak ada apa-apa. Pasti jauh dari kamar luas kamu yang penuh barang mewah itu,” katanya sambil mengangkat bahu dengan santai.

Ia melirik Angela yang masih berdiri di ambang pintu, tampak enggan untuk masuk. “Tapi kalau nggak mau tidur di sini, ya nggak apa-apa. Kamu bisa cari tempat lain yang lebih bagus. Tentu saja, tanpa uang dan—“

“Oke! Oke! Aku tidur di sini, deh!” potong Angela cepat, memasang wajah pasrah.

Ronald tersenyum puas, menggantung jaket kulit hitamnya di paku dinding. Sementara itu, Angela akhirnya melangkah masuk, meski ragu. Aroma lembap langsung menyerbu indera penciumannya. Ini jelas jauh dari standar kenyamanannya.

Ronald duduk bersila di lantai, bersandar pada dinding dengan santai, seolah ruangan sempit itu adalah istana megah. Angela, di sisi lain, masih berdiri kikuk, memandangi ruangan kecil itu seolah mencari alasan untuk pergi.

“K-kalau aku tidur di sini, terus kamu tidur di mana?” tanya Angela, menunjuk tikar yang sudah jelas hanya muat untuk satu orang. “Itu cuma ada satu alas, satu bantal, dan satu selimut! Gimana ceritanya kita tidur berdua?”

Ronald menatapnya, lalu tanpa banyak basa-basi menarik tangan Angela hingga perempuan itu duduk di depannya. "Kita tidur bareng, Angela."

Mata Angela membelalak. "APA?! Tidur bareng kamu?! Gila, kamu?! Ogah banget! Aku nggak mau!" teriaknya panik sambil merapatkan tubuhnya ke dinding, menjaga jarak sejauh mungkin dari Ronald.

Ronald hanya menghela napas, wajahnya tetap tenang. "Saya serius, Angela. Kamu takut saya macam-macam? Tenang aja, saya nggak akan ngapa-ngapain kamu. Saya tahu batas."

"Sekali nggak mau, ya, nggak mau! Kamu pikir aku percaya omonganmu begitu aja?! Siapa yang tahu, begitu aku tidur kamu bisa ngapa-ngapain aku!" Angela menunjuk Ronald dengan wajah merah padam, separuh malu, separuh marah.

Ronald mendengar tuduhan itu dengan santai, lalu malah tertawa keras, suaranya memenuhi ruangan kecil itu. "Ya ampun, Angela. Kamu kira saya setega itu?" katanya sambil menyeka sudut matanya yang basah karena tertawa terlalu keras.

Angela tetap memelototinya, sikap waspada tidak mengendur sedikit pun. Meski begitu, Ronald tahu perempuan itu hanya mencoba melindungi dirinya. Dan bagi Ronald, itu sesuatu yang wajar.

Ia mengangkat kedua tangannya dengan nada bercanda. "Oke, kalau begitu, saya tidur di lantai aja. Kamu bisa tidur di tikar. Tapi kalau kedinginan, jangan salahkan saya, ya."

Angela menghela napas panjang, lalu bersandar pada dinding sambil melipat tangan di depan dada. Ia masih kesal, tapi tidak punya pilihan lain. Ronald, di sisi lain, hanya tersenyum tipis, diam-diam bersyukur Angela setidaknya mau tinggal bersamanya, meski dengan segunung protes.

Malam itu mungkin panjang bagi keduanya. Namun, di balik semua ketegangan dan perdebatan kecil, ada sesuatu yang perlahan-lahan tumbuh di antara mereka—kepercayaan yang mulai mengakar, meski masih tertutup lapisan tebal rasa curiga.

Lihat selengkapnya