“Aaaaaaaa!”
Pekikan melengking memecah pagi. Ronald tersentak bangun, matanya masih setengah terpejam. Dengan malas, ia duduk bersandar pada dinding, berusaha mencari tahu apa yang terjadi.
Di sudut kamar, Angela berdiri sambil menunjuknya dengan ekspresi panik. Jaraknya cukup jauh, seolah ada dinding tak kasatmata yang harus tetap dijaga.
“Ap-apa yang kamu lakuin semalam sama aku?! Badanku, badan ku ....” Angela meraba-raba dirinya, memeriksa setiap inci tubuhnya dengan cemas.
Ronald, alih-alih terlihat khawatir, justru tersenyum tipis.
“Kenapa kamu senyum-senyum?! Kamu beneran, ya, macam-macam semalam sama aku?! Ngaku! Udah ngapain aku, hah?!” Angela memelototinya dengan penuh kecurigaan, melangkah mendekat, tapi tetap berjaga.
Ronald menyandarkan kepala ke dinding, mencoba memasang ekspresi berpikir. “Hmm, apa, ya. Saya lupa. Tapi … sepertinya banyak.”
“IIIIIHHHH! Jahat kamu! Ngaku kamu!” Angela menyerang, kedua tangannya langsung mencekik leher Ronald dengan kekuatan yang cukup untuk membuat lelaki itu terbatuk-batuk.
“Eh, eh, eh! S-santai, dong! Santai!” Ronald segera menghindar, menarik tubuhnya menjauh dari cengkeraman Angela. Ia mengangkat kedua tangan, menunjukkan sikap menyerah. “Dengerin, deh. Tenang aja. Saya nggak ngapa-ngapain kamu, kok.”
Angela menatapnya tajam, matanya menyipit penuh kecurigaan. “Terus kenapa bangun-bangun kamu peluk aku, hah?! Kamu bilang nggak ngapa-ngapain aku? Buktinya jelas banget! Kalau aku hamil gimana, hah?!”
Ronald tak bisa menahan diri lagi. Ia tertawa terbahak-bahak, tubuhnya sampai berguncang. “Hamil? Kamu serius? Mana bisa kamu tiba-tiba hamil sementara saya nggak ngapa-ngapain kamu?”
Pipinya memerah mendengar kata-kata Ronald. Angela mengalihkan pandangannya, menolak menatap langsung ke arah lelaki itu. Suaranya berubah lebih kecil, hampir seperti bisikan, “Beneran, kan, kamu nggak ngapa-ngapain aku?”
Ronald terkekeh, mencoba menahan tawanya yang masih tersisa. “Ya iyalah. Saya mana mungkin berbuat macam-macam sama peliharaan saya sendiri.”
Angela mendadak menoleh, wajahnya menunjukkan keterkejutan bercampur kesal. “Peliharaan? Maksud kamu apa, hah?!”
Sambil meregangkan tubuh, Ronald memiringkan kepala. Ia menguap panjang, seperti tak peduli pada amarah Angela. Dengan santai, ia menjawab, “Lagi pula, yang macam-macam itu bukannya kamu sendiri?”
“Hah?! Aku macam-macam sama kamu?! Ngomong apaan kamu?!”
Ronald melirik Angela sekilas, senyumnya penuh arti. “Kamu tadi malam peluk saya, loh.”
Angela tercengang, kedua alisnya naik. “Apa?! Peluk kamu? Nggak mungkin!”
“Ya, mungkin kamu mengira saya guling. Kamu peluk saya erat banget. Makanya, saya sempat mikir, apa kamu nggak bisa tidur kalau nggak ada guling?” Ronald terkekeh kecil, melihat ekspresi Angela yang memerah karena malu bercampur kesal. “Tapi, ya, tidurnya lelap banget sih. Sampai saya nggak tega bangunin.”
Angela mendekap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menutupi rasa malu. Ia berbalik, tidak sanggup melihat Ronald yang kini cekikikan sendiri.
Ronald bangkit, menyambar jaketnya sebelum melangkah keluar menuju teras. Udara pagi yang segar menyambutnya, memberikan rasa tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, melepaskan tawa terakhirnya sambil bergumam, “Pagi ini seru juga.”
“Kamu mau mandi? Di sini ada kamar mandi, kok. Tinggal masuk ke lorong itu, nanti langsung ketemu,” ujar Ronald, menunjuk arah pintu yang dimaksud.
Angela hanya menunduk, tidak segera menanggapi. Dia berdiri diam di sebelah Ronald, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu.