“APA?! K-kamu kerja jadi tukang parkir?! Yang benar aja! Kok kamu mau, sih!”
Angela melongo, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Wajahnya memancarkan keterkejutan yang amat sangat, sementara Ronald hanya tersenyum kecil, getir tapi tulus.
“Nggak ada kerjaan lain apa? Kenapa harus jadi tukang parkir, sih? Kamu nggak malu apa?” lanjut Angela, kali ini nadanya terdengar lebih gusar.
Ronald menghela napas pelan, menatap Angela dengan pandangan yang tenang dan penuh arti. “Kalau malu, kita nggak akan bisa makan, Angela. Saya nggak punya ijazah atau CV. Mana ada perusahaan yang mau menerima saya tanpa itu.”
Angela tercekat. Kata-kata Ronald menohok kesadarannya. Ia membuang pandangan, matanya bergerak liar ke sembarang arah, seolah mencari jawaban lain yang bisa membantah logika Ronald. Namun, ia tahu, apa yang dikatakan lelaki itu benar.
Bahkan bisa makan sekali sehari saja sudah menjadi anugerah besar bagi mereka saat ini. Uang? Mereka hampir tidak punya. Dan Angela? Dia tidak mungkin meminta bantuan pada orang tuanya. Itu adalah hal terakhir di dunia yang akan dia lakukan, apa pun risikonya.
Setelah beberapa saat hening, Angela akhirnya mengembuskan napas panjang. Dengan suara lebih pelan, ia berkata, “Bener juga, sih, kata kamu. Hmm … ya udah, deh. Nggak apa-apa.”
Ronald terus menatap Angela dengan tatapan hangat, matanya menyelidik. Lalu, dengan nada menggoda, dia bertanya, “Emangnya kenapa kalau saya jadi tukang parkir? Itu kan nggak ada hubungannya sama kamu. Apa jangan-jangan …”
“Hah?! Iya juga, emang! Eh, jangan mikir yang aneh-aneh, deh, kamu!” Angela langsung memotong, suaranya meninggi. Wajahnya memerah karena malu. “Aku Cuma … ya, kasihan aja. Kamu sampai panas-panasan di luar, benerin posisi motor atau mobil orang. Itu aja.”
Ronald tak mampu menahan tawanya. Gelak tawa itu menggema di ruangan kecil mereka. “Baiklah, baiklah. Tapi ….” Dia mencondongkan tubuhnya pada Angela, matanya menatap langsung ke dalam mata gadis itu. “Sepertinya kamu mulai perhatian sama saya. Ya, ya, saya tahu kamu nggak akan ngaku, tapi saya bisa melihat di mata kamu, Angela. Ada kekhawatiran di sana.”
“Halah, apaan sih kamu!” Angela buru-buru mengalihkan pandangan, wajahnya semakin memerah. Ia tahu Ronald selalu pandai membaca perasaannya hanya dengan melihat tatapannya. Dan kali ini pun ia benar.
“Siapa juga yang perhatian sama kamu. Kepedean kamu udah level dewa, tahu nggak. Kayaknya nggak ada obatnya.” Angela mengomel, bibirnya mengerucut lucu.
Ronald menatapnya dengan senyum lebar, tak tahan melihat tingkah gadis itu yang menurutnya semakin menggemaskan. Dengan cepat, dia menjepit kedua pipi Angela dengan kedua tangannya, mencubit lembut hingga pipi gadis itu tampak seperti mochi kenyal.
“Yang penting kamu bisa makan. Itu aja udah cukup bikin saya senang dan puas.” Suara Ronald lebih lembut sekarang, tapi sarat dengan kehangatan yang tulus.
Angela terdiam. Matanya membulat sedikit, sebelum perlahan ia menunduk, menghindari tatapan Ronald yang terasa terlalu dalam. Di dadanya, ada sesuatu yang bergejolak—campuran rasa syukur, bingung, dan sesuatu yang belum bisa ia definisikan.
Dia tidak mengerti mengapa Ronald, seseorang yang baru saja hadir di hidupnya, rela melakukan ini semua. Rela bekerja sebagai tukang parkir demi memastikan dia tidak kelaparan. Dia bahkan tidak tahu alasan Ronald memperhatikannya sedemikian lembut.
“Kenapa, sih?” gumam Angela dalam hati. “Kenapa dia peduli banget sama aku? Aku ini siapa buat dia?”
Namun, alih-alih merasa keberatan, perhatian itu justru menghangatkan hatinya. Ronald, dengan caranya yang sederhana, terasa seperti mentari pagi yang perlahan mencairkan dinginnya embun yang selama ini membekukan hati Angela.
Mungkin, pikirnya, bukan soal seberapa lama seseorang hadir di hidupmu, tetapi seberapa dalam kehadirannya mampu menyentuh hatimu.