Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #18

Keinginan Diri Sendiri

"Kamu yakin mau ikut saya kerja? Di luar panas banget, lho," tanya Ronald sambil menatap Angela dengan raut serius.

Angela mengangkat bahu santai, lalu mengangguk. "Nggak apa-apa, aku yakin. Lagian, di kos aku nggak ada kerjaan. Mau ngapain juga? Mending ikut kamu, kan. Biar nggak bosan."

Mendengar jawaban itu, Ronald menghela napas dan mulai melangkah. Angela mengikuti di belakang, dengan langkah ringan, tapi sedikit tertinggal.

Ketika melewati sebuah toko alat musik, Angela tiba-tiba berhenti. Pandangannya tertuju ke kaca besar toko itu, menembus transparansi yang memamerkan beragam alat musik. Matanya tertambat pada sebuah biola mungil berwarna cokelat mengilap yang terpajang di tengah. Sesuatu di dalam dirinya seperti tergerak.

Ronald yang menyadari Angela tak lagi berada di belakangnya segera berhenti. Ia menoleh, lalu mendapati Angela berdiri diam, seolah terhipnotis oleh sesuatu di toko itu. Ronald pun menghampirinya dan berhenti tepat di sebelahnya.

"Kamu kangen main biola?" tanya Ronald, lembut dan penuh perhatian.

Angela menghela napas panjang, matanya tak beranjak dari biola yang dipandangnya. "Menurut kamu, apa orang tua aku bakal nyari aku?"

Ronald terdiam sejenak, menimbang jawabannya. "Mungkin."

Angela menoleh padanya, kening berkerut. "Kenapa cuma mungkin?"

Ronald bisa membaca kesedihan yang tersirat di wajah Angela. Dia tahu betul perempuan itu mungkin rindu rumah, tetapi rasa kecewa dan luka yang ada membuatnya tak punya alasan untuk kembali. Ronald menduga, jauh di dalam hati Angela ada kerinduan yang terpendam—bukan hanya pada biola itu, tapi juga pada kehidupan lamanya.

Angela memalingkan wajah, tatapannya kembali menatap biola di balik kaca. "Kalau aku pulang, aku nggak tahu apa yang bakal terjadi. Lagi pula, aku nggak bawa apa-apa waktu pergi. Nggak bawa dompet, ponsel, atau bahkan biola. Aku nggak siap."

Ronald menyadari kekosongan yang Angela rasakan. Sejak tinggal di kosnya, hari-hari perempuan itu terasa monoton. Dia sering terlihat termenung, meskipun Ronald selalu berusaha mencairkan suasana dengan candaan. Tapi ketika Ronald pergi bekerja, Angela benar-benar hanya sendirian.

"Kalau kamu punya alasan untuk pulang, saya nggak akan menahanmu," kata Ronald pelan, dengan nada yang terdengar tulus.

Angela menggeleng cepat. "Nggak. Aku nggak mau pulang. Aku cuma ... bosan aja kalau kamu pergi kerja."

Ronald menatap Angela, bibirnya membentuk senyum hangat. "Jadi, kamu mulai peduli sama saya, ya?" tanyanya dengan nada menggoda, kedua tangannya langsung terangkat untuk mencubit pipi Angela dengan gemas.

Angela terkesiap, pipinya merona. "Apaan, sih! Nggak, ah!" Ia menepis tangan Ronald sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan kegugupan yang merambat di wajahnya. Namun, dalam hati, dia tahu itu setengahnya benar.

Ronald tertawa kecil melihat reaksi Angela yang begitu lucu di matanya. "Nggak usah pura-pura, Angela. Saya tahu kok. Kamu itu sebenarnya perhatian sama saya. Nggak usah malu."

"Kepedean banget, deh, kamu!" Angela memalingkan wajah dengan ekspresi sebal yang disengaja. Tetapi hatinya tak mampu berbohong; ada kehangatan yang ia rasakan. Ronald mungkin menyebalkan dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, tetapi di saat yang sama, dia selalu berhasil membuat Angela merasa tidak sendirian.

“Se-sedikit, kok,” jawab Angela gugup, pipinya merona merah.

Ronald akhirnya melepaskan kedua tangannya dari pipi Angela. “Ayo, kita lanjut jalan.”

Angela mengangguk pelan dan mulai melangkah. Kali ini, Ronald memilih berjalan di belakangnya. Dalam diam, ia memperhatikan punggung Angela yang bergerak santai di depannya. Sebuah tekad tiba-tiba muncul di benaknya. Ronald ingin sekali memberikan sesuatu yang istimewa untuk Angela, sesuatu yang bisa membuat perempuan itu tersenyum lebar.

Lihat selengkapnya