Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #19

Bukan Gaun Mahal

Pahit manis telah mereka telan bersama, sepasang insan yang hidup berdua tanpa ikatan resmi. Sudah dua pekan berlalu sejak mereka berbagi segalanya—makan, minum, cerita, tawa, kesedihan, dan berbagai ironi lainnya. Apa yang mereka rasakan adalah kenyamanan yang sulit ditolak, meskipun tidak ada jaminan apa pun tentang masa depan mereka.

Angela, perlahan-lahan, mulai merasakan lebih banyak dari sekadar kebersamaan. Setiap gerakan Ronald, setiap langkahnya, setiap kata yang diucapkan, mulai menarik perhatian Angela lebih dari yang ia sadari. Matanya, seolah sebuah sorotan, mengikuti ke mana pun Ronald bergerak. Meskipun kadang keraguan menyusup, tapi setiap momen kebersamaan yang mereka bagi bisa mengusirnya, seolah diterbangkan angin.

Malam ini adalah malam ketujuh Ronald bekerja tanpa tidur bersama Angela. Dia telah mengambil pekerjaan tambahan, berharap bisa memberikan sesuatu yang bermakna bagi perempuan berambut setengah pirang itu. Ronald memahami arti pengorbanan dan perjuangan, dan lebih dari itu, dia tahu betul apa yang dia inginkan—untuk memberikan kasih yang nyata dan tulus untuk Angela.

Namun, saat itu, tangan Angela menggenggam erat lengan Ronald, menahan langkahnya. Wajah dan matanya seolah meminta agar dia tidak pergi malam ini. Ronald terdiam sejenak, menatap Angela dengan penuh perhatian.

“Ada apa, Angela?” tanya Ronald dengan senyuman lembut yang selalu dia tampilkan.

Angela menarik napas dalam-dalam, lalu dengan suara rendah, dia berkata, “Aku mohon … jangan pergi malam ini.”

Ronald, yang sebelumnya berniat untuk bekerja, mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda. Inilah pertama kalinya dia melihat Angela meminta dengan begitu tulus agar dia tetap tinggal. Wajah Angela, yang biasanya penuh keceriaan, kini dipenuhi kesedihan.

“Kenapa?” tanya Ronald, mencari tahu lebih dalam.

Angela menggeleng perlahan, tetapi tangannya tetap menggenggam lengan Ronald, semakin erat. “Aku … takut.”

Ronald menghela napas pelan, merenung sejenak. Dalam hati, dia menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada pekerjaan malam ini. Keputusan untuk tetap bersama Angela begitu kuat. “Oke, saya nggak akan pergi malam ini,” jawabnya akhirnya.

Angela merasa lega, seolah beban berat yang selama ini menekan dirinya sedikit terangkat. Ronald, dengan lembut, mengelus kepala Angela, memberikan ketenangan. “Kamu nggak akan sendirian lagi. Maafkan saya.”

Setelah beberapa saat dalam keheningan, Ronald teringat sesuatu yang baru saja dilakukannya beberapa hari lalu. Dia ingat betul saat membelikan Angela pakaian, karena perempuan itu hanya memiliki satu pakaian yang terus-menerus ia kenakan, pakaian kebesaran milik Ronald.

“Ah, tunggu sebentar. Saya baru ingat sesuatu.” Ronald berdiri dan berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan yang penuh dengan stiker bermacam-macam gambar dan tulisan. Suara plastik yang dia pegang terdengar jelas di tengah keheningan malam yang semakin larut.

“Itu apa?” Angela bertanya, penasaran.

Ronald membuka plastik itu, dan mengeluarkan sebuah pakaian dengan sedikit rasa canggung. “Ini pakaian buat kamu. Semoga kamu suka. Maaf, saya belum bisa membelikanmu yang mewah atau mahal.”

Angela tertegun. Matanya mulai terasa panas, dan perasaan haru perlahan mengisi dadanya. Tanpa dia sadari, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Apa ini? Mengapa rasa yang begitu kuat tiba-tiba merasuki dirinya?

Dengan cepat, Angela mengalihkan pandangannya, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Sebuah perasaan hangat mengalir di dalam dirinya, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—kehangatan yang datang dari perhatian dan kasih sayang yang begitu tulus dari Ronald.

Lihat selengkapnya