Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #20

Jangan Dengarkan Orang Bicara Tentang Kita

“Dapat berapa hari ini?” tanya Angela sambil mendekat, melihat Ronald yang sedang menghitung uang hasil parkir di depan minimarket.

“Seratus lebih. Lumayan buat makan dan jajan hari ini.” Ronald menjawab sambil terus menyusun tumpukan uang kertas dan koin.

Angela menatap Ronald dengan saksama. Dalam beberapa minggu terakhir, kulitnya tampak lebih gelap dan kusam. Sinar matahari yang tak kenal ampun telah mengubah penampilannya. Dahulu, kulit putihnya begitu bersih dan halus, tetapi kini terpapar panas mentari setiap hari. Angela merasa sedih memikirkan hal itu, meskipun dia tahu Ronald tak terlalu peduli dengan penampilannya. Baginya, yang terpenting adalah bisa makan dan bertahan hidup.

“Kenapa lihatin saya?” Ronald mengangkat sebelah alis, merasa ada yang berbeda dengan pandangan Angela.

Angela merasa salah tingkah. Wajahnya memerah, dan dia mulai mengernyitkan dahi, mengalihkan pandangan ke tempat lain. “Ng—nggak. Siapa juga yang lihatin kamu? Percaya diri banget.”

Senyum Ronald mengembang lebar. “Benarkah? Apa ada yang menarik dari saya dan kamu baru sadar sekarang?”

“Cih! Mana ada yang menarik dari kamu! Udah, sini duitnya, aku mau jajan,” jawab Angela dengan nada menggoda.

Ronald mengembuskan napas panjang, lalu menyerahkan uang-uang kertas lusuh dan beberapa koin recehan kepada Angela. Seperti biasa, dia mempercayakan wanita itu untuk mengatur dan menyimpan uangnya. Angela memang selalu menjadi bendahara pribadi Ronald, entah kenapa dia merasa nyaman mempercayakan semua itu pada Angela.

Namun, sebelum Angela sempat melangkah pergi, sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Ih, itu Angela, kan? Dia Angela teman kita satu kuliah dulu. Kok dia sama tukang parkir, ya? Mana penampilannya kayak gembel, lagi.”

Suara itu berasal dari dua perempuan yang sedang mengobrol di dekat situ. Mereka tampaknya tak sadar bahwa Angela mendengar percakapan mereka. Angela merasakan darahnya mendidih. Dia mengenali suara mereka—dua perempuan yang sering dia temui di kampus dulu.

Pipi Angela memerah, dan rasa marah mulai menggebu. Ronald pun melihat perubahan di wajah Angela, mengerti betul betapa perasaan sang perempuan terganggu. Namun, dia tak ingin Angela terlihat marah atau emosi di depan umum. Lebih baik dia yang menanggung beban itu, pikir Ronald. Dia tak ingin perempuan yang dia sayangi terpojok.

Dengan langkah mantap, Ronald bangkit berdiri dan menghampiri dua perempuan itu.

Tatapannya tajam, penuh kekuatan. Saat dia menatap mereka, seolah-olah dunia di sekitar mereka berhenti sejenak. “Hei, ada yang bisa saya bantu?” Suaranya mengalir dengan tenang, tetapi jelas dan tegas.

Perempuan-perempuan itu terpana, tak menyangka bahwa lelaki yang mereka anggap remeh—seorang tukang parkir dengan pakaian lusuh dan tampak seperti orang biasa—ternyata memiliki pesona yang sangat kuat. Wajah tampannya dan tatapannya yang begitu tajam membuat mereka terdiam, bahkan salah tingkah.

Ronald berdiri dengan sikap percaya diri yang memancar, jauh dari kesan seorang lelaki yang hanya bekerja sebagai tukang parkir. Dan di balik tatapan matanya yang menusuk, tersirat sebuah pesan yang jelas: Jangan pernah meremehkan seseorang hanya dari penampilannya.

Akhirnya, kedua perempuan itu tampak sangat salah tingkah. Salah satunya, yang berambut lurus dan dikucir, mencoba mengubah arah pembicaraan. “Oh, hmm, anu … ng-nggak ada,” jawabnya, agak tergagap.

“Katakan saja. Saya akan membantu kalian sebisa mungkin.” Ronald menjawab dengan tenang, tapi penuh percaya diri. “Oh, ya. Ngomong-ngomong, saya memang tukang parkir di sini. Dan … orang yang kalian bicarakan itu bos saya. Jadi, jangan salah paham, ya.” Ronald menutup kalimatnya dengan kedipan mata yang begitu santai, yang langsung membuat kedua perempuan itu ingin berteriak histeris.

Reaksi mereka langsung berubah. “Oh, hmm. Jadi, gitu. Kamu … tukang parkir di sini, ya? Apa kamu sedang sosial eksperimen atau semacamnya? Oh, aku tahu, kamu youtuber, kan?” Salah satu dari mereka bertanya dengan canggung.

Lihat selengkapnya