Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #21

Pelukan Paling Hangat

Untuk kesekian kalinya, Ronald berdiri di depan etalase toko musik, memandang biola yang selalu diinginkan Angela. Dia membayangkan betapa bahagia Angela jika alat musik itu bisa berada dalam pelukannya. Namun, kenyataan berkata lain. Harga biola itu, sekitar 2,5 juta rupiah, terlalu mahal untuk kondisi keuangannya saat ini.

Ronald menghela napas panjang, mencoba menerima kenyataan. Sekilas, pikirannya melayang ke masa lalu. Jika saja dia masih menjadi "Kobayashi," nama yang dulu melekat padanya, uang sebesar itu bahkan terasa seperti recehan. Tetapi Ronald segera menepis bayangan itu. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk meninggalkan kehidupan lamanya. Tidak ada ruang untuk penyesalan.

Dia percaya, dengan kerja keras, dia bisa memenuhi keinginan Angela. Tak ada yang lebih membahagiakannya selain melihat senyum Angela, yang menjadi alasan Ronald untuk terus berjuang. Dengan semangat itu, dia melanjutkan langkahnya, menuju pekerjaannya seperti biasa.

Namun, saat menyeberang jalan, matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tak asing. Seorang gadis berwajah oriental, bermata sipit, dan berkulit putih seperti dirinya. Ronald terpaku sejenak, tubuhnya tegang. Perasaan waspada langsung menyeruak di dadanya. Untuk menghindari gadis itu, dia dengan cepat memilih jalur berbeda. Dia tahu risiko bertemu dengannya—terlalu banyak kenangan yang berpotensi mengganggu pikirannya.

Menyusuri gang-gang sempit, Ronald terus menoleh ke belakang untuk memastikan gadis itu tidak mengikutinya. Dalam kekalutan itu, dia tidak menyadari seseorang berada tepat di hadapannya.

Bruk!

Ronald bertabrakan cukup keras hingga orang itu terjatuh. Dia segera mengangkat wajahnya untuk melihat siapa korbannya. “Angela?!” serunya kaget. Angela, dengan rambutnya yang sedikit berantakan, terduduk di atas paving blok.

“Ronald! Kalau jalan, pakai mata, dong!” keluh Angela, sambil mencoba bangkit. Namun, sebelum dia sempat berdiri, Ronald melihat luka di sikunya. Goresan kecil itu mengeluarkan darah tipis, cukup membuat Ronald merasa bersalah.

“Angela, tangan kamu berdarah! Maaf, aku nggak sengaja. Ini harus segera diobati,” katanya panik. Dia meraih tangan Angela dengan hati-hati, meniup luka itu seperti cara seorang anak kecil menghibur diri dari rasa perih.

Angela hanya mendengkus kecil. “Ronald, ini cuma luka kecil. Aku nggak apa-apa, kok.”

“Nggak bisa,” tegas Ronald. “Luka kecil pun bisa infeksi kalau nggak diobati. Ayo, kita beli obat merah dan kapas dulu.”

“Ronald, kamu kan harus kerja hari ini. Jangan sampai telat cuma gara-gara ini,” sahut Angela, meskipun dia akhirnya membiarkan Ronald menggandeng tangannya.

Ronald mengabaikan protes Angela. Baginya, luka sekecil apa pun pada Angela tidak boleh dianggap remeh, apalagi dia merasa bersalah karena ketidakhati-hatiannya tadi.

Mereka berjalan cepat menuju warung terdekat. Ronald tidak peduli dengan waktu kerja yang terbuang. Saat ini, hanya satu hal yang penting baginya: memastikan Angela baik-baik saja.

"Ya udah, deh, aku nyerah. Kamu emang nggak bisa dibilangin," keluh Angela, sambil mengangkat kedua tangannya menyerah. "Tetap aja ngotot mau ngobatin aku. Bukannya kamu jadi terlalu manja sama aku sekarang?"

Ronald berhenti melangkah. Tanpa berbalik badan, dia menjawab datar, "Peliharaan memang harus dimanja. Itu yang bikin mereka setia sama pemiliknya."

Angela membelalakkan mata, tidak percaya mendengar jawaban itu. "Terserah kamu, deh. Mau anggap aku peliharaan, mau anggap aku apa, yang penting aku dimanjain sama kamu."

Lihat selengkapnya