Bagi Angela, belakangan ini Ronald tampak berbeda. Dia sering melamun, bahkan kerap tidak mendengarkan apa yang sedang dibicarakan. Hal itu jelas membuat Angela terganggu karena Ronald biasanya selalu memperhatikan setiap kata yang diucapkannya. Meskipun keanehan itu sempat mereda beberapa hari lalu, kini perilaku aneh Ronald muncul lagi, kali ini dengan suasana yang sedikit berbeda.
“Ada apa, Angela?” tanya Ronald ketika menyadari Angela mengerucutkan bibir setelah menyantap seporsi Sate Rembiga di hadapannya.
“Tahu!” jawab Angela ketus sambil membuang pandangan ke arah lain.
Ronald hanya menghela napas kecil, lalu tanpa ragu mengangkat tangannya dan mencubit pipi kiri Angela dengan cukup keras.
“Aduh! Aduh! Sakit! Sakit, Ronald!” seru Angela sambil berusaha melepaskan tangan Ronald. Wajahnya semakin cemberut, kini lengkap dengan tangan yang bersilang di dada.
“Kenapa? Nggak mau ngaku?” Ronald tersenyum puas, meski Angela semakin menunjukkan wajah kesalnya.
“Kamu, sih!” balas Angela tajam.
“Saya? Kenapa saya?” Ronald mengangkat sebelah alis, pura-pura bingung.
“Kamu melamun terus, nggak dengerin aku ngomong dari tadi!” gerutu Angela, nadanya sedikit tinggi.
Ronald terdiam. Dia tahu Angela benar, dan mungkin inilah saatnya untuk berhenti menghindar. Sudah waktunya Angela tahu, pikirnya. Dia menarik napas panjang, menyiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang selama ini hanya disimpannya sendiri.
“Angela,” panggilnya dengan suara yang lebih dalam. “Saya akan cerita sesuatu. Tentang hal yang sangat saya takutkan dalam hidup ini.”
Angela berhenti memanyunkan bibirnya, matanya berbinar. Akhirnya, ini momen yang selama ini dia tunggu—Ronald yang biasanya menutup diri kini akan berbagi sesuatu. Dia duduk dengan lebih tegak, siap mendengar setiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu.
“Saya takut dengan masa lalu saya, Angela,” ujar Ronald dengan nada rendah. “Seseorang dari masa lalu yang nggak pernah saya harapkan kembali. Kalau orang itu muncul lagi dalam hidup saya, mungkin saya akan kehilangan segalanya. Kehilangan waktu saya bersamamu.”
Angela terkejut. Matanya menatap Ronald lekat-lekat, mencoba memahami lebih dalam maksud dari ucapannya.
“Saya takut kehilangan dirimu, Angela,” lanjut Ronald. “Kamu sangat berharga bagi saya.”
Kata-kata itu membuat Angela terpaku. Perasaan bahagia meluap-luap di dadanya, tapi ia berusaha tetap tenang. Berharga? pikirnya. Dia tak mengerti mengapa Ronald menganggapnya demikian.
“Tapi, kenapa kamu bilang aku berharga?” tanya Angela perlahan, nadanya nyaris seperti berbisik. “Kita nggak punya hubungan istimewa, Ronald. Aku cuma perempuan yang sering merepotkan kamu, jadi beban di hidup kamu.”
Ronald terkekeh kecil. Senyum tipis terlukis di wajahnya. “Kenapa kamu berpikir seperti itu? Kamu nggak ingat, kita pernah bertemu sebelumnya?”
Mata Angela membulat. Dia menatap Ronald dengan penuh keterkejutan. “Kita pernah bertemu sebelumnya?” ulangnya, bingung.
Ronald hanya mengangguk pelan. “Iya. Dan itu sudah lama sekali.”