Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #23

Ikatan Masa Lalu

Setelah Angela menghilang dari pandangannya, Ronald tetap berdiri di tempat, seolah waktu berhenti untuknya. Hatinya dipenuhi kekacauan, pikirannya berkecamuk. Semuanya menjadi berantakan sejak Hana Nakamura muncul begitu saja, menghancurkan malam yang semula damai. Ronald tidak pernah membayangkan gadis Jepang itu akan muncul kembali dalam hidupnya—setelah bertahun-tahun mereka kehilangan kontak.

Hana berdiri di belakangnya, diam dan tenang. Ronald tahu dia ada di sana, tetapi enggan berbalik. Entah karena rasa marah, kecewa, atau sekadar takut menghadapi kenyataan.

“Aku hanya datang untuk melihat bagaimana keadaanmu, Ronald-kun.”

Suara Hana lembut, seperti bisikan angin. Namun, bagi Ronald, suara itu justru menusuk, membangkitkan kenangan yang telah lama ia kubur.

Tidak ada respons darinya. Hana tetap tersenyum, mencoba mempertahankan ketenangan meski tatapan Ronald yang dingin menghantamnya keras.

“Apa aku merusak malammu dengan gadis itu? Aku minta maaf, Ronald-kun. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin menyapamu. Itu saja.”

Ronald tetap membisu. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal, seolah menahan segala emosi yang siap meledak kapan saja.

“Ayah bilang padaku kalau kamu sudah—”

“Saya bukan Ronald Kobayashi lagi,” potongnya tajam. Suaranya datar, tetapi sarat dengan amarah yang terpendam. “Saya bukan bagian dari keluarga Kobayashi. Saya hanya lelaki miskin yang nggak punya apa-apa. Pergilah, Hana. Saya nggak pernah mengharapkanmu kembali ke hidup saya.”

Kalimat itu seperti pedang yang menghunjam hati Hana. Tubuhnya sedikit bergetar, dan ia menunduk, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Tetapi senyumnya yang lemah tetap bertahan, meski hati yang rapuh sulit menyangga semua luka.

“Tidak apa-apa jika kamu tidak mengharapkan aku, Ronald-kun. Tapi, aku tidak ingin ikatan kita putus hanya karena kesalahan di masa lalu.”

Ronald tertawa kecil, sinis. “Memangnya apa yang bisa diharapkan dari sebuah masa lalu, Hana? Itu hanya kenangan yang sudah terkubur lama. Itu nggak berarti apa-apa bagi saya yang sekarang. Satu-satunya tujuan saya adalah bertahan hidup. Kamu bukan lagi bagian dari tujuan itu.”

Kata-kata itu menghantam Hana seperti badai. Namun, ia tetap berdiri di sana, berusaha untuk tidak roboh.

“Maaf, saya nggak mau menyakiti kamu lebih dari ini. Sebaiknya kamu katakan pada Ayah kalau saya nggak lagi mencintaimu.”

Ronald berbalik, bersiap melangkah pergi meninggalkan Hana dan semua kenangan pahit yang kembali menghantuinya. Tapi sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, Hana dengan cepat meraih lengannya, memohon dengan suara bergetar.

“Ronald-kun, tolong ... jangan pergi seperti ini.”

Ronald berhenti, tetapi tidak menoleh. Ia dapat merasakan genggaman Hana di lengannya, begitu erat, penuh dengan rasa sakit dan keputusasaan. Namun, ia tetap tak bergerak. Mereka sama-sama terjebak dalam luka yang tak terlihat, luka yang tak bisa sembuh dengan mudah.

Di dalam hati Ronald, hanya ada satu harapan yang terus berulang—Angela. Dia ingin Angela kembali tersenyum seperti sebelumnya, tanpa rasa sakit atau air mata. Itu saja sudah cukup baginya untuk bertahan. Tapi kini, semuanya terasa semakin jauh dari jangkauannya. Kehadiran Hana seperti tembok besar yang tak terelakkan, menghalangi semua harapannya untuk melangkah maju.

Dan di bawah langit malam yang hening, dua hati yang terluka terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, sementara masa depan terasa semakin sulit dijangkau.

Lihat selengkapnya