Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #24

Kedua Insan yang Tak Bisa Bersama

Tak menemukan Angela di rumah kos, Ronald bergegas keluar, langkahnya tak tentu arah. Ia tidak tahu harus mencarinya ke mana, tapi hatinya seakan menjadi penunjuk jalan, membimbingnya tanpa tujuan yang jelas. Saat ini, yang terpenting baginya adalah menemukan perempuan itu.

Meski Angela pernah berkata bahwa mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, Ronald tahu itu hanyalah ucapan yang terbungkus luka. Dua orang yang telah saling berbagi cerita, kesedihan, dan kehangatan di tempat yang sama pasti menyimpan sesuatu di hati mereka. Tidak butuh alasan untuk merasakan kasih, karena perasaan itu tumbuh dengan sendirinya—seperti bunga liar yang mekar tanpa diundang.

Langkah Ronald terus melaju, meski lelah mulai terasa di setiap jejak yang ia tinggalkan. Namun, Angela tetap tak terlihat. Ke mana dia pergi? Bukankah dia tidak memiliki tempat lain untuk pulang? Bukankah dia sedang mencari "rumah"—bukan sekadar bangunan, tapi seseorang yang mampu menahan hatinya untuk tetap tinggal, meski hanya sedetik?

Di tengah keputusasaan, Ronald tiba di sebuah taman. Udara dingin malam menyelimutinya, tapi ia tetap melangkah. Matanya menangkap sosok perempuan yang duduk di bangku taman, rambutnya tergerai, berkilauan samar di bawah lampu taman. Ronald mengenali sosok itu seketika—Angela.

Tanpa berpikir panjang, ia mendekat dan duduk di sampingnya. Angela tetap diam, tatapannya lurus ke depan. Meski tak menoleh, ia tahu siapa yang kini duduk di sebelahnya. Kehadiran Ronald terlalu akrab untuk diabaikan, meski hatinya masih diselimuti luka.

Hening menyelimuti keduanya hingga Ronald memecah keheningan dengan suara pelan dan berat. “Saya sebenarnya nggak mau mengakui diri sendiri,” katanya, lebih seperti berbicara pada angin daripada Angela. “Saya selalu menghindar dari kenyataan, Angela. Dan saya benci diri saya karena itu.”

Angela tetap diam, tapi Ronald tahu ia mendengarkan. Maka ia melanjutkan, meski suaranya kini sedikit bergetar. “Saya pernah bilang kalau hidup kita mirip. Tapi, saya nggak pernah cerita semuanya karena saya takut kamu akan membenci saya kalau kamu tahu siapa saya sebenarnya.”

Angela sedikit menoleh, matanya memandang Ronald dengan sorot penuh pertanyaan. Ronald menelan ludah, lalu melanjutkan, “Saya merasa nyaman menjadi seseorang yang miskin dan nggak punya apa-apa. Karena dengan begitu, saya bisa menjauh dari hubungan-hubungan palsu. Orang-orang yang dulu ada di sekitar saya hanya peduli pada uang saya, pada apa yang bisa saya berikan. Mereka nggak peduli siapa saya sebenarnya.”

Suara Ronald semakin serak, tapi ia terus berbicara. “Saya selalu bertanya-tanya, Angela … apa di dunia ini ada hubungan yang benar-benar nyata? Di mana orang bisa saling tersenyum tulus, tanpa alasan seperti uang atau keuntungan? Saya lelah dengan semua itu. Lelah merasa seperti barang yang hanya berguna saat dibutuhkan.”

Angela mengerutkan kening, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ronald. Apa yang sebenarnya ia coba sampaikan? Apakah ini tentang dirinya? Tentang masa lalunya? Ataukah ini pengakuan dari luka terdalam yang selama ini Ronald simpan rapat-rapat?

Meski belum sepenuhnya memahami, Angela tahu satu hal: lelaki di sebelahnya ini sedang membuka hati, mencoba menunjukkan sisi yang selama ini ia sembunyikan. Dan itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

“Dari awal, saya nggak pernah memandang kamu dari siapa kamu dan anak siapa kamu. Saya cuma ingin seseorang yang bisa melihat saya apa adanya,” ujar Ronald, suaranya pelan tapi penuh perasaan. “Dan saya ingin kita bisa saling berbagi, saling tersenyum tanpa ada batasan. Itulah kebebasan yang selama ini saya cari. Saya pikir, apa yang kamu cari, Angela, adalah hal yang sama. Dan akhirnya, saya menemukanmu. Seseorang yang tulus dan selalu berkata jujur.”

Angela terdiam sejenak, seolah mencerna kata-kata itu. Meski berat, akhirnya ia membuka mulut. “Itu nggak menjelaskan semua yang terjadi hari ini. Aku nggak membenci kamu, Ronald. Aku cuma benci diri aku sendiri, yang nggak mengerti dengan semua perasaan ini. Aku sama sekali nggak mengerti.”

Angela menahan air mata yang sudah kembali menggenang. Ia merasa seperti ada yang hilang, tapi tidak tahu apa itu. “Bagi aku, kamu yang cowok miskin, yang nggak punya apa-apa, tiba-tiba membuat aku iri dengan segala usaha yang kamu lakukan. Dan perlahan-lahan, aku merasakan hal yang sama sekali nggak bisa aku pahami.”

Ronald menarik napas dalam-dalam, seolah ingin menenangkan dirinya sendiri sebelum melanjutkan. “Angela Prastisia, putri seorang pemilik perusahaan advertising,” katanya perlahan, seolah mengeluarkan kata-kata itu dengan hati-hati. “Saya tahu kamu nggak ingin disebut begitu, dan saya pun begitu.”

Lihat selengkapnya