Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #25

Atas Nama Cinta

Dari balik kaca transparan toko musik, Ronald menatap biola yang dipajang di etalase, mata terfokus pada alat musik yang begitu diinginkan Angela. Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Ia menoleh, dan di sana berdiri sosok gadis bertubuh mungil dengan tatapan yang tajam—Hana Nakamura.

“Biola itu buat siapa, Ronald-kun?” tanya Hana dengan nada yang tidak bisa dibilang santai.

Ronald mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba menghindari tatapan gadis itu. “Bukan urusanmu, Hana,” jawabnya singkat, berusaha menenangkan diri.

Ia segera melangkah pergi, mengenakan tudung sweter hitam yang menutupi kepalanya, berharap bisa menghindari pertemuan ini. Namun, Hana tidak menyerah begitu saja. Dengan langkah cepat, dia mengikuti Ronald, menyamakan kecepatan, dan akhirnya menghentikan langkahnya.

“Ada apa lagi?” Ronald bertanya, kesal.

Hana mengacungkan sebuah kartu kredit berwarna emas, tersenyum tipis, tapi ada sedikit keputusasaan dalam raut wajahnya. “Pakailah ini. Mungkin jumlahnya tidak banyak, tapi pasti cukup untuk membeli biola yang kamu inginkan di toko tadi.”

Rahang Ronald mengeras mendengar kalimat itu. Seolah-olah Hana sedang merendahkan harga dirinya. “Dengar, saya nggak pernah mengemis padamu, dan nggak akan pernah menerima apa pun darimu!” tegasnya, menatap tajam ke arah Hana.

Hana hanya menghela napas pelan, senyum tipis di wajahnya tetap terlihat, meskipun tatapannya menunjukkan keputusasaan. Niatnya hanya ingin membantu Ronald, yang ia tahu sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Namun, dia sadar betul bahwa masa lalu mereka yang kelam masih menghantui Ronald, membentuk rasa kebencian yang mendalam.

Keduanya terdiam sejenak, lalu akhirnya Hana menundukkan kepalanya, menyerah.

“Jangan ikuti saya lagi kalau kamu masih ingin bisa bicara dengan saya,” ujar Ronald dengan nada penuh ancaman sebelum melangkah pergi, meninggalkan Hana yang terdiam di tempat.

Meski sudah diperingatkan berkali-kali, Hana tetap tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya. Tanpa sepengetahuan Ronald, dia diam-diam mengikutinya, bahkan ketika Ronald sedang bekerja. Hana sengaja masuk ke minimarket, membeli barang-barang yang sama sekali tidak dibutuhkannya, hanya untuk berada di dekatnya.

Apa yang sebenarnya Hana cari? Bukankah cinta mereka sudah lama padam, tenggelam dalam lautan amarah dan rasa sakit yang tak terucapkan?

Namun, bagi Hana, Ronald tetaplah cinta pertama yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Dulu, ketika mereka masih di sekolah, Ronald selalu ada untuknya, mengisi hari-harinya yang penuh dengan kebahagiaan dan tawa.

Suatu sore, saat Ronald terlihat kelelahan, berkeringat karena terik matahari yang menyengat dan pekerjaannya yang melelahkan, Hana merasa terpanggil untuk mendekat. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebotol air mineral dingin, lalu memberikannya pada Ronald.

Onegai. Terimalah ini. Setidaknya kamu bisa meredakan dahaga,” katanya pelan, tapi penuh harap.

Ronald kembali mengalihkan pandangannya, menahan emosi yang mulai menguasai dirinya. Ia kembali bekerja, mencoba mengatur kendaraan yang diparkir sembarangan, meskipun itu semakin membuatnya frustrasi. Hari-harinya semakin kacau, dan pekerjaannya semakin berat. Semua itu terasa semakin menekan, dan Ronald mulai merasa muak dengan segalanya.

Lihat selengkapnya