Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #26

Patah Hati Terhebat

Tiada kata menyerah dalam kamus pribadi Ronald. Apa pun yang menghadang, dia tetap bertekad melawan arus yang mungkin saja menyeretnya. Meskipun gagal mengejar mobil yang membawa Angela, dia tidak akan berhenti. Hatinya dipenuhi tekad yang kuat, dan kegagalan itu justru membakar semangatnya untuk mencoba lagi.

Kembali ke rumah kos, Ronald segera menemui Rendi, teman dekatnya. “Rendi, saya pinjam motormu sebentar,” katanya, suaranya penuh kegentingan. Tanpa membuang waktu, dia langsung menghidupkan mesin motor, tampak jelas bahwa Ronald sangat terburu-buru.

“Loh, mau ke mana kamu? Buru-buru banget,” tanya Rendi dengan sedikit keheranan.

“Nggak usah banyak tanya. Saya lagi memperjuangkan sesuatu demi masa depan saya,” jawab Ronald, sedikit terburu-buru.

Rendi hanya tersenyum, sedikit bingung, tapi akhirnya mengangguk. “Ya, udah. Sana pakai motornya.”

Ronald memberikan senyum tipis pada Rendi, lalu tanpa basa-basi, dia langsung memutar gas motor dan melaju cepat menuju rumah Angela. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah melepaskan Angela. Wanita itu terlalu penting baginya, lebih dari apa pun yang ada di hidupnya. Bahkan, rasa sakit yang ditinggalkan Hana Nakamura tak sebanding dengan kehilangan Angela. Cinta Ronald untuk Angela jauh lebih besar dan lebih dalam.

Mungkin akan terlihat cengeng jika seorang pria menangis, tetapi bagi Ronald, itu adalah hal yang wajar. Siapa yang tak akan bersedih jika orang yang sangat dicintainya tidak bisa menemaninya, bahkan di satu momen pun?

Dengan sepeda motor, Ronald melaju kencang, menambah kecepatan, dan hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk tiba di rumah Angela. Tanpa basa-basi, dia langsung menuju gerbang besi rumah besar yang bercat biru langit. Tak peduli apakah dia akan terlihat kasar atau tidak, yang penting Angela harus mendengarnya.

Dengan kekuatan yang cukup, Ronald mendepak-depak pintu gerbang dengan keras. Kebisingan itu membuat satpam yang berjaga keluar, wajahnya terlihat marah.

“Woi! Woi! Ada apa ini?!” teriak satpam, tubuhnya besar dan berotot. Namun, Ronald tak kalah tinggi dan kuat darinya.

“Mana Angela?!” Ronald berteriak, suaranya sengaja diperkeras agar Angela bisa mendengarnya dari dalam.

“Kamu siapa tiba-tiba bikin keonaran di sini, haaahh?!” Satpam itu membentak.

Ronald hanya mengangkat satu sudut bibir, sedikit tersenyum sinis. “Nggak penting siapa saya. Yang penting, mana Angela?! Biarkan saya masuk!” jawabnya tegas.

Ketegangan semakin meningkat. Satpam yang awalnya tak berniat membuka gerbang mulai tersulut emosi. Semakin lama pintu gerbang tak juga terbuka, semakin besar pula tenaga yang dikeluarkan Ronald. Tangan Ronald semakin keras membenturkan pintu gerbang, menciptakan kebisingan yang akhirnya memaksa kedua orang tua Angela keluar, terlihat terkejut dan bingung dengan situasi yang terjadi.

“Hei! Berani-beraninya kamu datang ke sini! Apa lagi yang kamu cari?! Gara-gara kamu, Angela jadi gadis nakal dan suka membangkang pada orang tuanya! Pergi dari sini!” bentak Subroto, ayah Angela, suaranya penuh amarah.

Lihat selengkapnya