Sebenarnya Ronald tidak ingin diganggu siapa pun malam itu. Rasa lelah yang membebaninya begitu berat, dan ia hanya ingin menyendiri, meresapi luka-luka yang menganga di hatinya. Namun, ketika matanya melihat Hana Nakamura yang duduk di teras, hujan deras mengguyur tubuh kecil gadis itu, ia tidak tega mengusirnya. Ada perasaan kasihan yang muncul di tengah dinginnya malam. Ronald, meski sering kali sinis dan kasar dalam ucapannya, tak pernah sampai hati untuk melakukan sesuatu yang lebih kejam dari itu.
Tanpa berkata banyak, Ronald membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah kos. Ia berharap Hana mengerti dan pergi dengan sendirinya. Namun, ketika ia mengintip lagi dari balik jendela, Hana masih di sana, memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan. Embusan napas gusar keluar dari bibir Ronald. Kebingungan melanda dirinya—ia terlalu lelah untuk peduli, tetapi terlalu manusiawi untuk mengabaikannya.
“Masuklah,” kata Ronald akhirnya, suaranya datar, tapi tegas. “Di luar dingin. Kalau kamu sampai sakit, saya yang akan disalahkan orang tuamu.”
Hana mengangkat wajahnya, senyum kecil muncul di sudut bibirnya, meski ia berusaha menyembunyikan rasa bahagia itu. Tanpa banyak kata, ia menerima ajakan Ronald dan melangkah masuk, duduk bersandar pada dinding ruang tamu.
Sementara itu, Ronald hanya ingin rebah dan menutup mata, berharap esok hari akan membawakan sedikit kedamaian. Namun, meski tubuhnya terbaring, pikirannya tetap sibuk, tak tenang. Ia tahu Hana ada di sana, dan ia tak bisa sepenuhnya mengabaikan kehadirannya.
“Hampa,” bisik Hana tiba-tiba, suaranya nyaris tenggelam dalam suara hujan yang terus mengguyur atap. Matanya menatap Ronald sesekali, seolah berusaha memahami isi hati lelaki itu.
Ronald hanya diam, pupil kuningnya memandang kosong ke langit-langit yang mulai lembap oleh rembesan air. Beberapa tetesan membentuk alur tipis di dinding, seperti anak sungai kecil. Hampa. Ya, kata itu tepat menggambarkan apa yang ia rasakan sekarang—seperti sebuah ruang besar yang kehilangan cahayanya.
“Hujannya lebat sekali,” kata Hana, mencoba memecah keheningan. Ia hanya ingin keberadaannya terasa sedikit berarti, meski ia tahu Ronald mungkin tidak akan merespons. Dia mengatakan hal yang paling acak, hanya untuk melihat apakah lelaki itu akan sedikit terbuka.
Namun, Ronald tetap bungkam. Di pikirannya, hanya ada Angela. Senyumnya, tangisnya, dan pandangan sendunya dari balik jendela tadi. Semua itu memutar seperti film usang yang terus mengisi layar benaknya, tak memberi ruang untuk hal lain.
“Dingin sekali, ya,” tambah Hana, suaranya kini sedikit bergetar. Ia memeluk lututnya, mencoba menghangatkan diri. Namun, bukan dingin fisik yang benar-benar dirasakannya, melainkan dingin emosional yang memancar dari Ronald.
Ronald tetap membisu, membaringkan tubuhnya kembali. Di matanya, langit-langit yang menghitam oleh rembesan air menjadi cerminan perasaannya sendiri—gelap, lembap, dan rapuh. Tetesan air itu seperti melambangkan air matanya sendiri, meski ia terlalu keras kepala untuk membiarkan bulir itu jatuh di pipinya.
Hana menatap Ronald dalam-dalam. Ia melihat lelaki itu sekarang sama seperti saat pertama kali ia mengenalnya—seorang yang selalu menyembunyikan luka di balik sikap dinginnya. Kala itu, mereka pernah terlibat dalam perdebatan hebat, sesuatu yang Hana sesali hingga hari ini. Ia tahu ia tidak bisa menghentikan luka yang terjadi pada Ronald, baik di masa lalu maupun yang sekarang. Dan itu, bagi Hana, adalah rasa sakit terbesarnya—ketidakmampuan untuk membantu seseorang yang ia cintai.
Hana menggigit bibirnya, menahan gejolak yang muncul di dalam dirinya. Ia merasa tak berdaya, hanya bisa menyaksikan Ronald yang tenggelam dalam pergulatan batinnya sendiri, kalah oleh keadaan. Di antara suara hujan dan keheningan mereka, Hana hanya berharap ia bisa melakukan sesuatu—apa saja—untuk membawa Ronald keluar dari kegelapan ini.
“Kamu sangat gigih, ya, Ronald-kun,” ucap Hana tiba-tiba, suaranya lembut dan penuh makna. “Dengan hidup yang serba terbatas seperti ini, kamu tetap tidak menyerah. Kalau orang lain tahu siapa Ronald-kun sebenarnya, mereka pasti akan menganggapmu luar biasa. Tapi sayangnya, jadi diri sendiri dengan segala keterbatasan ini, justru lebih banyak orang yang meremehkan.”
Ronald mengernyit mendengar kata-kata itu. Apa yang sebenarnya Hana coba sampaikan? Lelaki itu tidak ingin diganggu dengan obrolan apa pun, apalagi tentang dirinya. Yang ia inginkan hanyalah kepergian Hana, tapi hujan tampaknya bersekongkol melawan keinginannya. Semakin deras, membuat gadis itu punya alasan untuk tetap berada di sisinya.