Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #28

What the Hell?!

“Saya hanya punya Pop Mie untuk sarapan. Nggak ada yang lain,” ucap Ronald datar sambil membuka bungkus mi instan.

Hana hanya mengangguk kecil, tetapi senyum lembut mengembang di wajahnya. “Hmm, tidak apa-apa. Saya biasa makan ramen. Ini sama saja, kok.”

Ronald tak berkata apa-apa lagi. Dia segera menyiapkan dua Pop Mie untuk mereka. Hujan semalam belum juga reda. Rintik kecil masih jatuh tanpa henti, membawa hawa dingin yang menusuk. Tidak ada pilihan lain bagi Ronald selain membiarkan Hana tinggal sementara waktu, meski kehadirannya mengganggu.

“Ronald-kun,” panggil Hana dengan suara pelan, hampir berbisik. “Arigatou … u-untuk yang semalam.”

Ronald mengangguk singkat, tatapannya tetap pada mi yang sedang diseduh.

“Tapi, kenapa akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan saya, Ronald-kun?”

Ronald mendesah. “Bukan apa-apa. Saya rasa dendam nggak akan menyelesaikan masalah. Itu aja, nggak ada alasan khusus.”

Meski permintaan maaf telah diterima, suasana di antara mereka masih kaku. Kata-kata seakan tersangkut di udara, menciptakan keheningan yang sulit dipatahkan.

Hana memberanikan diri untuk berbicara lagi. “Saya tidak mau kamu menanggung semua penderitaan ini sendirian, Ronald-kun. Kamu tahu, Ayah akan melakukan apa saja untuk membawamu kembali. Saat ini, dia masih memberikanmu kesempatan untuk berpikir.”

Ronald mendengkus pelan, mengeluarkan rasa jengahnya. Pembahasan itu jelas tidak menarik baginya, tapi mungkin Hana hanya ingin memastikan tekadnya.

“Saya sudah memutuskan sejak lama untuk mengambil risiko ini. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau dia memang ingin melakukan sesuatu untuk membawa saya kembali jadi bagian keluarga Kobayashi, silakan saja. Saya nggak peduli. Saya nggak pernah takut.”

Hana menarik napas dalam, berat, seolah-olah ada beban besar yang menyesakkan dadanya. Kekhawatirannya jauh lebih dari sekadar ancaman sederhana.

“Yakuza …,” bisiknya nyaris tak terdengar.

Ronald tertawa kecil, nyaris mengejek. “Ada apa dengan yakuza? Ya, saya tahu tua bangka itu punya hubungan dengan kelompok itu. Tapi, apa saya takut? Nggak, Hana. Bahkan kalau harus mati pun, saya nggak akan tetap pada pendirian saya.”

Matanya yang tajam menatap langsung ke arah Hana. “Sekali saja, pahamilah saya. Kenapa, sejak dulu, kamu begitu keras menentang apa pun yang saya lakukan? Kenapa kamu nggak pernah benar-benar mendukung saya?”

Hana menggigit bibir bawahnya, menahan emosi yang sulit dijelaskan. “Sangat berat, Ronald-kun. Melihatmu hidup seperti ini … membuat saya tidak nyaman. Saya hanya ingin menyelamatkanmu. Kalau saja saya bisa.”

Ronald berdiri sambil membawa dua Pop Mie di tangannya, lalu menyerahkan satu ke Hana. “Makanlah selagi hangat. Jangan berpikir macam-macam.”

Hana menerimanya dengan kedua tangan, perlahan membuka tutupnya. Aroma gurih menyeruak, memenuhi ruang kecil di antara mereka. Ia meniup mi panas itu beberapa kali sebelum menyantapnya.

“Ini enak kalau masih hangat,” ujar Ronald, lebih seperti pernyataan daripada anjuran.

Hana mulai makan, menyuap mi perlahan. Ronald pun hendak melakukan hal yang sama, tetapi suara lirih yang familier menghentikan gerakannya. Tangis.

Ia menoleh. Gadis itu menunduk, bahunya sedikit bergetar. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi ujung rambut panjang yang terurai.

“Kenapa menangis lagi?” tanya Ronald, kali ini suaranya terdengar lebih lembut, tanpa nada jengkel seperti sebelumnya.

Lihat selengkapnya