Ronald menyodorkan selembar kertas persegi ke depan Darius, matanya tajam menatap pria berjanggut tipis itu. “Siapa bocah perempuan yang ada di foto ini, Darius?” tanyanya tegas.
Darius mengambil foto tersebut dengan ragu, menatapnya lamat-lamat. Di sana, tergambar Ronald kecil bersama seorang gadis kecil berambut dikepang. Wajah gadis itu memancarkan kesedihan, dan itu membuat Darius tampak gelisah.
“Jelaskan pada saya,” desak Ronald, suaranya semakin dalam. “Kamu sudah bekerja dengan keluarga Kobayashi selama bertahun-tahun. Kamu pasti tahu siapa dia. Dan jangan bilang itu Hana Nakamura, karena saya tahu persis seperti apa dia waktu kecil.”
Darius menghela napas panjang, matanya menatap foto itu sekali lagi, seolah mencari kata-kata yang tepat. Tetapi jelas dari raut wajahnya, ada sesuatu yang ia sembunyikan.
“Ada apa?” Ronald mendekat, nadanya penuh kecurigaan. “Kamu tahu siapa dia, kan?”
Darius membuka mulut, tetapi suaranya nyaris tak terdengar. “Tuan ... sebaiknya Tuan tidak perlu tahu siapa gadis itu.”
Dahi Ronald berkerut. “Kenapa?”
“Ini ... ini bukan sesuatu yang berhak saya ceritakan. Hanya ayah Tuan yang punya hak untuk menceritakannya. Saya tidak ingin semuanya menjadi lebih rumit.”
Ronald menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya. Dalam hati, ia semakin yakin bahwa gadis di foto itu bukan Hana Nakamura. Ia mengenal Hana sejak kecil, dan gadis di foto itu sama sekali tidak menyerupainya. Tapi kalau bukan Hana, siapa?
“Oke,” ucap Ronald, nadanya lebih terkendali. “Satu pertanyaan lagi, Darius. Apa saya pernah pergi ke Indonesia waktu kecil?”
Darius terlihat ragu untuk menjawab. Wajahnya menegang, tetapi setelah beberapa saat, ia hanya memberikan anggukan kecil.
“Itu saja sudah cukup menjawab dugaan saya,” gumam Ronald. Ia kembali menatap foto itu. “Saya ingin tahu lebih banyak tentang masa kecil saya, Darius. Saya nggak ingat apa pun. Tapi foto ini, bersama mimpi-mimpi yang terus berulang, membuat saya ingin memahami segalanya.”
Darius tetap diam, pandangannya seolah menghindari Ronald. Namun, sikap bungkamnya justru memperkuat keyakinan Ronald bahwa ada rahasia besar yang disembunyikan.
“Kamu nggak mengerti, Darius.” Ronald melanjutkan, suaranya semakin tajam. “Foto ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah kunci. Saya yakin Ayah membungkam kamu. Saya benar, kan?”
Darius tersentak, wajahnya menegang. Namun, ia tetap memilih untuk tidak berkata apa-apa.
“Kenapa kamu terus bungkam?” Ronald bertanya lagi, suaranya penuh tekanan. “Apa Ayah takut saya tahu sesuatu yang seharusnya nggak saya ketahui?”
Darius menghela napas berat. “Maaf, Tuan. Kalau saya boleh memberi saran, sebaiknya Tuan berhenti mencari tahu tentang gadis di foto itu.”
Ronald menatapnya tajam. “Bodoh. Kenapa saya harus berhenti? Lagi pula, saya sudah sering bertemu dengannya. Saya bahkan pernah tinggal bersamanya cukup lama.”
Mata Darius membelalak kaget. “Tuan ... T-Tuan pernah tinggal bersamanya?”
Ekspresi Darius berubah drastis. Kekhawatirannya kini begitu jelas tergambar. Ia seperti seseorang yang baru saja mendengar kabar buruk yang tak terduga.