Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #30

Makrame

Dengan semua hubungan yang rumit dan membingungkan, Ronald semakin yakin bahwa ia tidak bisa berhenti mencari tahu siapa sebenarnya tiga anak dalam foto itu. Potongan kenangan yang tampak seperti teka-teki tak lengkap terus menghantuinya. Ketika Hana Nakamura memperlihatkan bagian fotonya beberapa waktu lalu, Ronald menyadari satu hal penting—masih ada satu potongan yang hilang. Mungkin potongan itu berada pada gadis yang terlihat menangis dalam foto tersebut.

Dugaan Ronald terus mengarah pada Angela Prastisia. Sejak awal, ia tidak pernah melihat Angela sebagai orang asing yang baru pertama kali ditemui. Ada sesuatu yang familier tentangnya, sesuatu yang sulit dijelaskan. Ronald merasa ada simpul tak kasatmata yang menghubungkan mereka, meski dirinya belum tahu apa yang sebenarnya mengikat mereka bertiga di masa lalu.

Berulang kali Ronald mengembuskan napas panjang. Kepalanya penuh dengan pertanyaan yang terus berputar, meresahkan setiap langkahnya. Sungguh melelahkan menjalani hari-hari dengan perasaan terganggu seperti ini.

Malam itu, Hana Nakamura kembali mendatangi rumah kos Ronald.

"Kenapa kamu datang lagi ke sini? Bukannya saya sudah bilang, jangan sering-sering ke tempat ini," gerutu Ronald saat melihat Hana berdiri di depan pintu.

Namun, gadis bermata sipit itu tetap tenang seperti biasa. "Ronald-kun, saya juga ingin tahu tentang masa kecil saya yang hilang."

Ronald terdiam sejenak, menatap gadis itu dengan tatapan lelah sebelum akhirnya berbalik masuk ke dalam rumah. Percuma melarang Hana datang. Gadis itu selalu punya cara untuk tetap berada di dekatnya.

"Saya bawa kue untukmu," ujar Hana sambil mengangkat kotak kue yang dibawanya.

Ronald menerima kotak itu tanpa berkata apa-apa. Sebuah senyum kecil tersungging di wajahnya saat ia membuka penutup kotak dan melihat kue kering di dalamnya. "Terima kasih."

Namun, momen santai itu terganggu oleh ketukan di pintu kos. Suara ketukan itu membuat Ronald langsung menoleh, menatap Hana dengan penuh kewaspadaan.

"Kamu diikuti, ya?" tanyanya pelan. Dugaan itu langsung terlintas di kepalanya. Jika ada yang paling mungkin mengikuti Hana, itu pasti Takeda Kobayashi—ayahnya.

Hana hendak berdiri untuk membuka pintu, tetapi Ronald dengan cepat menghentikannya. Ia membekap mulut gadis itu dengan lembut, lalu berbisik, "Diam."

Dengan napas tertahan, Ronald berjalan perlahan ke arah pintu. Pikirannya berkecamuk. Siapa yang datang malam-malam seperti ini selain Hana Nakamura? Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Tidak ada celah di pintu untuk mengintip siapa yang ada di luar, dan itu membuat situasi semakin tegang. Pilihan satu-satunya adalah membuka pintu dengan kesiapan penuh. Ronald tahu, jika sesuatu yang buruk terjadi, ia harus mengandalkan refleksnya.

Ronald berdiri di sisi pintu, menarik napas panjang, lalu dengan perlahan membuka pintu tersebut. Saat pintu terbuka, ia bersiap untuk segala kemungkinan.

Namun, yang terjadi justru membuat Ronald tertegun. Matanya membelalak, dan di sana, berdiri sosok yang tak pernah ia duga. Seketika, kerinduan yang lama terpendam seolah menemukan jalan untuk keluar. Hatinya terasa hangat, seperti burung yang terbang bebas di pagi buta.

"Angela ...?" bisik Ronald, suaranya hampir tak terdengar.

"Angela Prastisia."

Pada awalnya, Angela terlihat ceria, wajahnya penuh semangat saat bertemu Ronald. Namun, saat pandangannya beralih ke Hana Nakamura, ekspresinya berubah seketika. Seperti tersengat aliran listrik, tubuhnya membeku, dan kesedihan mulai merayapi wajahnya.

Ronald cepat menyadari perubahan itu. "Ah, maaf. Saya bisa jelaskan semuanya," ujarnya, berusaha meredakan ketegangan yang mulai menguar di antara mereka.

Lihat selengkapnya