Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #31

Masa Kecil yang Hilang

Dahi Angela berkerut, kebingungannya semakin jelas. “Dia ngomong apaan, sih?! Nggak ngerti aku,” gumamnya setelah mendengar Hana Nakamura menggunakan ungkapan dalam bahasa Jepang.

Ronald terkikik pelan. “Cari tahu saja sendiri.”

“Gimana sih, ngeselin!” Angela seketika memukul kepala Ronald dengan bow biola yang ia pegang, membuat Ronald tersenyum lebar.

“Saya ingat sesuatu,” kata Ronald, mengubah topik.

Angela menatapnya heran. “Apaan, sih, yang kamu ingat? Aku nggak ngerti, deh.”

Ronald menghela napas panjang, lalu dengan hati-hati memberikan dua potong kertas yang disatukan menjadi sebuah foto. “Lihat foto ini, Angela.”

Segera, Angela duduk dengan mata membelalak. Melihat ekspresinya yang berubah drastis, Ronald semakin yakin dengan dugaan yang tebersit di benaknya. Ada sesuatu yang jelas-jelas mengejutkan di foto itu.

Tangan Angela gemetar saat ia meraih foto yang tergeletak di lantai. “Kenapa fotoku bisa ada di sini?” tanyanya, suaranya bergetar. “Dari mana kalian dapat foto ini? Ini … aku masih kecil banget.”

Ronald dan Hana terdiam, tak mengatakan sepatah kata pun. Mereka hanya menunggu reaksi Angela, menunggu untuk melihat bagaimana dia akan bereaksi. Mereka ingin menyaksikan momen ini—momen kebenaran, meski samar, mulai terbuka sedikit demi sedikit.

“Ini … gimana ceritanya, sih?!” Angela terengah-engah, kebingungannya semakin memuncak. “Nggak ngerti aku. Siapa kalian sebenarnya?! Ronald, siapa kamu sebenarnya?! Dan kamu, cewek Jepang. Siapa kamu?!”

Ronald menatap Angela dengan tatapan serius, mencoba menjelaskan dengan hati-hati. “Angela, saya juga nggak begitu ingat. Saya nggak bisa jelaskan apa-apa karena saya nggak ingat sama sekali tentang semuanya.”

“Apa maksudnya?!” Angela meluapkan kekesalannya, suaranya semakin meninggi.

“Masa kecil yang hilang,” jawab Ronald dengan tenang. “Kami berdua merasa lupa dengan hal-hal yang pernah kami lakukan waktu kecil.”

Angela terdiam sejenak, lalu tertawa pelan. Tawa yang terdengar seperti campuran kebingungan dan keputusasaan. “Masa kecil yang hilang?” Ia bertanya, menggelengkan kepala. “Jadi ini semua cuma karena itu? Betapa konyol semuanya. Kalau benar, ya itu takdir yang nggak terduga. Tapi kalau nggak? Entahlah.”

Dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. “Kalau soal Ronald, aku tahu dia anak Takeda Kobayashi, saingan perusahaan ayahku. Tapi kamu, cewek Jepang? Aku sama sekali nggak ingat pernah punya waktu ini sama kamu.”

“Itulah yang kita sebut dengan masa kecil yang hilang, Angela,” jawab Hana dengan suara tenang, meski ada kecemasan di matanya. “Kamu tidak bisa menuntut saya menceritakan semuanya, karena saya pun benar-benar dibingungkan oleh semua ini.”

Angela kembali mengembuskan napas panjang, merasakan beban yang semakin berat di dadanya. Seolah-olah ia berada di tengah badai yang tak bisa ia hindari, tanpa tahu arah angin yang akan membawa mereka semua.

“Tapi, saya tahu satu hal pasti.” Ronald mulai lagi, suaranya terdengar serius. “Ayahmu pasti mengetahui semuanya mengenai hal ini, Angela. Ingat? Saya pernah bilang, sejak pertama bertemu denganmu, saya nggak merasa asing sama sekali. Kenapa kita bisa saling kenal seperti ini? Apa yang kamu rasakan saat bertemu dengan lelaki miskin dan sangat menyebalkan seperti saya? Itu hal yang aneh, bukan? Dan kamu sepertinya baik-baik saja kalau saya masuk ke dalam hidupmu.”

Lihat selengkapnya