“Maaf, Ronald. Aku harus segera pergi sekarang juga,” kata Angela dengan nada pelan.
Saat Angela beranjak bangkit, Ronald dengan cepat meraih tangannya, membuatnya terhenti seketika. Angela merasa ada ketegangan yang melingkupi ruangan itu, tapi dia tidak ingin melihat ekspresi hancur di wajah Ronald. Bukan karena dia tidak peduli, tetapi karena dia harus pergi. Itu keputusan yang harus diambil.
“Sangat nggak baik membohongi diri sendiri, Angela. Apa tujuanmu melakukan ini?” Ronald bertanya, nada suaranya penuh dengan kebingungan dan keresahan.
“Aku nggak punya tujuan. Aku emang nggak mencintai kamu. Aku sama sekali nggak punya perasaan istimewa seperti yang kamu harapkan. Kamu udah salah sangka tentang semuanya,” jawab Angela, suaranya mulai terdengar tegas meski ada keraguan yang menghinggapi hatinya.
Dengan sedikit tenaga, Ronald memutar tubuh Angela sehingga gadis itu terpaksa menghadapinya. Namun, Angela tetap tidak ingin melihatnya. Dia menunduk, matanya bergerak gelisah, kadang memutar bola mata, menghindari tatapan Ronald.
Lelaki itu tertawa pelan, suaranya terdengar datar dan penuh dengan keanehan. Tertawanya tidak terdengar lucu sama sekali, malah seolah menyakitkan. Tapi anehnya, ia tidak bisa menghentikan tawa itu.
“Nggak ada yang lucu, kan, Ronald? Bahkan saat kamu udah mendapatkan penolakan, kamu masih bisa ketawa? Aku nggak tahu terbuat dari apa hati kamu. Kamu benar-benar manusia aneh yang baru pertama aku kenal.” Angela mengucapkan kalimat itu dengan rasa bingung yang mendalam.
Ronald hanya menggeleng pelan, tetap tenang. “Jangan heran dengan hal yang nggak penting, Angela. Tertawa belum tentu ada yang lucu, dan menangis belum tentu ada yang patut ditangisi.”
Angela mengernyit, merasa kalimat Ronald semakin sulit dipahami. Lelaki itu selalu bisa mematahkan setiap argumennya, selalu ada kata-kata tajam yang keluar begitu mudah dari mulutnya. Dia memang pandai merangkai kata-kata, dan lebih dari itu, tampaknya dia bukan tipe orang yang bisa bersikap manis pada lawan jenis.
“Begitu pun dengan mulut, Angela,” lanjut Ronald dengan suara lebih rendah. “Kadang mulut mengatakan A, tapi hatimu sebenarnya menginginkan B.”
“Jadi, kamu menganggap aku munafik?” Angela menatapnya tajam, menantang.
Ronald meneleng pelan, menatapnya dengan penuh perhatian. “Sama sekali nggak, Angela. Orang nggak akan pernah tahu alasan orang lain dalam melakukan sesuatu. Begitu pun dengan saya. Saya nggak tahu alasanmu mengatakan sesuatu yang berbeda dari yang sebenarnya ada di hatimu.”
Angela mendengkus, merasa tak bisa lagi melanjutkan percakapan ini. “Udahlah, Ronald. Kita nggak akan bisa bersama. Mau gimana pun juga, kita itu jauh berbeda. Kamu ada di belahan bumi mana, dan aku ada di tempat yang jauh berbeda. Itu hal yang masuk akal, kan?”
Ronald terdiam sejenak, matanya tetap terfokus pada Angela. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya tatapan yang begitu dalam seolah mencoba mencari sesuatu di balik mata gadis itu. Kemudian, dalam gerakan yang tiba-tiba dan kuat, ia mendorong tubuh Angela hingga menyentuh dinding dengan keras.
Seketika, Angela merasa sebuah ketegangan yang menyelimuti dirinya. Apa yang akan dilakukan Ronald? Dada Angela terasa sesak. Sebuah dugaan muncul di benaknya, tapi ia tak bisa memastikan apa yang sebenarnya Ronald berniat lakukan. Apakah dia benar-benar akan melakukannya? Secepat ini?