Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #33

Kokoro no Sakebi

Ronald meniup peluit panjang, mengatur mobil mungil berwarna hitam untuk berhenti dengan rapi di depan minimarket. Namun, tak disangka, di dalam mobil itu ada seseorang yang tak asing bagi Ronald. Seorang perempuan yang dulu pernah menjadi pacarnya, dan kini, adalah orang yang pernah ia lukai hingga membuatnya mendendam.

Ketika perempuan itu keluar dari mobil, Ronald melihatnya dengan pandangan yang tak dapat disembunyikan. Ratih—mantan pacarnya—berjalan mendekat dengan langkah yang penuh kesan mengejek. Wajahnya menunjukkan senyum sinis, seolah memandang rendah.

“Jadi, kamu orang miskin sebenarnya? Aku baru tahu. Ternyata kamu cuma tukang parkir rendahan. Aku sangat menyesal pernah menangisi seorang tukang parkir seperti kamu,” ujar Ratih dengan nada yang menyakitkan, sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Ronald bukan tipe orang yang mudah tersinggung oleh hinaan seperti itu. Bahkan, dia tidak merasa kalimat Ratih adalah hinaan sama sekali. Mungkin karena dia tidak terlalu memikirkan status sosial atau pekerjaan. Jadi, dia menjawab dengan tenang, penuh ketenangan yang hampir tidak tergoyahkan.

“Kenapa, Ratih? Ada yang salah dengan tukang parkir? Menurut saya, nggak juga. Sekaya apa pun kamu, kamu bisa saja jatuh miskin suatu saat. Jadi, kekayaan itu nggak ada yang pasti.”

Mendengar jawaban Ronald yang rasional, Ratih terdiam sejenak. Dahinya berkerut, mencoba untuk mencerna perkataan mantannya yang ternyata tidak merespons dengan kemarahan. Baginya, ada sesuatu yang menyakitkan dalam jawaban itu—sesuatu yang lebih menyentuh hatinya daripada yang ingin ia akui. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ronald bisa lebih bijak, lebih rasional, sementara dirinya hanya terjebak dalam amarah dan kebencian.

Ratih, yang sejak awal datang dengan niat untuk menyakiti dan merendahkan, akhirnya tidak bisa menahan dirinya lebih lama. “Miskin, ya, tetap miskin! Nggak ada bantahan! Kamu emang miskin! Dan kamu udah nyakitin hati aku!” ujarnya dengan suara yang agak terbata, tapi penuh dengan kemarahan yang nyata.

Ronald hanya tertawa renyah, tak terpengaruh dengan amarah Ratih. Dia tahu siapa dirinya, dan dia tidak perlu membuktikan apa pun kepada perempuan yang sudah begitu lama ada dalam hidupnya. Ironisnya, justru Ratih-lah yang terlihat semakin marah, meskipun dia yang memulai perdebatan ini. Bagi Ronald, ini bukan tentang menang atau kalah, tetapi tentang menjaga prinsip dan tidak membiarkan dirinya terseret dalam konflik yang tak ada gunanya.

Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum berbicara lagi, menghindari kemarahan lebih lanjut. “Maaf, Ratih. Saya nggak bermaksud membuat kamu sakit hati. Kamu memang benar—kenyataannya, saya orang miskin yang cuma berprofesi sebagai tukang parkir.”

Ronald berbicara dengan ketenangan yang memancarkan pemahaman, dan meskipun kata-katanya sederhana, itu cukup untuk menenangkan situasi. Ratih mungkin tak menyadarinya, tapi Ronald tahu bahwa dia sudah tidak lagi menjadi orang yang dulu.

“Semua orang bisa melihatnya. Setiap hari, saya di sini, meniup peluit, berdiri di bawah terik matahari, hanya untuk mendapatkan uang yang jumlahnya tak seberapa. Tapi, apakah itu sia-sia? Mungkin bagi kamu, itu sia-sia. Tapi, bagi saya, itu sangat berarti,” kata Ronald panjang lebar, tanpa menoleh ke arah Ratih. Dia kembali fokus pada pekerjaannya.

Ratih memandangnya dengan kesal. Namun, jauh di dalam hatinya, ada rasa rindu yang terpendam untuk pria itu—pria yang beberapa bulan lalu selalu menemani dirinya, yang kini bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa antara mereka. Semuanya terasa berakhir dengan kesedihan yang tak terungkapkan. Ratih hanya bisa menghela napas, merasa perasaan itu hanya berakhir sia-sia.

Lihat selengkapnya