Sambil terus berlari mengikuti langkah Ronald, Angela terpesona oleh senyuman yang menghiasi wajah lelaki itu. Senyuman yang seolah mengungkapkan segala yang dia rasakan. Sebuah pelarian yang terasa menyenangkan, meskipun Angela tidak yakin apakah dia benar-benar merasakannya. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa dia akan dibawa pergi seperti ini. Jika benar demikian, bukankah itu berarti Ronald benar-benar mencintainya?
“Kenapa kamu melihat saya, Angela? Apa kamu lelah?” tanya Ronald, suaranya santai, tetapi penuh perhatian.
Angela meneleng, senyuman kecil terbentuk di bibirnya. “Nggak, aku nggak capek.”
“Kalau gitu, kita lari terus,” kata Ronald dengan semangat, menambah kehangatan dalam pelarian mereka.
Namun, senyuman Angela mulai memudar begitu mereka dihentikan sekelompok orang tak dikenal yang muncul di jalan sempit nan berlubang di depan mereka. Matanya yang semula berbinar mulai meredup, digantikan ketakutan. Mereka terjebak. Lima orang lain sudah datang dari belakang, terkepung.
Angela merasakan firasat buruk yang semakin menguat. Tanpa sadar, dia menggenggam tangan Ronald lebih erat, merasa cemas dengan apa yang mungkin akan terjadi pada mereka. “Ronald ....” Suaranya bergetar, tetapi dia tidak bisa mengungkapkan rasa takutnya dengan kata-kata.
“Mau ke mana kalian?” Salah satu preman berteriak dengan nada sinis, membuat Ronald langsung menguatkan posisinya dan menarik Angela lebih dekat ke tubuhnya. Dia tak mengalihkan pandangannya dari para preman yang tampak sangat mengancam—berambut gondrong, bertato di lengan, dengan senyuman penuh kebencian.
“Jangan takut, Angela,” bisik Ronald dengan penuh keyakinan. “Saya akan mengatasi semuanya.”
Angela menatapnya ragu. “Tapi ... Ronald, mereka banyak sekali.”
Ronald hanya tersenyum, meski di dalam hatinya, perasaan waspada dan khawatir mulai muncul. Namun, dia tidak akan membiarkan Angela merasa takut. “Nggak apa-apa,” jawabnya dengan suara tegas. “Saya nggak akan membiarkan mereka menyakitimu.”
Tawa para preman bergema di udara, keras dan mengintimidasi. Beberapa dari mereka sudah mempersiapkan diri, kepalan tangan siap dilayangkan ke wajah Ronald. Ronald tidak gentar, meski dalam hati, dia tahu ini bukanlah pertarungan yang mudah.
Melihat mereka mendekat, Ronald menatap sepuluh preman itu dengan penuh kewaspadaan. Lima orang lainnya ada di belakang, menghalangi jalan mundur mereka. Ronald menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk apa pun yang akan terjadi. “Sepertinya nggak perlu perkenalan, ya. Kita langsung saja mulai pestanya,” katanya dengan nada santai, meski matanya tetap tajam, tak melepaskan satu pun gerakan mereka.
Sebelum pertarungan dimulai, seorang preman yang lebih besar melangkah maju, berkata dengan nada mengancam. “Sebentar dulu, Bro. Sabarlah. Jangan buru-buru. Kamu tetap jadi santapan pukulan kami, tapi serahkan dulu cewek itu, Bro. Itu pun kalau kamu mau selamat.”
Tawa Ronald terdengar renyah, meskipun ada sedikit ketegangan dalam suaranya. “Buat apa? Angela mana sudi disentuh orang-orang seperti kalian,” jawabnya, penuh rasa percaya diri.
Angela yang mendengar itu, merasa bangga, meski masih ada rasa takut yang menggelayuti. Namun, pada saat yang sama, dia merasakan kehangatan dalam hati—Ronald, lelaki yang sangat ia harapkan, benar-benar berjuang untuknya.
Apakah ini akan menjadi pertarungan yang menyenangkan atau justru menyedihkan? Ronald tahu kemampuan bertarungnya cukup baik, tetapi menghadapi sekelompok orang sebanyak ini, yang jelas-jelas bukan lawan sembarangan, membuatnya sedikit ragu. Wajah bengis mereka, tubuh berotot yang dipenuhi tato, jelas menunjukkan bahwa ini bukan sekadar perkelahian biasa.
Tetapi, apa pun yang terjadi, Ronald tahu dia tidak bisa menunjukkan keraguan. Angela, yang sudah menaruh begitu banyak harapan padanya, tidak bisa melihatnya goyah. Untuk saat ini, berpikir positif adalah pilihan terbaik. Karena, bagaimanapun juga, dia tidak akan membiarkan Angela terluka.
"Baiklah. Kalau begitu, kami akan merebutnya dengan paksa."
Lawan bergerak dengan cepat dari dua sisi, meluncurkan serangan berupa pukulan dan tendangan yang beruntun. Ronald, meski terdesak, masih bisa menghindar, menjaga jarak untuk memastikan Angela tetap aman. Keamanan gadis berambut setengah pirang itu adalah prioritas utamanya.