Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #35

Memicu Perang

“Sebastian, kenapa kamu melakukan semua ini?!”

Angela tak bisa menahan kekalutannya. Suaranya menggema di tengah kegelapan malam, menghadirkan ketegangan yang memuncak. Namun, mungkin tidak perlu lagi pertanyaan itu diajukan. Alasan lelaki bernama Sebastian, yang baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri, melakukan tindakan kejam ini kepada Ronald, sebenarnya sudah jelas. Luka batinnya terlalu dalam. Perasaan sakit hati telah merasuki dirinya karena apa yang telah Ronald lakukan.

Sebastian, dengan hidung mancung dan jas hitam rapi, hanya tersenyum tipis. Senyum itu lebih menyerupai ejekan. “Kamu nggak perlu bertanya, Angela. Dia telah merebut kamu dariku. Dan untuk itu, dia pantas mendapatkan hukuman ini. Bukankah begitu?”

Angela menatap Sebastian tajam. Rahangnya mengeras, giginya saling menggertak dengan kuat. Kemarahan membakar tatapannya. “Aku nggak menyangka kamu bisa sepengecut dan sejahat ini, Sebastian. Ayahku pasti akan—”

Sebastian memotong kata-kata Angela dengan nada dingin. “Tenang saja, Angela. Ayahmu nggak akan percaya pada apa pun yang kamu katakan. Dia lebih percaya aku dibandingkan putrinya sendiri.”

Ronald, yang terbaring di tanah dengan tubuh tertindih sepatu kasar salah satu preman, hanya bisa mendengar percakapan itu dengan perasaan mendidih. Amarah yang bergejolak membuat darahnya terasa semakin panas. Di tengah rasa sakit, dia merasakan dorongan yang begitu kuat untuk bangkit. Untuk melindungi Angela.

Dengan susah payah, Ronald menekan tangannya ke tanah yang keras dan dingin, mencoba bertumpu meski punggungnya diinjak dengan kejam. Setelah mengumpulkan sisa tenaganya, dia berhasil bangkit, walaupun tubuhnya masih bergetar lemah.

“Bangsat kalian semua!” Ronald berteriak penuh emosi, lalu menyerang dengan keberanian yang membabi buta. Dia melawan para preman yang mengepungnya, memaksa tubuhnya untuk bergerak melampaui batas. Namun, fokusnya tertuju pada satu orang: Sebastian.

Dengan gerakan cepat, Ronald mencoba menggapai leher Sebastian, niatnya jelas untuk menghentikan keangkuhan lelaki itu. Namun, Sebastian sudah siap. Dengan satu gerakan cekatan, dia justru membalikkan keadaan. Tangan Ronald yang ingin mencengkeram malah ditangkap, dan tubuhnya dilemparkan dengan keras ke dinding. Punggung Ronald menghantam tembok dingin, membuat napasnya terhenti sejenak. Dada sesak, seolah udara di sekitarnya menghilang.

Sebastian tertawa keras, penuh kemenangan. “Jangan melawan kalau kamu masih ingin menikmati udara segar di dunia ini,” katanya dengan nada mengejek, suaranya memantul seperti gema maut di telinga Ronald.

“SEBASTIAN! Bajingan kamu!” Angela berteriak. Suaranya menggema penuh kemarahan. Dadanya naik-turun, dipenuhi rasa yang bercampur aduk—marah, kecewa, dan sakit hati. Darahnya mendidih, memaksa tubuhnya untuk bergerak meski logika berteriak agar tetap tenang.

Dengan keberanian yang tak lagi bisa ditahan, Angela melangkah maju, mengulurkan tangannya untuk menghentikan Sebastian. Dia tahu, apa pun yang terjadi, dia tidak akan tinggal diam melihat orang yang dia sayangi dihancurkan di depan matanya.

Serangan yang dilancarkan Angela begitu mudah ditangkap oleh Sebastian, yang dengan cepat menarik tubuhnya dan membelenggunya dalam pelukan yang kuat.

“Kamu nggak akan bisa melawanku, Angela. Kenapa, haah?” ujar Sebastian dengan tawa sinis, suaranya menggema di udara yang tegang.

“Lepasin, Sebastian sialan! Aku nggak pernah mencintaimu! Aku nggak pernah setuju perjodohan ini! Kamu sialan! Kamu bajingan!” Angela terus berteriak, tubuhnya berusaha memberontak, tapi pelukan Sebastian begitu kuat, hampir mematahkan semangatnya.

Sementara itu, Ronald yang tercekik masih berusaha melepaskan diri. Dengan napas yang semakin sesak, ia mencoba sekuat tenaga mencari celah, tapi tubuhnya sudah kehilangan banyak energi, lelah dan tak berdaya.

Lihat selengkapnya