Saat membuka mata, Ronald mendapati pemandangan yang jauh berbeda dari apa yang sebelumnya ia lihat. Gang sempit dan gelap yang menjadi tempat terakhir di ingatannya kini telah berganti menjadi sebuah kamar luas. Matanya menyisir setiap sudut ruangan, berusaha mengenali satu per satu benda yang ada di sana.
Poster-poster tim sepak bola terpasang di dinding, figur-figur superhero berjejer rapi di rak, lemari dua pintu dengan cermin besar, dan sebuah komputer yang terletak di atas meja kayu. Ronald mengerutkan dahi. Benda-benda ini mengembalikan kenangan yang tersisa. Dengan cepat, ia menyadari tempat ia berada—kamar pribadinya, di istana yang telah lama ia tinggalkan.
Namun, bagaimana bisa ia kembali ke sini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Dia bergegas bangkit, rasa bingung bercampur gelisah menyelimutinya. Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Seorang gadis bermata sipit masuk membawa nampan dengan segelas air putih. Rambut panjangnya tergerai lembut, dan raut wajahnya memancarkan kekhawatiran.
"K-Kenapa saya ada di sini?!" Ronald bertanya dengan nada tinggi, hampir seperti tuntutan, pada Hana yang baru saja meletakkan nampan di atas nakas di samping tempat tidur.
"Ronald-kun, jangan bergerak dulu! Kondisimu belum sepenuhnya pulih." Hana membalas dengan lembut. Ia mencoba menahan Ronald agar tetap berbaring.
Namun, Ronald melawan. Dengan tubuh yang masih lemah, ia berusaha bangkit dari tempat tidur besar itu. Kepalanya berdenyut hebat, tapi keinginannya untuk pergi lebih kuat. "Nggak, Hana! Saya nggak bisa tinggal di sini! Ini bukan tempat saya lagi!"
"Ronald-kun, hentikan! Kamu belum cukup kuat!" Hana mendorong tubuh Ronald kembali ke ranjang. Karena tenaganya yang habis, Ronald terjatuh ke atas tempat tidur, kali ini bersama Hana yang ikut terdorong.
Posisi mereka kacau, tubuh Hana tergeletak di atas Ronald, dan wajah keduanya hanya berjarak beberapa inci. Wajah Hana memerah seketika. Cepat-cepat ia memperbaiki posisi sambil berkata dengan nada canggung, "M-maaf ...."
Ronald mendengkus kesal, rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah Hana. "Siapa yang membawa saya ke tempat ini lagi?! Siapa yang memberi ide gila untuk memulangkan saya ke rumah ini?!"
Hana menundukkan kepala, menggigit bibirnya, seolah mencari keberanian untuk menjelaskan. "Ronald-kun ... saya menunggumu di rumah kos cukup lama, tapi sampai jam kerjamu selesai, kamu tidak muncul juga. Saya khawatir, jadi saya memutuskan untuk mencarimu. Saya pergi ke minimarket tempat kamu biasa mampir, tapi kamu juga tidak ada di sana. Saat saya melewati gang sempit, saya menemukanmu ... tergeletak, penuh luka, tidak sadarkan diri ...."
Ronald terdiam. Kata-kata Hana membangkitkan secercah ingatan yang buram. Dia ingat bagaimana tubuhnya tidak lagi sanggup berdiri setelah menerima pukulan bertubi-tubi. Namun, yang lebih memberatkan baginya adalah kenyataan bahwa kini ia berada di rumah ini, tempat yang penuh dengan luka lama dan kenangan pahit.
"Ayah ada di mana?" Ronald bertanya, suaranya kini lebih tenang, tapi tetap dipenuhi ketegangan.
Hana meneleng. "Ayahmu sedang di luar kota untuk urusan bisnis. Kamu aman, Ronald-kun. Setidaknya untuk sekarang. Kumohon ... tetaplah di sini sampai kondisimu benar-benar pulih."
Ronald mengepalkan tangannya. Rasa marah dan kecewa memenuhi dadanya, tapi ia juga tahu Hana benar. Tubuhnya belum sepenuhnya kuat. Namun, ada satu hal yang ia tahu pasti—jika Takeda Kobayashi, ayahnya, kembali dan mendapati Ronald di sini, ia hanya akan menerima hinaan dan penolakan yang sama seperti dulu.
Dengan suara serak, Ronald berbisik, "Saya nggak akan tinggal lama. Ini bukan rumah saya lagi."
“Saya sangat panik,” ujar Hana dengan nada yang sedikit gemetar. “Melihat semua luka di tubuhmu, saya langsung menelepon taksi dan membawamu ke sini. Saya tidak tahu harus melakukan apa lagi.”