Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #37

Kebusukan Hati

Takeda Kobayashi berdiri di ambang pintu, menatap putranya dengan dingin dan penuh perhitungan. Ronald, yang sadar diri bahwa kehadirannya di rumah itu adalah sebuah kesalahan, segera beranjak dari tempat tidur. Meski pikirannya berputar tentang bagaimana ia bisa sampai ke sana, ia tahu, satu-satunya hal yang perlu dilakukan adalah segera pergi.

Ronald melangkah perlahan tanpa sepatah kata pun. Keheningan di antara mereka cukup memberi pertanda—tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Namun, langkah Ronald terhenti ketika Hana, dengan gerakan cepat, menangkap tangannya. Wajahnya memancarkan kegelisahan.

“Jangan pergi, Ronald-kun,” bisiknya memohon, suaranya hampir tak terdengar.

Ronald menatap tangan Hana yang mencengkeramnya, lalu mengangkat wajahnya ke arah gadis itu. Dengan helaan napas berat, dia melepaskan cengkeraman itu dengan lembut. “Maaf, Hana. Saya harus pergi. Ini bukan tempat saya lagi.”

Hana hanya bisa menunduk, tak mampu berkata apa-apa. Namun, suara Takeda memecah keheningan, tajam dan penuh ejekan. “Bagus kalau kamu tahu diri.”

Ronald menoleh dengan tatapan tajam, matanya seperti menyimpan bara api yang sulit dipadamkan. Ia menahan dorongan untuk membalas perkataan itu, menyadari bahwa perdebatan hanya akan membuang-buang waktu. Apa pun yang ia katakan tak akan mengubah pandangan sang ayah, yang sejak lama menganggapnya tak layak menjadi bagian keluarga Kobayashi.

Namun, di balik kemarahannya, terselip kenangan tentang kehidupan lamanya di rumah itu—kenangan yang kini terasa seperti pecahan kaca, tak lagi utuh untuk dirangkai kembali. Ronald menghela napas, lalu melangkah melewati Takeda tanpa sepatah kata.

“Saya juga paham,” gumamnya dingin sambil terus berjalan, “bahwa tempat ini bukan milik saya lagi.”

Ronald berhasil mencapai halaman depan. Para penjaga keamanan, yang jelas mengenalinya, dengan sigap membuka gerbang. Ia baru saja hendak keluar ketika suara ayahnya kembali terdengar, menghentikan langkahnya.

“Kalau kamu mau kembali menjadi bagian keluarga Kobayashi, kamu hanya perlu menerima semua keputusan saya.”

Ronald berhenti, mendengar kalimat itu dengan getir. Sebuah senyuman sinis terukir di wajahnya. Kalimat itu terdengar begitu konyol—seolah hidupnya hanyalah bidak catur yang bisa digerakkan sesuka hati Takeda. Namun, alih-alih membalas, Ronald memilih diam. Dengan kepala yang masih terasa berdenyut dan kaki yang tertatih, dia melanjutkan langkahnya keluar dari istana Kobayashi.

Jalanan terasa panjang dan berat. Setiap langkah yang ia tempuh terasa seperti perjuangan melawan tubuhnya sendiri. Rasa sakit di kepala tak kunjung reda, dan perih di kakinya semakin menjadi. Namun, ia tetap melangkah, menolak untuk menyerah.

Setelah berjalan cukup jauh, Ronald akhirnya berhenti di sebuah halte. Napasnya memburu, dan keringat membasahi wajahnya. Ia membiarkan tubuhnya jatuh ke salah satu bangku kayu, mencoba mengumpulkan kembali tenaga yang tersisa.

Di tempat itu, kesunyian seolah memeluknya erat. Ronald memandang ke depan dengan tatapan kosong, pikirannya terombang-ambing di antara rasa marah, kecewa, dan ketidakpastian. Apa pun yang ia pikirkan, satu hal pasti: hidupnya jauh dari kata mudah, tapi ia tak akan kembali ke tempat yang tak lagi bisa ia sebut sebagai rumah.

Sambil menatap langit malam yang bertabur bintang, Ronald, lelaki bermata kuning sipit, hanya bisa berharap keajaiban datang untuk menyelamatkan Angela dari segala bahaya yang mengintainya. Setelah menyaksikan sendiri perlakuan Sebastian yang menjijikkan, pikirannya tak bisa berhenti berputar. Ia yakin lelaki itu adalah maniak kejam yang tak akan membiarkan mangsanya lolos begitu saja.

Lihat selengkapnya