“Setelah hari itu, saya selalu berharap kamu kembali ke hati saya.” Suara Hana terdengar bergetar, hampir seperti bisikan. Matanya menatap Ronald dengan penuh penyesalan. “Saya tidak bisa berhenti memikirkanmu ... dan betapa bersalah saya. Rasanya seperti saya adalah gadis paling berdosa karena telah melukai lelaki yang begitu tulus mencintai saya.”
Ronald menatap Hana dalam diam sejenak, lalu menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang tak hanya berasal dari tubuh, tetapi juga dari hatinya. “Berkata seperti itu nggak akan membuat saya bisa menerima kamu lagi, Hana. Apakah kamu nggak cukup memahami situasi ini? Apalagi dengan keadaan saya sekarang. Saya bukan siapa-siapa, nggak punya apa-apa.”
Hana menggeleng cepat, seolah menolak kenyataan yang Ronald coba sampaikan. “Saya tidak peduli dengan itu semua, Ronald-kun! Bagaimanapun keadaanmu, saya tetap berharap cinta di hatimu untuk saya bisa hidup lagi. Kita bisa memperbaiki semuanya. Tolong, berikan saya kesempatan untuk memperbaikinya!”
Ronald tersenyum kecil, senyum yang samar dan penuh kepahitan. Memberikan Hana kesempatan lagi mungkin tidak sulit, tapi kini hatinya telah tertambat pada gadis lain—Angela. Itu adalah kenyataan yang membuat segalanya menjadi jauh lebih rumit.
Dengan lembut, Ronald meraih tangan Hana yang mencengkeramnya, berniat melepaskan dirinya. Namun, sebelum ia sempat melakukan sepenuhnya, Hana bergerak lebih cepat. Dalam satu gerakan yang tiba-tiba, ia menarik kepala Ronald dan menyambar bibirnya tanpa peringatan.
Keheningan malam terasa memekakkan, hanya detak jantung Ronald yang kini menggema di telinganya. Bibir Hana terasa hangat, lembut, membawa campuran perasaan yang membingungkan: antara kehangatan masa lalu yang pernah ia rindukan dan beratnya beban pengkhianatan terhadap Angela, gadis yang kini menjadi pusat dunianya.
Hana menutup matanya rapat-rapat. Entah bagaimana, tindakan itu bukan hanya tentang hasrat semata, melainkan tentang cinta yang ia perjuangkan, yang ia harapkan dapat mengisi kekosongan hatinya. Namun, ia tahu—sangat tahu—bahwa apa yang ia lakukan adalah pertaruhan terbesar dalam hidupnya. Antara kehilangan segalanya atau memenangkan kembali hati Ronald.
Mata Ronald membelalak, hatinya bergulat dengan berbagai emosi yang bercampur aduk. Apakah ini yang sebenarnya Hana inginkan? Sebuah momen yang tak terlupakan? Mungkin ini adalah sesuatu yang ia harapkan untuk menutup babak di antara mereka, sebuah perpisahan yang nyata dan tidak terucap.
Namun, bayangan Angela tiba-tiba menyeruak dalam pikirannya. Wajahnya yang teduh, suaranya yang lembut, dan harapan yang ia gantungkan pada Ronald. Itu cukup untuk membuatnya sadar kembali. Ia segera menarik diri, melepaskan ciuman itu dengan tegas, lalu mendorong tubuh Hana sedikit menjauh.
Hana terdiam, terkejut dan malu. Wajahnya menunduk, menghindari tatapan Ronald yang kini dingin. Angin malam yang dingin terasa semakin menusuk kulit, menciptakan suasana canggung di antara mereka. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, Hana mengalihkan pandangan, mencoba menyembunyikan rasa bersalah dan kebingungan yang melanda dirinya.
Ronald tidak berkata apa-apa, tetapi tatapannya penuh dengan perasaan campur aduk. Ia tak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi, atau bagaimana menghadapi Hana setelah ini.
Hana menggigit bibirnya, rasa canggung yang menyesakkan perlahan membunuh keberaniannya. Dalam hati, ia bertanya-tanya: apa yang harus ia katakan untuk membela tindakannya? Apa yang bisa ia lakukan agar tidak terlihat menjijikkan di mata lelaki itu? Namun, di dalam relung terdalamnya, ia tahu—apa pun alasannya, luka yang ia goreskan pada Ronald mungkin sudah tak terhapuskan.
“Kamu tahu apa yang saya rasakan dari bibirmu?” Ronald menatap tajam, seolah memaksa Hana menghadapi kenyataan pahit. Ia menggenggam bahunya, membuat gadis itu tak punya pilihan selain menatap matanya. “Saya nggak merasakan apa pun. Itu nggak lebih dari sentuhan bibir biasa—dangkal dan hampa. Bahkan jika kamu mengulanginya berapa kali pun, saya berani bertaruh itu nggak akan membuat saya ingin melakukan hal lebih.”