Dalam dingin dan keheningan malam itu, Ronald tiba-tiba merasakan pusing yang begitu hebat. Tangannya secara refleks memijat pelipis beberapa kali, tetapi penglihatannya tetap buram. Langkahnya menjadi goyah, seperti tubuhnya kehilangan kendali. Hana yang sedari tadi memperhatikannya dengan saksama segera mengernyit, merasa ada yang tidak beres.
“Ronald-kun? Ada apa denganmu?” tanyanya penuh kekhawatiran.
Ronald tidak menjawab. Napasnya yang sebelumnya teratur kini menjadi berat dan tersengal-sengal. Wajahnya tampak memerah, menandakan suhu tubuh yang melonjak naik. Apa pun yang ia lihat terasa kabur, seperti ada tirai tipis yang menghalangi pandangannya.
Melihat kondisinya yang semakin memburuk, Hana memutuskan untuk memeriksa sendiri. Dia mendekat, menempelkan dahinya ke dahi Ronald. Sesaat kemudian, tatapan cemasnya berubah panik.
“Ya Tuhan, kamu demam tinggi!” ucapnya. Suaranya nyaris bergetar. “Ini pasti karena luka-lukamu yang belum sembuh. Saya harus membawamu ke tempat yang lebih hangat. Di sini terlalu dingin, kamu bisa semakin parah.”
Tanpa berpikir panjang, Hana segera merogoh totebag-nya, mengeluarkan ponsel, dan memesan taksi. Bus yang mereka tunggu sejak tadi tampaknya tak akan datang dalam waktu dekat, dan menunggu lebih lama hanya akan memperburuk keadaan Ronald.
Saat kembali memperhatikan Ronald, tubuh lelaki itu tampak semakin lemas. Napasnya terengah-engah, dan pandangan matanya kosong, seperti kehilangan fokus. Hana buru-buru meraih tubuh Ronald, mencoba menahan berat badannya agar tidak terjatuh. Namun, tubuh Ronald yang cukup berotot membuat Hana kesulitan menopangnya sendirian.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di hadapan mereka. Hana bergegas membuka pintu, tetapi menyadari bahwa ia tak akan mampu mengangkat Ronald sendirian. Dengan nada mendesak, ia memohon kepada sopir taksi.
“Pak, tolong bantu saya. Saya nggak bisa melakukannya sendiri,” ucap Hana sambil menatap sopir paruh baya itu penuh harap.
Tanpa banyak kata, sang sopir segera turun dan membantu membawa Ronald ke dalam mobil. Dengan hati-hati, mereka membaringkan tubuh Ronald di kursi belakang. Hana kemudian ikut masuk dan mendampingi Ronald yang kini hanya bisa terbaring lemas.
Sepanjang perjalanan menuju kos, Hana terus memperhatikannya dengan saksama. Wajahnya tampak penuh rasa bersalah. Dalam hati, ia merasa bahwa semua ini adalah salahnya. Jika saja ia tidak membuat Ronald terjebak dalam begitu banyak masalah, mungkin lelaki itu tidak akan berada dalam kondisi seperti ini.
“Ronald-kun,” bisiknya lirih, meski tahu lelaki itu mungkin tidak mendengar. “Maafkan saya. Saya berjanji akan merawatmu sampai kamu sembuh.”
Pikiran Hana kemudian melayang pada apa yang mungkin menjadi penyebab kondisi Ronald. Luka-luka dari perkelahian beberapa waktu lalu jelas memengaruhi tubuhnya, tetapi Hana tahu ada hal lain yang lebih dalam. Beban pikiran Ronald—tentang Angela, tentang rencana menyelamatkan gadis itu, dan tentang keraguan serta penyesalan dalam hatinya—semua itu pasti menambah tekanan yang luar biasa.
Hana menghela napas panjang. Dalam kesunyian taksi yang hanya diiringi deru mesin, ia menyadari satu hal: keputusannya untuk mengikuti Ronald malam itu adalah sebuah keberuntungan. Jika ia memilih tidak ikut, siapa yang akan menolong Ronald di saat seperti ini?