Ronald tidak merasa marah atas apa yang telah Hana lakukan. Sebaliknya, ia memahami sepenuhnya bahwa gadis itu hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya. Meski apa yang dilakukan Hana mungkin terlihat sedikit melampaui batas, ia memakluminya sebagai bentuk kasih dan perhatian yang tulus.
Pagi itu, tubuh Ronald terasa jauh lebih bugar. Demam yang menyiksanya semalam seolah telah lenyap, tergantikan rasa hangat yang diberikan Hana. Namun, saat ia mengingat bagaimana gadis itu merawatnya dengan cara yang begitu intim, pipinya memerah, menahan rasa malu yang sulit diungkapkan.
Kini, dengan tubuh yang lebih kuat, meski masih menyisakan nyeri di beberapa bagian, Ronald tahu tugas besarnya belum selesai. Angela, gadis berambut setengah pirang yang begitu ia pedulikan, masih belum ditemukan. Dalam diam, ia mempersiapkan diri untuk langkah selanjutnya.
Hana masih terlelap, wajahnya terlihat damai di bawah sinar matahari pagi yang menembus tirai tipis kamar. Ronald mendekati gadis itu, membenarkan selimutnya hingga menutupi tubuh Hana sampai ke leher, memastikan ia tetap hangat. “Arigatou, Hana,” bisiknya lirih sebelum berbalik pergi.
Langkahnya ringan, tetapi pikirannya berat. Ronald sadar, dia belum tahu pasti di mana Angela berada. Namun, dia yakin satu tempat yang harus diperiksa lebih dulu: rumah gadis itu. Tidak mungkin Sebastian, musuh liciknya, menyekap Angela di tempat yang terlalu mencurigakan, apalagi dengan risiko mencoreng hubungan keluarganya dengan orang tua Angela.
Meski tubuhnya terasa lebih segar, luka-luka akibat perkelahian sebelumnya masih meninggalkan jejak rasa sakit. Setiap langkah yang ia percepat memunculkan denyut nyeri di tulang dan ototnya, tetapi Ronald tak peduli. Ia telah memutuskan untuk melangkah maju, meski itu berarti menghadapi risiko yang lebih besar.
Duduk di atas sepeda motor ojek yang melaju dengan kecepatan sedang, Ronald memperhatikan jalanan yang ia lewati. Pikirannya terus bekerja, merancang kemungkinan skenario dan strategi untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di depan. Tak terasa, tiga puluh menit berlalu, dan ia tiba di depan kediaman Angela—sebuah rumah megah dengan halaman yang begitu luas.
Ronald berdiri di kejauhan, mengamati bangunan besar itu dengan cermat. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat seorang petugas keamanan berseragam biru berjalan mondar-mandir di dekat gerbang depan. Jarak yang cukup jauh membuat Ronald yakin dirinya belum terdeteksi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menyusun rencana meski tanpa kepastian apa yang harus dilakukan.
Namun, tanpa disadarinya, Ronald telah lengah. Di balik fokusnya yang tertuju pada gerbang utama dan penjagaan di depannya, ia mengabaikan ancaman dari sisi lain. Sebuah langkah mendekat dengan perlahan, tetapi pasti, menghentikan laju pikirannya.
Sebastian.
Lelaki itu muncul dari belakang, senyumnya licik, membawa aura ancaman yang nyata. Ronald, yang terkejut atas kemunculan musuhnya, membalikkan badan dengan cepat. Ia sadar, konfrontasi ini tak terhindarkan.
“Lama tidak bertemu, Ronald.” Suara Sebastian terdengar datar, tapi sarat dengan ejekan. “Saya tahu kamu akan datang. Kamu memang selalu predictable.”
Ronald mengepalkan tangannya, menahan amarah yang perlahan membara. “Sebastian,” ucapnya dengan nada rendah tetapi tegas. “Di mana Angela?”
Sebastian hanya terkekeh pelan, tangannya melipat di dada. “Angela? Ah, tentu saja kamu mencarinya. Tapi, apa kamu benar-benar berpikir akan menemukan dia tanpa melewati saya?”
Udara pagi yang dingin terasa semakin mencekam. Ronald tahu, ini bukan lagi sekadar perbincangan. Sebuah pertarungan telah menantinya—pertarungan yang ia tahu tidak akan mudah, tetapi tetap harus ia jalani demi menyelamatkan Angela.
"Angela nggak ada di rumah itu," ujar Sebastian setengah berbisik, senyum sinis terukir di wajahnya. Ucapan itu membuat Ronald tertegun, lalu dengan refleks mundur selangkah, menjaga jarak.
"Sejak kapan kamu di situ, sialan?!" Ronald mendesis, matanya menatap tajam.
Sebastian hanya terkekeh pelan, puas melihat reaksi lelaki bermata sipit itu. "Sejak kamu terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri untuk menyadari keberadaanku," jawabnya santai.
"Jawab aku, di mana Angela?!" Ronald membentak, suaranya tajam, penuh kemarahan yang ditahan. Rahangnya mengeras, menunjukkan betapa ia menahan gejolak emosi yang hampir meluap.
Sebastian mengangkat alis, seolah sedang berpikir, lalu tersenyum licik. "Di mana, ya? Hmm, mungkin dia ada di hatiku," balasnya, sengaja mempermainkan Ronald.