"Apa maksudmu, Angela? S-saya melakukan semua ini demi kamu. Dan ..." Suara Ronald terdengar bergetar, ada luka yang menyelinap di antara kata-katanya.
Namun, Angela memotong dengan tajam, "Dengar, ya, Ronald! Mulai detik ini, kamu harus menjauh dari hidupku. Aku nggak suka caramu. Aku nggak suka kekerasan, dan aku nggak akan pernah memaafkanmu!"
Kata-kata itu menghantam Ronald lebih keras daripada pukulan mana pun yang pernah ia terima. Tubuhnya tetap berdiri, tapi hatinya terasa seperti ambruk. Lelaki bermata sipit itu hanya bisa memandang Angela dengan tatapan penuh kebingungan. Apakah dia salah dengar? Ataukah ini kenyataan?
Bukankah sebelumnya Angela membenci Sebastian? Bukankah gadis itu pernah mengatakan ingin bebas dari lelaki licik yang berdiri di depannya ini? Semua yang kini keluar dari mulut Angela terasa begitu asing, bertolak belakang dari apa yang pernah ia yakini.
Sebastian, sambil mengusap sudut bibirnya yang masih berdarah, memasang senyum miring. Sebuah senyum penuh kemenangan. "Sekarang kamu sudah dengar sendiri, kan, Ronald? Itu artinya kamu nggak punya harapan lagi. Angela sudah jelas memilihku."
Ronald meneleng pelan, mencoba menepis apa yang barusan ia dengar. Hatinya menolak mempercayainya. Meski Angela mengucapkan kata-kata itu dengan keras dan lantang, tatapan matanya berkata lain. Tidak ada keyakinan di sana. Tidak ada kebenaran.
Dia mengambil langkah maju, suaranya parau tapi tegas, "Apa yang sudah dia lakukan padamu, Angela? Katakan padaku. Kalau dia sudah menyakitimu, saya akan menghabisinya!"
Ronald meraih kerah jas Sebastian dengan gerakan yang penuh amarah, tetapi dua pria bertato—anak buah Sebastian—segera menahan dan membelenggu tubuhnya. Ronald kembali memberontak, meskipun rasa sakit di tubuhnya semakin menyiksa.
"Sialan! Lepaskan saya! Biarkan saya membunuh bajingan ini!" teriaknya penuh emosi.
Sebastian tertawa terbahak-bahak, diikuti anak buahnya. Tawa mereka terdengar seperti duri yang menusuk telinga Ronald. Mereka menikmati kekacauan ini, menikmati setiap detik kehancuran Ronald.
Angela, yang sejak tadi menunduk, akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan tatapan Ronald. Ada sesuatu yang ia cari di sana—kebenaran, sebuah jawaban yang tidak bisa diucapkan Angela dengan kata-kata. Namun, tatapan itu tetap kosong, seperti pintu yang tertutup rapat.
"Usaha kamu sia-sia, Ronald," kata Angela akhirnya, suaranya terdengar getir. "Pergilah. Kembali ke mantan pacarmu di Jepang. Aku ... aku sudah terlanjur. Aku akan menikah dengan Sebastian."
Seperti disambar petir di tengah badai, Ronald membeku di tempatnya. Kata-kata itu merobek hatinya tanpa ampun. Sebuah rasa sesak yang menghantam dadanya, membuat napasnya tercekat. Dia tidak percaya ini nyata.
Namun, di tengah rasa sakit itu, Ronald tahu satu hal yang tidak ingin ia lakukan: menjadi egois. Jika ini benar-benar keputusan Angela, jika gadis itu benar-benar memilih Sebastian, maka tidak ada yang bisa ia lakukan.
Dia hanya bisa berdiri di sana, diam, menyaksikan segala harapan yang ia genggam perlahan hancur, sembari menahan luka yang semakin dalam menusuk hati.
“Tenang aja. Aku akan mengundang kamu di hari pernikahan kami. Agar kamu tahu rasanya sakit karena nggak bisa memiliki Angela. Maaf ya, aku sebenarnya nggak enak sama kamu. Tapi, apa sih yang bisa dilakukan laki-laki miskin sepertimu? Nggak ada, kan? Udahlah, sebaiknya kamu balik mulung barang-barang bekas sana. Jangan mimpi terlalu tinggi.”
Sebastian berkata dengan tawa kecil, seakan menikmati setiap luka yang ia tancapkan di hati Ronald. Sementara itu, Angela hanya diam, mengalihkan pandangan, tak mampu menatap Ronald secara langsung. Mungkin dia tak ingin melihat dampak dari semua kata-kata yang keluar dari mulut Sebastian, atau mungkin dia sendiri terlalu takut menghadapi kenyataan.