Saat Ronald tiba di rumah kos, Hana sudah menunggu di depan pintu. Mereka berdiri saling berhadapan, dan seketika suasana di antara mereka terasa berat, hampir mengimpit. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan Ronald kali ini. Mata kuning itu menyiratkan kesedihan yang begitu dalam, seperti badai yang siap pecah menjadi tangis.
Hana menangkap semuanya—perasaan itu, kesedihan itu. Tapi ada hal lain yang membuatnya canggung. Ia tak bisa mengabaikan apa yang terjadi semalam, momen saat mereka terjebak dalam situasi yang tak pernah mereka bicarakan lagi. Rasa bersalah dan takut bercampur, membuat Hana ragu untuk memulai percakapan.
Alih-alih berkata sesuatu, gadis bermata sipit itu memalingkan pandangan. Tapi Ronald tetap berdiri di sana, diam. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya, hanya sebuah keheningan yang penuh tekanan.
Beberapa saat berlalu, dan tiba-tiba Ronald melangkah maju, mendekati Hana. Tanpa peringatan, ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Erat, seperti seseorang yang sedang berusaha menghindari tenggelam. Hana terkejut, matanya membelalak. Pelukan itu hangat, tapi ada beban yang tak terlihat di dalamnya—kesedihan yang bahkan lebih besar dari apa yang pernah ia bayangkan.
Hana bisa merasakannya. Tanpa kata-kata, ia tahu bahwa Ronald sedang menahan luka yang tak terucapkan. Energi itu, kesedihan itu, mengalir kepadanya, menyesakkan ruang-ruang di hatinya yang penuh simpati.
“Apa yang terjadi, Ronald-kun?” tanyanya dengan suara pelan, hampir berbisik. Ia tak yakin akan mendapatkan jawaban. Meski begitu, ada bagian dari dirinya yang merasa lega. Setidaknya, ada momen ini, sebuah keintiman yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya.
Ronald tidak menjawab. Hanya suara tangis yang tertahan pelan, hampir tak terdengar, tetapi Hana tahu. Ia bisa merasakan bahunya basah oleh air mata Ronald. Dan tanpa sadar, tangannya mulai terangkat, membalas pelukan itu dengan lembut.
“Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi.” Hana berkata, suaranya bergetar penuh empati. “Tapi saya ada di sini, Ronald-kun. Gunakan saya, apa pun yang kamu butuhkan. Saya akan melakukan yang terbaik untukmu.”
Ronald tidak berkata apa-apa. Ia hanya menutup matanya, seolah mencoba menghilangkan semua rasa sakit yang menyiksanya. Bulir-bulir air mata terus mengalir, dan tubuhnya bergetar ringan di dalam pelukan Hana.
“Tolong.” Akhirnya Ronald berbisik, suaranya lemah dan hampir hancur. “Tetaplah seperti ini sebentar saja. Saya nggak punya siapa-siapa lagi. Tolong, tetaplah seperti ini sebentar saja.”
Hana merasakan hatinya remuk mendengar kata-kata itu. Ronald benar-benar terluka, jauh lebih dalam daripada yang pernah ia duga. Ia mengangkat tangannya lagi, mengusap punggung Ronald dengan lembut. Sesekali, jari-jarinya bergerak ke rambutnya, memberikan kenyamanan yang ia tahu sangat dibutuhkan lelaki itu.
“Tidak apa-apa,” bisik Hana lembut. “Aku di sini.”
Pelukan itu terasa abadi. Ronald seakan menolak untuk melepaskannya, tenggelam dalam kehangatan yang Hana berikan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ada seseorang yang peduli, seseorang yang mampu menahan semua kesedihan yang ia pikul.
Di dalam pelukan itu, waktu seakan berhenti. Tak ada lagi rasa canggung, tak ada lagi jarak. Yang tersisa hanyalah dua orang yang berusaha menyembuhkan luka masing-masing dalam keheningan.
"Saya lelaki pengecut, Hana." Ronald berkata dengan suara serak, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul. "Saya hanya bersikap kuat, seolah-olah saya nggak pernah merasa terluka atas semua yang terjadi dalam hidup ini. Tapi sekarang, saya sudah kehilangan semuanya. Semua harapan saya yang akhirnya nggak akan pernah tercapai. Apakah usaha dan pengorbanan saya selama ini masih kurang? Saya sadar diri dan mengerti keadaan ini, tapi apakah cinta yang benar-benar tulus itu nggak ada?"