Ronald membaringkan Hana dengan lembut, matanya tetap tertuju pada wajahnya. Ada sesuatu yang sangat sulit ditolak oleh seorang pria: hasrat seorang gadis yang menginginkan keintiman, yang berharap lebih dari apa yang bisa diberikannya.
Dengan mata terpejam, Hana siap menerima apa pun yang akan terjadi. Inilah yang sudah lama ia nantikan. Jika ia berhasil memberikan seluruh tubuh dan hidupnya pada Ronald, ia percaya ini akan menjadi cara untuk meraih cinta yang ia dambakan. Setidaknya, ia akan tahu bahwa Ronald bukanlah seorang pria yang hanya bisa mempermainkan kehormatan perempuan. Ia yakin Ronald akan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi, dan perlahan-lahan, ia akan melupakan Angela sebagai tujuan. Momen pernikahan yang diinginkan keluarga Kobayashi akan menggantikan bayangan masa lalu.
Namun, di sudut hatinya, Hana tak bisa sepenuhnya menghilangkan keraguan. Bagaimana jika pada akhirnya Ronald hanya memanfaatkan situasi ini? Bukankah itu akan menjadi kerugian besar bagi dirinya? Tapi, entah mengapa, ia merasa tidak begitu khawatir. Meskipun kemungkinannya ada, ia tetap akan menerima semua ini dengan pasrah, mengikuti ketentuan yang ada.
Embusan napas panjang terdengar, dan Hana merasakan bahwa pakaiannya yang terbuka kini telah tertutup kembali. Ia membuka matanya, dan yang ia lihat membuatnya bingung. Ronald tersenyum, sebuah senyuman yang membuatnya heran.
"Cinta tidak membutuhkan sesuatu seperti ini, Hana," kata Ronald, suaranya tenang, tapi tegas. "Saya tahu kamu mencintai saya lebih dari apa pun, tapi kamu juga harus menghargai dirimu sendiri. Maaf, saya nggak bisa melakukannya."
Hana terbelalak, kaget dan tak percaya. Baru kali ini ia mendengar kalimat semacam itu, terutama keluar dari mulut Ronald.
Di Jepang, budaya pergaulan bebas semacam ini bukanlah hal yang asing. Banyak orang yang menginginkan hal tersebut, dan pasti pernah melakukannya dengan teman atau pasangan mereka. Namun, apa yang baru saja dikatakan Ronald membuat Hana semakin terperangah.
"Kenapa, Ronald-kun?" Suaranya lirih, masih tidak percaya dengan reaksi Ronald, meski ia tahu ia sedang telanjang dada di depannya.
Ronald tetap berada di atas Hana, senyumannya masih sama. "Saya nggak tahu, Hana. Tapi, saya hanya nggak mau menyakitimu. Melakukan ini sama saja dengan melukaimu, setidaknya menurut saya seperti itu. Kalau kamu menginginkan cinta, itu nggak bisa didapatkan dengan cara seperti ini."
Kalimat Ronald membuat air mata tiba-tiba muncul di mata Hana. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena perasaan haru yang meresap hingga ke dalam hatinya.
"Hangat sekali, Ronald-kun." Hana bergumam, suaranya terbata-bata. "Kata-katamu sangat hangat dan membuatku tak bisa menahan air mata ini. Di saat semua lelaki menginginkannya, kamu malah melarangku untuk melakukannya."
"Jangan salah," jawab Ronald dengan suara penuh penegasan. "Saya dulu juga seperti itu. Setelah kehilanganmu, saya menjadi lelaki yang tak berguna, hanya bisa menguras harta dan merusak kehormatan para perempuan. Tapi, berkat perasaan yang disebut cinta, saya akhirnya sadar bahwa itu semua salah."