Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #44

Accident

Pintu itu terbuka paksa, didobrak dengan kekuatan yang cukup keras hingga memekakkan telinga. Sekelompok pria berjas hitam segera memenuhi teras rumah dengan langkah tegas dan tatapan penuh kewaspadaan. Hana yang baru saja berdiri di depan pintu sebelum mereka berhasil masuk, mencoba menahan mereka, tubuhnya tegang tetapi sorot matanya tidak gentar.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya, nadanya tajam, meski ia tahu jawabannya.

Salah satu pria maju selangkah. Sikapnya kaku, seperti robot yang hanya bergerak berdasarkan perintah. "Nona Hana, kami diperintahkan oleh Tuan Kobayashi untuk membawa Tuan Muda Ronald kembali."

Dahi Hana mengernyit. Ia sudah menduga momen ini akan tiba, meskipun berharap lebih lama lagi. Sebelumnya, ia sudah berulang kali memperingatkan Ronald untuk lebih berhati-hati. Namun, lelaki itu selalu tampak santai, seolah Takeda Kobayashi tidak benar-benar menganggap kaburnya Ronald sebagai masalah serius. Tapi sekarang, Hana tahu situasinya berbeda. Ayah Ronald akhirnya bertindak.

"Ronald-kun tidak ada di sini," kata Hana, suaranya dingin. "Kalian tidak akan menemukannya. Sebaiknya kalian pulang dan katakan pada Ayah bahwa Ronald-kun sudah pergi dari rumah kos ini."

Pria itu menggeleng tanpa ragu. "Maaf, Nona Hana. Tugas kami adalah membawa Tuan Muda Ronald. Kami tidak akan kembali sebelum menemukannya. Mohon izinkan kami memeriksa rumah ini."

Hana membelalak, tubuhnya semakin tegang. Ia berdiri di pintu, menghadang dengan seluruh keberanian yang ia miliki. "Saya sudah bilang, Ronald-kun tidak ada di sini!" teriaknya, mencoba mempertahankan kendali atas situasi.

Namun, orang-orang itu tidak memedulikannya. Mereka menerobos masuk, mendorong Hana yang jelas tak mampu menghentikan mereka. Tubuh mungilnya terdesak ke samping. Ia tahu ini tidak akan berhasil—tenaganya tidak sebanding dengan mereka. Dan perintah ini berasal langsung dari Takeda Kobayashi, yang berarti tidak ada ruang untuk negosiasi. Ronald harus ditemukan.

Maafkan saya, Ronald-kun, batin Hana, hatinya tenggelam dalam penyesalan. Ia merasa tak berdaya karena tak bisa melindunginya.

Di dapur kecil, Ronald berjongkok di balik meja kayu, telinganya menangkap suara langkah kaki yang semakin mendekat. Ia tahu waktunya semakin sedikit. Ketika salah satu pria berjas hitam memasuki dapur, Ronald mengambil keputusan cepat. Dengan gesit, ia melayangkan tinju keras ke wajah pria itu, membuatnya terhuyung mundur. Dua pria lain mencoba menangkapnya, tetapi Ronald melawan dengan brutal, memanfaatkan celah untuk melarikan diri.

Dalam kepanikan, Ronald berlari ke ruang depan, melihat Hana masih berdiri di ambang pintu, berusaha menahan orang-orang itu. "Hana! Ayo, kita lari!" serunya, penuh rasa cemas.

Namun, Hana menggelengkan kepala. Wajahnya tetap tenang, meskipun air mata mulai menggenang di matanya. "Tidak, Ronald-kun. Larilah. Saya akan tinggal di sini dan mencoba berbicara dengan ayahmu."

Kata-kata Hana membuat Ronald terhenti sejenak. Hatinya tersayat melihat keberanian gadis itu, yang rela mengorbankan dirinya. Tapi ia tahu, tidak ada waktu untuk berdebat. Jika ia tetap di sini, keadaan hanya akan bertambah buruk. Ia mengepalkan tangan, mencoba menahan rasa bersalah, lalu memaksakan diri untuk berbalik.

"Jaga dirimu, Hana," gumamnya sebelum berlari keluar melalui pintu belakang, meninggalkan Hana yang masih berdiri menghadapi pria-pria berjas hitam.

Hana menatap punggung Ronald yang semakin jauh hingga menghilang. Dalam hatinya, ia berharap keputusan ini benar. Meskipun sangat berat, ia tahu ini adalah jalan terbaik untuk saat ini—membiarkan Ronald melarikan diri sementara ia mencoba menghadapi kemarahan Takeda Kobayashi sendiri.

"Pastikan kamu baik-baik saja, Hana!" seru Ronald dengan nada putus asa sebelum melangkah pergi. Kata-kata itu adalah ungkapan terakhir yang dapat ia berikan, meski jauh di lubuk hati, ia tahu Hana tengah menghadapi risiko besar demi dirinya.

Lihat selengkapnya