Riris, gadis tercantik di kampungnya, selalu menjadi incaran banyak lelaki. Tidak sedikit yang bahkan mencoba menggunakan pelet atau cara mistis lain demi mendekatinya, atau sekadar menikmati kemolekan tubuhnya yang sering menjadi pusat perhatian. Namun, meskipun banyak yang mencoba merayunya, Riris tetap tegar. Beberapa tahun yang lalu, dia memutuskan untuk pindah ke kota besar, mencari kehidupan yang lebih baik, dan kini bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan terkenal.
Meskipun kota menyibukkan dirinya, Riris selalu meluangkan waktu untuk pulang kampung setiap minggu. Ia ingin menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu yang telah bersusah payah membesarkannya. Setiap kali pulang, meskipun waktunya terbatas, dia merasa bahagia bisa kembali ke rumah, jauh dari hiruk-pikuk kota. Di kota yang sibuk dan penuh tuntutan, Riris kadang merasa terjebak. Namun, waktu yang dihabiskan bersama keluarga membuatnya merasa lebih hidup.
Suatu sore, seperti biasa, Riris duduk di tepi sebuah jembatan kecil yang menghubungkan dua sisi sungai. Rambutnya yang hitam legam bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi, dan matanya menikmati pemandangan bukit yang menghampar luas di depannya. Ia merasa begitu damai, seperti kembali ke masa kecilnya—ke tempat yang penuh kenangan. Sebelum pindah ke kota, ia sering mandi di sungai ini bersama teman-teman sebaya, bercanda tawa tanpa beban.
Namun, meskipun segala keindahan alam ini menenangkan, pikirannya tetap tak bisa sepenuhnya tenang. Bayangan tentang lelaki yang pernah menyakiti hatinya terus menghantui, meskipun ia berusaha keras mengusirnya. Ia menarik napas panjang, berusaha mengalihkan perhatian dengan menikmati pemandangan yang indah.
Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sesuatu yang aneh. Di pinggir sungai, ada seseorang yang tampak tergeletak begitu saja. "Orang tidur di pinggir sungai?" pikirnya, sedikit tidak percaya. "Hah?! Siapa yang mau tidur di sana, basah-basahan, pula?" Tentu saja, rasa penasaran semakin menggelayuti dirinya. Tanpa pikir panjang, Riris segera berlari menuju tepi sungai, melewati kebun milik orang lain. Namun, ia tetap berhati-hati, menjaga jarak agar tidak menyinggung orang lain.
Saat hampir tiba di tempat tujuan, langkahnya sedikit melambat. Riris merasa ragu, tapi rasa penasaran yang kuat mendorongnya untuk melangkah lebih cepat. Ketika ia melewati gerbang kayu perkebunan, ia mempercepat langkahnya. Beberapa meter kemudian, ia terhenti begitu saja. Apa yang dilihatnya membuat matanya terbelalak. Itu bukan mimpi, dan ia tak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya saat itu.
Di depan matanya, tergeletak seorang pria yang sepertinya sudah tak sadarkan diri. Riris langsung terkejut, tapi perasaan kemanusiaan dalam dirinya mendorongnya untuk bertindak. Tanpa ragu, meski hatinya berdebar cemas, ia segera melangkah mendekat. Riris tahu, ia tidak bisa membiarkan seseorang sekarat tanpa mencoba menolong.
"Hei, bangun!" teriaknya, menggedor dada pria itu dengan keras. Dengan penuh tenaga, Riris mulai melakukan pertolongan pertama, dorongan demi dorongan. "Harus sepuluh kali," batinnya, berusaha fokus pada gerakan tangannya yang kini semakin penuh harapan.
“Hei, bangun! Apa kamu mendengarku?!” Riris berteriak, tangannya terus mendorong dada Ronald, tapi lebih dari lima puluh kali dorongan, tak ada tanda-tanda kehidupan. Dengan cemas, ia mendekatkan telinganya ke bibir Ronald.
“Dia masih hidup,” gumamnya pelan, merasakan napas yang lemah, tapi ada. Ini memberi sedikit harapan. Dengan tekad yang semakin kuat, Riris kembali melakukan dorongan, kali ini lebih mantap dan penuh harapan.
“Apa kamu mendengarku?! Hei, bangun!” teriaknya lagi, suaranya sedikit parau karena panik. Namun, meski ia sudah berusaha keras, Ronald tetap tidak memberikan respons. Keputusasaan mulai menyelimutinya. Riris melirik ke sekeliling, berharap ada orang lain yang datang untuk membantu, tapi tak ada satu pun yang terlihat. Hanya hutan dan kebun yang sunyi di sekelilingnya.