Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #46

Pesona yang Sulit Ditepis

Tidak ada yang keberatan ketika Ronald tinggal sementara waktu di rumah Riris. Bahkan kedua orang tua Riris sangat mendukung dan merasa senang karena mengetahui anak gadis mereka bersedia membantu orang lain. Mereka merasa bangga karena Riris tidak hanya peduli pada dirinya sendiri, tetapi juga terhadap orang lain yang membutuhkan pertolongan.

“Maaf, gara-gara saya, seisi rumah ini jadi repot-repot dan mungkin agak terganggu,” kata Ronald dengan rasa bersalah yang mendalam. Ia merasa tidak enak karena harus merepotkan orang lain, apalagi karena kondisinya yang masih lemah. Namun, Riris dan orang tuanya tak pernah menunjukkan rasa keberatan sedikit pun. Mereka selalu perhatian, membuatkan makanan dan obat-obatan untuk membantu pemulihannya.

Riris, yang telah lama menatap wajah Ronald, merona. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan berkata, “Nggak juga, kok. Aku senang bisa membantumu. Apalagi orang tuaku nggak keberatan sama sekali. Meskipun hidup kami sederhana, kami selalu merasa bisa membantu orang lain yang membutuhkan.”

Ronald tersenyum dan terkikik pelan, jelas bisa melihat rona merah di kedua pipi Riris yang mencoba menahan rasa malunya. “Kamu kenapa? Seperti malu-malu begitu?” tanyanya, menggoda.

“Siapa yang malu? Kamu aja yang kepedean,” jawab Riris, setengah kesal meskipun senyum kecil tak bisa ia sembunyikan. “Udah, ah. Kamu istirahat aja, udah larut malam.”

Saat Riris hendak keluar dari ruangan yang sederhana itu, Ronald dengan gerakan cepat meraih tangannya. “Sekali lagi, terima kasih, Riris,” katanya, penuh rasa terima kasih.

Tanpa menjawab, Riris melepaskan tangan Ronald, lalu berlalu pergi. Dalam hatinya, ada perasaan yang sulit dijelaskan, rasa ingin tahu yang ingin ia ungkapkan. Dia ingin berbicara lebih lama dengan Ronald, tetapi rasa malu selalu menghalanginya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, terutama tentang bagaimana Ronald bisa sampai terdampar di tepi sungai itu, tapi sejak dia sadar, Riris tidak pernah berani menanyakan hal itu. Ia merasa tidak berhak, atau mungkin lebih tepatnya, dia tidak tahu bagaimana memulainya.

Namun, meskipun begitu, ada perasaan aneh di dalam hatinya. Seolah-olah ada ruang kosong dalam dirinya yang kini terisi kembali. Perasaan itu begitu sulit dipahami, bahkan untuk dirinya sendiri. Dia tidak ingin salah mengartikan perasaan itu, jadi ia memilih untuk menahannya, menyimpannya dalam hati, dan membiarkannya tetap mengendap di dalam benaknya.

Sementara itu, Ronald belum punya rencana yang jelas tentang apa yang harus dilakukannya setelah sembuh. Apakah ia akan kembali ke kota dan memperjuangkan cintanya, atau apakah ia akan tetap bertahan dan menggapai tujuan lainnya? Semua itu masih kabur dalam pikirannya, perasaan yang sangat samar dan sulit dijelaskan.

Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa ia tidak bisa tinggal terlalu lama di rumah orang. Itu terasa tidak elegan dan terlalu manja bagi dirinya sendiri. Bahkan kini, yang terus mengisi pikirannya adalah bayangan wajah Angela yang bersedih. Semua senyuman yang pernah Angela berikan kepadanya kini mulai memudar, berubah menjadi kerinduan yang semakin mengiris perasaannya.

Berkali-kali Ronald mengembuskan napas panjang, sambil memijat pelipisnya yang terasa berat. Malam yang semakin larut tak juga membuat dirinya mengantuk. Alih-alih, pikirannya terasa semakin berat, jadi ia memutuskan untuk keluar dan menikmati udara malam yang sejuk.

Langkah kaki Ronald yang terhuyung-huyung terdengar hingga ke telinga Riris, membuatnya terbangun. Tanpa pikir panjang, ia segera keluar dari kamar dan mendekati Ronald.

“Ronald? Kamu mau ke mana?” tanya Riris, khawatir, sambil membantunya agar bisa berdiri dengan lebih tegak.

“Ah, maaf. Saya nggak sengaja membangunkanmu?” Ronald menjawab dengan suara pelan, terasa canggung.

Riris menggeleng pelan. “Nggak, kok. Aku belum tidur,” jawabnya, lalu tersenyum.

Ronald menghela napas berat. “Saya nggak bisa tidur. Entahlah kenapa, saya hanya ingin keluar.”

“Ya, sudah. Biar aku bantu kamu,” kata Riris, sambil dengan hati-hati menuntun Ronald hingga mereka sampai di teras rumah. Setelah itu, ia membantu Ronald duduk di kursi rotan yang terletak di sana.

Lihat selengkapnya