Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #47

Cocok Menjadi Istri

Setelah beberapa hari tinggal di rumah Riris, keadaan Ronald semakin membaik. Kepala yang sebelumnya pusing kini sudah tidak terasa lagi, dan ia bisa berjalan dengan lebih stabil tanpa harus sempoyongan. Perkembangan pesat itu tentu berkat perhatian penuh yang diberikan Riris dan kedua orang tuanya, yang telah menganggapnya seperti keluarga sendiri.

Riris selalu hadir dengan perhatian yang begitu hangat. Kadang, jika Ronald merasa malas makan, gadis berambut sebahu itu akan dengan sabar memancing nafsu makannya, menggoda dengan kata-kata ringan, bahkan dengan senyuman yang membuat Ronald tak bisa menolaknya.

Namun, kali ini berbeda. Meskipun makanan sudah terhidang di hadapannya, Ronald tetap tak berselera. Bubur yang tadi disiapkan Riris masih tampak utuh, sendoknya pun belum bergerak dari posisinya.

"Loh, kenapa buburnya belum dimakan?" tanya Riris dengan nada terkejut. Ia mengamati hidangan itu, heran kenapa Ronald belum menyentuhnya, padahal ia sudah menunggu cukup lama.

"Saya sedang nggak nafsu makan, Ris. Entah kenapa, padahal biasanya saya nggak pilah-pilih makanan. Cuma, sepertinya saya nggak mau makan bubur lagi," jawab Ronald dengan jujur, tampak sedikit kebingungan dengan dirinya sendiri.

Riris mengangkat sebelah alis, seolah berpikir sejenak. "Oh, jadi kamu mau makan yang lain, ya? Iya, juga sih, pasti bosan kalau makan bubur terus. Keadaanmu juga udah jauh lebih baik dari sebelumnya, kok. Gini aja, deh. Aku akan buatkan makanan lain buat kamu. Tapi, jangan ketawa ya kalau rasanya aneh," ujar Riris sambil tersenyum lebar.

“Ketawa? Saya baru tahu ada makanan yang lucu untuk ditertawakan.” Ronald membalas, setengah tertawa.

Riris mendesah sambil tersenyum. "Bukan begitu juga. Ya sudah, aku akan masak buat kamu, jangan khawatir." Dengan semangat, dia bangkit dan siap menuju dapur.

Namun, tiba-tiba Ronald meraih tangan Riris dengan lembut. "Boleh saya membantumu?" tanyanya, suaranya penuh keinginan untuk ikut serta.

Riris terkejut. Ia tidak menyangka Ronald akan tiba-tiba berinisiatif membantu. “Nggak usah, deh. Kamu istirahat aja. Walaupun keadaanmu udah makin baik, belum tentu juga kamu …,” ucapnya, tapi perkataannya terhenti begitu saja.

“Nggak apa-apa, saya akan bantu.” Ronald meyakinkan, tetap tersenyum.

Dengan sedikit kebingungan dan rasa tak bisa menolak, Riris akhirnya mengangguk pelan. Tentu saja, ia tak bisa menolak permintaan itu. Bahkan, dia merasa ini adalah kesempatan untuk semakin dekat dengan Ronald. Momen ini bisa menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya—suatu pengalaman yang terasa luar biasa, lebih dari apa yang ia ekspektasikan.

"Ris? Kamu kenapa?" Ronald bertanya, suaranya lembut, melihat Riris terdiam sejenak, seolah melamun.

Riris tersadar, langsung mengalihkan pandangannya. “Ah, nggak apa-apa. Aku cuma ... berpikir soal serunya nanti masak bareng kamu.” Riris tersenyum malu-malu, merasa sedikit canggung, tapi tak sabar untuk segera ke dapur dan menghabiskan waktu bersama Ronald.

“Eh, nggak apa-apa, kok. Oke, kalau gitu, ikut aku, yuk, ke dapur,” ajak Riris, tersenyum lebar.

Mereka pun melangkah bersama ke dapur kecil yang penuh sayuran segar. Ruangan yang sederhana itu terasa hangat berkat aneka sayur yang tertata rapi di rak.

“Banyak sekali sayur-sayuran di sini,” kata Ronald, matanya menyusuri berbagai macam sayur yang tampak baru dipetik.

“Ya, orang tuaku punya perkebunan. Jadi, hampir semua bahan makanan di rumah ini, selain daging, berasal dari kebun kami,” jawab Riris sambil tersenyum bangga.

Ronald mengambil kentang dari keranjang besar di dekat mereka, lalu mengangguk. “Keren sekali. Sangat worth, ya,” ucapnya.

Riris tertawa kecil. “Oke, sekarang aku tanya, apa yang mau kamu makan?”

Lihat selengkapnya