Riris tak bisa memungkiri, ketakutan terbesarnya perlahan mendekat. Jika Ronald sepenuhnya pulih dan harus kembali ke kota, itu berarti mereka akan segera berpisah. Pikiran itu saja sudah cukup menyakitkan, tapi mengharapkan Ronald tetap sakit agar ia tetap tinggal? Itu kejam, tidak manusiawi. Bahkan membayangkannya membuat Riris merasa bersalah.
Seiring waktu, Riris mulai memahami apa yang sebenarnya ia rasakan. Debaran yang tak pernah mereda saat berada di dekat Ronald, dan kegelisahan yang muncul setiap kali memikirkan kepergiannya. Semuanya semakin jelas—ini lebih dari sekadar simpati.
“Besok saya akan meninggalkan kampung ini.”
Satu kalimat itu menghantam Riris seperti angin dingin di malam sepi. Wajahnya sedikit berubah, meski ia mencoba menyembunyikannya. Bola matanya yang hitam indah berpindah ke sembarang arah, seolah mencari tempat untuk melarikan diri dari kenyataan. Ia tahu hari ini akan tiba, tapi tetap saja, rasa kecewa itu sulit diterima.
“Secepat itu? Kamu nggak mau tinggal lebih lama?” tanyanya, suaranya terdengar lemah, hampir seperti bisikan.
Ronald hanya mengembangkan senyum tipis. Tekadnya sudah bulat. Masih banyak hal yang harus ia lakukan di kota, termasuk menenangkan rindu pada Angela—sebuah perasaan yang terus menusuk hatinya. Riris mungkin tidak tahu siapa Angela, tapi bagi Ronald, dia adalah bagian dari hidupnya yang belum selesai.
“Saya janji, suatu saat akan kembali mengunjungimu di sini,” jawab Ronald tenang. “Tapi untuk saat ini, saya harus kembali ke kota.”
“Ada urusan penting?”
Ronald mengangguk. “Sangat penting.”
Riris mengerutkan dahi, penasaran dengan apa yang dimaksud Ronald. Namun, ia tahu batasannya. Masih banyak hal yang lelaki itu simpan rapat, dan Riris tidak ingin memaksa. Ia menghargai privasinya, meski hatinya ingin tahu lebih banyak tentang dunia Ronald.
“Aku nggak nyangka kamu akan pergi secepat ini,” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Ronald menangkap nada sedih dalam suara gadis itu. Matanya yang dulu ceria kini tampak redup, seperti ada luka kecil yang berusaha ia sembunyikan.
“Oh, ya.” Ronald berkata, mencoba memecah keheningan. “Saya masih penasaran, bagaimana caranya kamu menyelamatkan saya waktu itu?”
Pertanyaan itu membuat Riris langsung membeku. Wajahnya memanas, dan ia menggigit bibir bawah, gugup. Selama ini, ia sengaja tidak pernah membahasnya. Apa yang ia lakukan waktu itu benar-benar memalukan baginya. Jika Ronald tahu, ia takut lelaki itu akan menertawakannya.
Ronald, yang tidak sabar menunggu jawaban, mendekatkan tubuhnya sedikit, mencondongkan badan. “Kenapa diam saja? Wajar, kan, kalau saya ingin tahu? Saya harus berterima kasih, setidaknya.”
Riris menundukkan kepala, suara hatinya berteriak, Apa aku harus cerita? Apa yang akan dia pikirkan? Setelah menarik napas panjang, ia berkata pelan, “Tapi, kamu janji nggak akan berpikir macam-macam?”
Ronald mengernyitkan dahi, lalu terkikik kecil. “Untuk apa, memangnya? Menyelamatkan nyawa orang itu sesuatu yang luar biasa, tahu.”
“Tapi … tapi ini bener-bener sesuatu yang nggak pernah kamu duga sebelumnya,” jawab Riris, suaranya hampir bergetar.
Mendengar itu, Ronald hanya tersenyum, lalu mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas kepala Riris, mengusapnya lembut. Gadis itu terdiam, tubuhnya kaku seperti patung. Wajahnya memerah, dan jantungnya berdegup kencang.