Ronald dan Riris saling bersitatap. Ada keraguan di wajah Ronald, campuran antara bingung dan tak percaya. Ucapan Riris terasa begitu tiba-tiba, membuatnya ragu apakah ia mendengar dengan benar.
“Apa saya salah dengar? Maksudmu apa?” tanya Ronald dengan nada lembut, meskipun matanya tetap menelisik.
Riris, yang kini merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, tertawa kecil, mencoba menutupi rasa malunya. Pandangannya ia alihkan ke arah lain, berharap Ronald tidak membaca terlalu jauh. Sejujurnya, ia sama sekali tidak berniat menyatakan sesuatu seperti itu—tidak secepat ini. Namun, entah bagaimana, perasaan yang selama ini ia coba pendam berhasil mengkhianatinya.
“Lupain aja,” ucap Riris dengan suara lirih, hampir seperti bisikan.
Namun, bagi Ronald, kalimat itu tidak semudah itu dilupakan. Ia menatap Riris lebih lama, mencari kebenaran di dalam bola mata gadis itu. Ada sesuatu yang begitu nyata di sana, meskipun ia sempat meragukan apakah Riris benar-benar serius.
“Kenapa saya harus melupakannya? Riris, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?”
Waktu seolah berhenti bagi Riris. Kata-kata yang telah terlanjur keluar tidak bisa ditarik kembali. Meski hatinya penuh keraguan, ia sadar bahwa ini saatnya untuk menjelaskan, sebaik atau seburuk apa pun hasilnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.
“Maaf, Ronald. Aku cuma ... cuma latihan nyatain perasaan. Itu aja. Nggak ada maksud apa-apa,” jawabnya, meski nada suaranya terdengar goyah.
Ronald memiringkan kepalanya, menatap Riris dengan sorot mata tajam yang sulit diabaikan. Ia meraih tangan gadis itu, menggenggamnya dengan lembut tetapi tegas. “Jangan alihkan pandanganmu. Saya di sini. Kamu bicara dengan saya, jadi kamu harus melihat saya.”
Kata-kata itu membuat Riris terpaku. Degup jantungnya kini semakin memberontak, seperti ingin melompat keluar dari dadanya. Sulit sekali menelan saliva, dan kata-kata yang ingin ia sampaikan terasa tersangkut di tenggorokan.
“Apa maksud kata-katamu barusan? Jangan mengelak. Saya cuma ingin tahu yang sebenarnya,” desak Ronald, kali ini dengan nada yang lebih tenang dan penuh ketegasan.
Riris mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan kegugupannya. “Maaf, Ronald. Maaf ....”
“Kenapa kamu malah minta maaf? Kamu nggak salah apa-apa, kok. Saya cuma pengin tahu lebih lanjut. Itu saja.” Ronald mencoba meyakinkannya, suaranya kini lebih lembut.
Riris menggigit bibir bawahnya, merasa semakin terjebak. Perasaannya berkecamuk. Ia tidak ingin Ronald salah paham atau, lebih buruk lagi, menganggapnya sebagai gadis yang mudah jatuh cinta. Itu bukan dirinya. Namun, setiap detik yang berlalu hanya menambah tekanan.
“Aku udah bilang, kan, Ronald? Aku cuma latihan nyatain perasaan cinta. Itu aja. Beneran,” jawabnya dengan suara pelan, tapi matanya tak mampu menatap Ronald.
Ronald memiringkan kepalanya sedikit, mengamati ekspresi Riris yang jelas terlihat gugup. “Benar begitu? Jadi, kamu punya seseorang yang kamu suka?”
Pertanyaan itu membuat segalanya semakin rumit. Riris tahu ia harus memberikan jawaban, tetapi lidahnya terasa kelu. Kalau ia bilang iya, apakah Ronald akan menganggapnya serius? Atau justru bertanya siapa lelaki itu? Tapi kalau ia bilang tidak, bukankah itu sama saja membohongi perasaannya sendiri?
Batinnya bergolak. Aduh, aku harus bilang apa ini? pikir Riris, geregetan dengan dirinya sendiri. Sementara itu, Ronald masih menatapnya penuh perhatian, menunggu jawaban yang tak kunjung keluar.
“Hmm ... iya, aku punya.”