Hari perpisahan Ronald dan Riris menjadi momen yang sulit dilupakan, menyisakan jejak yang tertanam di hati keduanya. Tak ada yang tahu pasti apakah takdir akan mempertemukan mereka kembali. Yang jelas, Ronald tidak akan berhenti melangkah, memperjuangkan hidup, dan menerima kenyataan pahit dari cintanya yang telah lama berakhir.
Tanpa persiapan yang matang, hari itu Ronald kembali ke rumah kos lamanya untuk mengambil sisa tabungan yang selama ini ia kumpulkan dari bekerja sebagai tukang parkir. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi cukup untuk memulai usaha kecil. Namun, satu hal yang pasti, ia tak mungkin lagi tinggal di sana.
Ronald memutuskan pindah ke rumah kos baru. Sebagian dari tabungannya langsung terpakai untuk membayar sewa tempat tinggal itu. Dengan keuangan yang semakin menipis, ia harus segera mencari pekerjaan sampingan untuk bertahan. Duduk di teras kos barunya, ia termenung, mencoba merancang rencana berikutnya.
Namun, lamunannya terganggu suara langkah yang mendekat. Ketika ia mendongak, matanya bertemu dengan sosok yang cukup familier—Hana. Gadis itu berdiri terdiam beberapa detik, matanya membesar, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ronald-kun ….” Suara Hana terdengar lirih, penuh emosi yang terpendam. Tanpa menunggu lebih lama, dia berlari menghampiri Ronald.
Gadis berambut panjang itu langsung meraih tubuhnya dan memeluknya erat. Pelukan itu penuh dengan rasa rindu dan haru, membuat Ronald sedikit terkejut tapi tak berniat menghindar.
“Hei, kenapa kamu menangis?” Ronald bertanya, suaranya pelan, mencoba menenangkan Hana yang masih terisak di dadanya.
“Ronald-kun … aku pikir kamu sudah … kamu sudah ….” Hana berusaha berkata di sela tangisnya, tetapi kata-katanya terputus oleh emosinya yang meluap.
“Saya masih hidup, Hana. Lihat, saya baik-baik saja.” Ronald menjawab lembut. “Sudah, jangan menangis. Semuanya akan baik-baik saja.”
Isakan Hana perlahan mereda, tapi tangannya tetap enggan melepaskan Ronald. “Aku senang sekali. Aku benar-benar bersyukur. Doaku akhirnya terkabul. Kamu kembali, Ronald-kun. Kamu benar-benar kembali .…”
Kesedihan Hana terpampang jelas di wajahnya. Ronald bisa merasakan betapa tulus perhatian gadis itu padanya. Ada rasa hangat yang perlahan tumbuh di dalam hatinya, sebuah rasa terima kasih yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Namun, bersamaan dengan itu, ada sedikit kegetiran. Dalam hati kecilnya, ia berharap orang lain yang memeluknya seperti ini—Angela. Namun, ia menepis pikiran itu. Tidak adil membandingkan kasih sayang dua orang yang berbeda.
Setelah beberapa saat, Hana akhirnya melepaskan pelukannya. Ia segera menyeka air matanya yang mengalir tanpa henti. Wajahnya masih sedikit merah, tetapi ada senyuman kecil yang mencoba muncul di antara kepedihan.
“Ronald-kun,” ucap Hana tiba-tiba. “Kamu harus pulang.”
Dahi Ronald berkerut. Kata-kata Hana barusan mengejutkannya. Mengapa ia menyuruhnya pulang? Bukankah gadis itu pernah berjanji untuk membantunya meraih mimpi dan melanjutkan perjuangannya?
“Pulang?” tanya Ronald, mencoba mencari penjelasan. “Apa maksudmu? Kenapa aku harus pulang?”
Hana terdiam, menggigit bibir bawahnya seolah ragu untuk menjawab. Namun, ada sesuatu dalam matanya—sebuah kegelisahan yang sulit disembunyikan. Sesuatu yang membuat Ronald semakin penasaran dan bingung.
“Saya nggak akan pulang, Hana. Kita sudah membicarakan semua ini. Semua sudah jelas, dan kamu pasti mengerti,” kata Ronald dengan nada tegas, meskipun ada keraguan yang tersembunyi di balik suaranya.
Hana terdiam, menundukkan kepala. Ada sesuatu yang berat ia sembunyikan, sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sekian lama ia ragu untuk mengungkapkannya, tapi kali ini ia tahu bahwa ia tak bisa menunda lagi. Dengan napas yang dalam, ia membulatkan tekad untuk berbicara.