Dahi Ronald berkerut dalam. Ia tak pernah menyangka bahwa ibunya pun mengetahui tentang Angela dan masa lalu mereka. Selama ini, ia mengira hanya ayahnya yang memahami kisah tersebut. Namun, kenyataan yang baru terungkap ini membuat pikirannya berkecamuk.
Sekilas, ia melirik Hana yang hanya membalas dengan senyum tipis. Ronald bisa menebak bahwa gadis itu mungkin telah menceritakan segalanya kepada ibunya. Wajar saja, Hana sudah berjanji untuk selalu membantunya, apa pun situasinya.
“Apa maksud Mommy? Apa yang Mommy ketahui tentang Angela?” tanya Ronald, suaranya terdengar sedikit gemetar.
Ibunya terbatuk pelan, napasnya terdengar berat dan tersengal. Ronald segera meraih gelas berisi air mineral yang ada di nakas dan menyerahkannya kepada sang ibu. “Jangan memaksakan diri, Mom. Kalau ceritanya terlalu berat, kita bisa membicarakannya lain waktu. Ronald janji akan sering mengunjungi Mommy kalau ada kesempatan. Maafkan Ronald, ya. Ronald sadar selama ini Ronald sudah jadi anak durhaka. Ronald cuma … Ronald cuma nggak ingin kebebasan Ronald direnggut siapa pun, termasuk Ayah.”
Sang ibu mengulurkan tangannya yang lemah, mengelus lembut rambut Ronald. Sentuhan itu membuat Ronald menunduk, air mata yang menggantung di sudut matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Perasaan bersalah menyelubungi dirinya. Ia terlalu lama sibuk dengan kemarahan dan egonya, hingga melupakan wanita yang paling peduli padanya.
“Dengar, Nak.” Suara sang ibu terdengar lemah, tetapi cukup jelas untuk menusuk hati Ronald. “Memang benar, Angela adalah teman masa kecil kalian. Dulu, kalian berempat selalu bersama. Bermain di taman, berbagi tawa. Kalian tak pernah terpisahkan.”
Dahi Ronald berkerut lebih dalam. “Berempat?” gumamnya. Fakta itu membuat pikirannya semakin kacau. Selama ini, ia hanya mengingat Angela dan Hana sebagai bagian dari masa kecilnya. Tapi kalau begitu, siapa satu orang lagi?
“Dulu, keluarga Kobayashi dan keluarga Prastisia sangat dekat, seperti satu keluarga besar. Kita seperti dua cabang dari pohon yang sama, saling mendukung dan tak terpisahkan. Tapi kemudian, semuanya berubah.”
Ronald menajamkan pendengarannya, berusaha menyerap setiap kata.
“Saat ayahmu memutuskan untuk mendirikan Kobayashi Advertising, hubungan dua keluarga itu perlahan mulai renggang. Ayahmu berubah. Ambisinya untuk membangun perusahaan membuatnya semakin jauh dari semua orang, bahkan dari keluarganya sendiri. Dan ketika keluarga Prastisia mendirikan perusahaan yang serupa, persaingan di antara mereka semakin tajam.”
Sang ibu terhenti sejenak, menarik napas panjang yang terdengar berat. Ronald langsung bergerak mendekat, rasa khawatir jelas tergambar di wajahnya. Namun, ibunya memberikan isyarat halus, meminta Ronald untuk membiarkannya melanjutkan cerita.
“Persaingan itu bukan hanya soal bisnis. Ada sesuatu yang lebih besar di baliknya. Sesuatu yang membuat keluarga kita tidak pernah sama lagi. Tapi, itu cerita panjang … dan ibu tidak yakin bisa menyelesaikannya sekarang.”
Ronald terdiam. Kata-kata ibunya seperti potongan puzzle yang perlahan menyusun gambaran besar di kepalanya. Namun, setiap jawaban yang ia terima justru melahirkan lebih banyak pertanyaan.
Hana yang berada di sudut ruangan menatap Ronald dengan mata penuh simpati. Dia tahu, lelaki itu sedang berusaha mencerna fakta-fakta yang selama ini terselubung. Ronald, meski tampak tenang, jelas sedang bergejolak di dalam.
Kini, setidaknya satu misteri mulai terungkap: hubungan kompleks antara keluarga Kobayashi dan Prastisia, serta bagaimana Angela terhubung dengan semua itu. Tapi siapa “orang keempat” yang disebutkan ibunya? Ronald merasa ia harus tahu, meski ia ragu apakah ia siap menghadapi kebenaran berikutnya.
“Sejak ayahmu memutuskan bahwa keluarga Prastisia adalah saingan, segalanya berubah.” Suara sang ibu terdengar pelan tapi penuh penyesalan. “Mereka tidak pernah lagi berkunjung atau berkumpul bersama kami. Setelah itu, kamu dan Hana segera dikirim ke Jepang untuk sekolah dan tinggal di sana. Itu keputusan ayahmu, yang tidak pernah bisa ibu ubah.”
Ronald mendengarkan dengan cermat, menyadari betapa dalam dampak keputusan ayahnya terhadap hubungan keluarga mereka. Namun, satu hal terus mengusik pikirannya.
“Tapi, Mom,” Ronald bertanya perlahan, “siapa satu orang lagi di cerita Mommy? Bukankah ada empat orang? Ronald, Hana, Angela, dan … siapa lagi?”