Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #52

Kesepian

Kematian Rachel tidak hanya membawa kesedihan, tetapi juga membakar dendam yang telah lama terpendam di dalam hati Ronald. Baginya, absennya Takeda hingga saat-saat terakhir kehidupan istrinya adalah dosa yang tak terampuni. Pria itu, ayahnya sendiri, telah menunjukkan ketidakpedulian yang nyata, dan itu membuat Ronald merasa muak setiap kali memandang wajahnya.

Ronald memahami bahwa air mata tidak akan mengubah apa pun. Namun, sebagai seorang manusia, ia tidak bisa menahan gelombang kesedihan yang terus menghantam hatinya. Wanita yang selama ini menjadi pelindung, pembimbing, dan sumber cinta tak bersyaratnya kini telah pergi untuk selamanya. Itu adalah luka yang tak terkatakan.

Dengan mata yang memerah karena amarah dan kesedihan, Ronald bangkit dari tempatnya berdiri. Kedua tangannya terkepal erat, kuku-kuku jemarinya hampir menusuk telapak tangan. Kegeramannya tak tertahan lagi.

“Tua bangka sialan,” gumamnya dengan suara rendah, penuh kebencian.

Pintu ruangan terbuka. Di sana berdiri Takeda Kobayashi, pria paruh baya dengan tatapan dingin. Dia tampak acuh melihat keramaian dokter dan perawat yang tengah sibuk memeriksa tubuh istrinya yang tak lagi bernyawa. Namun, lebih dari itu, dia bahkan tidak menunjukkan sedikit pun tanda duka.

Ronald menatap ayahnya dalam-dalam, matanya menyala seperti api yang siap melahap apa saja. Seluruh tubuhnya terasa panas oleh amarah. Ia tidak peduli lagi akan sopan santun atau hubungan darah. Takeda telah melampaui batas kesabarannya.

Tanpa ragu, tubuh Ronald bergerak maju, tinjunya terangkat, diarahkan ke wajah Takeda. Satu pukulan penuh tenaga melayang. Namun, sebelum itu mencapai sasaran, dua pria berjas hitam—pengawal pribadi Takeda—dengan sigap menahan Ronald, mencengkeram kedua lengannya dengan kuat.

“Lepaskan saya! Bangsat! Lepaskan saya, bajingan!” Ronald berteriak penuh emosi, tubuhnya berontak dengan kekuatan yang seolah berasal dari kebenciannya yang dalam.

Takeda hanya berdiri di tempatnya, senyum sinis mengembang di wajahnya. “Anak tidak tahu diri. Tidak tahu terima kasih!” ujarnya dingin, suaranya terdengar seperti cambuk yang menambah luka di hati Ronald.

Hana yang berdiri di sudut ruangan hanya mampu memandang dalam diam. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Ronald mengamuk seperti ini—seperti seseorang yang benar-benar dirasuki amarah tak tertahankan. Tapi bukankah itu wajar? Hana tahu betul, semua ini berasal dari rasa kehilangan yang mendalam dan kebencian terhadap seorang ayah yang bahkan tak menunjukkan kesedihan atas kepergian istrinya.

Takeda berjalan mendekat ke tubuh Rachel yang terbaring diam. Tanpa menyentuhnya, ia hanya berkata, “Bereskan semuanya. Makamkan Rachel dengan layak. Dia pantas mendapatkannya.” Tidak ada nada emosi dalam suaranya, hanya perintah yang datar.

Ucapan itu seperti bara yang dilempar ke api kemarahan Ronald. Seketika, tubuhnya meledak dengan energi baru. Dengan satu gerakan keras, ia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kedua pengawal itu. Tinju Ronald kembali terangkat, kali ini tidak ada yang bisa menghentikannya.

“Ini untuk semua yang telah kau abaikan!” teriak Ronald sebelum tinjunya menghantam wajah Takeda dengan keras.

Pria paruh baya itu tersungkur ke lantai, terjatuh dengan tubuh yang lunglai. Di sekelilingnya, suasana menjadi sunyi. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang berbicara. Hanya suara napas berat Ronald yang terdengar, bersama dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.

Untuk sesaat, Ronald merasakan kelegaan kecil—meskipun ia tahu, pukulannya takkan pernah cukup untuk menggantikan keadilan yang tak akan pernah ia dapatkan dari pria yang seharusnya menjadi ayahnya itu.

Lihat selengkapnya