Setelah kepergian Rachel, ibunya, Ronald berubah menjadi sosok yang kehilangan arah. Hari-harinya dihabiskan dalam kesendirian, menutup diri dari dunia luar. Bahkan, kunjungan Hana yang tak henti-henti selama sepekan penuh tak sedikit pun menggoyahkan pertahanannya. Ia menolak semua upaya gadis itu untuk menemaninya melewati duka.
Mata Ronald, yang berwarna kuning keemasan, kini terlihat redup, kehilangan kilau yang dulu menjadi ciri khasnya. Kantung mata yang gelap dan dalam menandakan malam-malam tanpa tidur, di mana ia hanya terjaga memikirkan kenyataan pahit yang datang tiba-tiba, menghantam seperti pisau tajam ke jantungnya. Begitulah ia menjalani hari-hari kelamnya, tenggelam dalam jurang depresi.
Namun, pagi ini ada yang berbeda. Ronald terlihat sedikit lebih hidup dibandingkan sepekan terakhir. Mungkin ia lelah dengan kesedihannya, atau mungkin ia sadar bahwa berlarut-larut dalam duka hanya membuang waktu. Hidup masih berjalan, dan ada hal-hal yang harus ia capai—termasuk, tentunya, memenangkan cinta Angela, seperti yang selalu diinginkan mendiang ibunya.
Saat ia melangkahkan kaki keluar dari kamar kos kecilnya, sosok seorang perempuan berdiri di depan pagar. Perempuan itu terlihat jauh lebih dewasa, dengan gaun merah menyala yang pas di tubuhnya, belahan dada yang mencolok, dan lipstik merah menggoda yang menambah kesan berani. Di belakangnya, berdiri beberapa pria berjas hitam dengan sikap tegas, jelas merupakan pengawal yang siap siaga. Ronald mengenali jas hitam itu—mereka adalah orang-orang suruhan ayahnya.
"Ada apa ini?" Ronald bertanya, alisnya berkerut tajam.
Perempuan itu menyunggingkan senyum manis, melangkah mendekatinya tanpa ragu. Dengan gerakan anggun, ia meletakkan kedua tangannya di bahu Ronald, menatapnya dalam-dalam seolah sudah mengenalnya sejak lama.
"Ronald," katanya dengan nada menggoda. "Ayo, kita bersenang-senang, Sayang."
Ronald menatapnya tajam, mencoba memahami maksud dari semua ini. "Bersenang-senang? Apa maksudmu? Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya dengan nada dingin, menuntut jawaban yang masuk akal.
Perempuan itu hanya terkekeh pelan, seolah menikmati kebingungan Ronald. "Kamu nggak perlu tahu siapa aku, Sayang," jawabnya santai. "Itu nggak penting sama sekali. Yang lebih penting adalah kita akan bersenang-senang malam ini. Aku sudah menyiapkan ranjang istimewa untuk kita berdua."
Nada suara dan sikap perempuan itu membuat darah Ronald mendidih. Tanpa ragu, ia menepis tangan yang melingkar di bahunya. Sorot matanya berubah tajam seperti elang yang siap menerkam mangsa.
"Dengar, saya nggak punya waktu untuk urusan sepele seperti ini!" katanya tegas. "Waktu saya terlalu berharga bahkan melebihi nyawa kamu sendiri. Jadi, minggir dari jalan saya!"
Ia melangkah maju, berniat meninggalkan perempuan itu, tetapi para pria berjas hitam dengan sigap bergerak menghadangnya. Ronald berhenti, matanya menyapu mereka satu per satu dengan penuh amarah.
"Apa maksud dari semua ini? Apa ini ulah tua bangka itu?!" bentaknya, merujuk pada ayahnya.
Namun, seperti patung tanpa emosi, tidak satu pun dari para pria itu menjawab. Mereka hanya berdiri memblokir jalan, membuat Ronald semakin frustrasi. Napasnya memburu, menahan amarah yang hampir meledak. Di tengah ketegangan itu, ia tahu, ini bukan pertemuan kebetulan. Ini adalah rencana—dan jelas ada tujuan di baliknya.
“Kenalin, namaku Amaliya. Aku di sini untuk membuatmu bersenang-senang,” kata wanita itu sambil mengulurkan tangan, mengajak Ronald berjabat tangan.
Ronald mengamati Amaliya dari ujung kaki hingga kepala, berhenti pada dua lekuk tubuh yang tampak begitu menggoda. Namun, jauh di dalam hatinya, ia merasa bimbang. Ah, dia bukan lagi pria bejat yang beberapa bulan lalu hanya memikirkan kesenangan sesaat. Kini, ia tidak menginginkan hal itu.