Lebih dari satu jam pingsan, Ronald akhirnya membuka matanya perlahan. Ia meraba pelipisnya, merasakan pusing yang masih menghinggapinya. Pandangannya kabur saat ia berusaha fokus pada objek-objek di sekeliling kamar hotel itu. Namun, begitu pandangannya kembali jelas, matanya tertumbuk pada sosok yang paling menarik perhatian—Amaliya.
“Selamat datang kembali, Ronald Kobayashi,” ujar Amaliya dengan senyum yang perlahan mengembang di wajahnya.
Ronald mengernyitkan dahi, mencoba mencerna situasi. Ia tidak bergerak sedikit pun. Bahkan, ketika menyadari dirinya berada dalam keadaan bertelanjang dada, ia hanya diam, tampak seperti itu sudah biasa baginya.
"Saya di mana? Dan kamu ... siapa?" Ronald menajamkan pandangannya, berusaha mengingat dengan susah payah sosok wanita di hadapannya.
Amaliya menatapnya dengan tatapan penuh arti. “Saya Amaliya, seseorang yang bertugas menjagamu. Perintah saya langsung turun dari Tuan Kobayashi.”
Ronald tanpa banyak bicara bangkit, meraih jaket kulit hitam yang tergeletak di sampingnya, dan mengenakannya.
“Tunggu, kamu butuh kunci untuk keluar,” kata Amaliya dengan suara lembut, sambil melemparkan kunci kamar hotel itu. Ronald menangkapnya dengan gesit, tanpa ragu.
Setelah Ronald akhirnya keluar dari kamar, Amaliya tersenyum lebar, seringai kembali terukir di wajahnya. Dengan langkah cepat, ia mengenakan pakaian dan segera mengikuti jejak langkah Ronald.
“Misi berhasil,” gumamnya, seakan berbicara pada dirinya sendiri.
Ronald telah berubah. Tak lagi ada jejak pria yang dulu, yang masih memiliki kenangan dan emosi tentang masa lalu. Terlihat jelas dari bagaimana ia bereaksi pertama kali menemukan dirinya berada di ranjang bersama Amaliya. Biasanya, ia akan terkejut dan menjauh, tapi kali ini tidak. Ia bergeming, tak terpengaruh. Ia sudah tak lagi mengingat siapa dirinya yang dulu—semuanya telah hilang begitu cairan biru itu menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Saya butuh mobil," kata Ronald, suaranya tenang dan datar.
Amaliya merogoh tasnya, menarik keluar kunci mobil, dan menekan tombol alarm untuk memberi tahu posisi mobilnya. “Seperti yang kamu inginkan, Sayang,” katanya dengan nada yang terdengar cukup manja.
Ronald menangkap kunci itu tanpa ragu, lalu membalas dengan tegas, “Jangan panggil saya dengan panggilan aneh seperti itu.”
Ia berjalan menuju mobil berwarna putih mulus yang sudah menunggu di luar.
“Aku akan mengikuti ke mana pun kamu pergi,” kata Amaliya, tetap di belakang Ronald.
Mobil pun melaju, mesinnya menyala dengan deru halus, dan Ronald mengembuskan napas panjang. Ia menekan pedal gas, meluncur menuju istana pribadinya. Tak ada lagi rasa keterikatan pada apa pun, termasuk perasaan cinta yang dulu ada untuk Angela. Semua itu telah terkubur dalam ingatannya yang kosong.
Begitu tiba di pintu gerbang istana, para pria berjas hitam berbaris rapi seolah menyambut kedatangan seorang pangeran. Takeda Kobayashi, ayah Ronald, berdiri di balkon rumah, tak sabar menunggu kedatangan putranya yang baru—putra yang telah berubah.
Mobil itu akhirnya memasuki halaman rumah yang luas. Ronald tak terkejut dengan acara penyambutan itu. Dengan langkah pasti, ia berjalan di antara barisan pria berjas yang berdiri tegak di sepanjang halaman. Ia terus maju hingga berdiri di hadapan sang ayah, tanpa rasa terkejut, tanpa emosi yang menggebu. Hanya ada keheningan di antara mereka.
“Ronald, putraku.” Takeda segera menarik Ronald dalam pelukan erat, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, seolah ingin melepaskan kerinduan yang telah lama terpendam dalam hati. “Selamat datang kembali, Ronald Kobayashi, putra yang sangat saya cintai.”
“Ya, Ayah,” jawab Ronald, suaranya datar tapi penuh penghormatan.
Keduanya terdiam sejenak, saling bertatapan, seolah merenungi momen yang baru saja terjadi.