Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #55

Bukan Lagi Seorang Ronald

Kobayashi Advertising adalah nama yang tak asing lagi di seluruh penjuru kota. Sebagai salah satu perusahaan iklan terbesar, mereka memiliki cabang-cabang di berbagai negara maju maupun berkembang. Keberadaan mereka selalu terlihat di berbagai media, baik offline maupun online, menjadikannya pilihan utama bagi banyak perusahaan yang ingin iklan mereka ditangani secara profesional oleh Kobayashi.

Hari ini, Ronald tiba bersama ayahnya di gedung pencakar langit yang menjadi kantor pusat Kobayashi Advertising. Hari ini adalah hari yang besar baginya—ia akan dilantik sebagai direktur utama, sesuai dengan harapan sang ayah, Takeda, yang ingin dirinya menjadi penerus perusahaan ini.

Di aula gedung, sejumlah karyawan sudah berkumpul setelah pengumuman yang dilakukan beberapa waktu lalu. Kerumunan itu tampak penuh dengan antusiasme dan kebanggaan.

Namun, di antara para karyawan yang hadir, seorang gadis berambut sebahu tampak terperangah. Riris, yang duduk di tengah kerumunan, tak bisa mempercayai matanya. Di sana, di depan matanya, berdiri seorang pria bermata kuning yang amat dikenalnya. Ia mengernyitkan dahi, beberapa kali memijat kelopak mata, mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilihatnya bukan sekadar halusinasi.

“Eh, kamu kenapa, Ris? Kaget banget mukamu.” Ayu, teman sekerjanya yang duduk di sebelah kanan, memecah lamunan Riris.

“Eh? Nggak, nggak. Aku nggak kenapa-kenapa,” jawab Riris terburu-buru.

“Ngomong-ngomong, direktur baru itu cakep juga, ya. Kalau begini, makin semangat deh aku buat kerja, nggak bakal bolos-bolos lagi.” Ayu berkata dengan senyum genit, matanya tak lepas dari Ronald yang kini berdiri di atas panggung.

“Kebiasaan kamu, deh, keganjenan. Jangan gitu, bisa dipecat kamu nanti,” ujar Riris, sedikit kesal.

Namun, meskipun percakapan ringan itu berlanjut, Riris tetap tak bisa melepaskan pikirannya dari sosok Ronald. Ia masih terkejut, belum bisa memahami bagaimana mungkin lelaki itu, yang dulu pernah ia temui dalam kondisi terpuruk, kini berdiri sebagai direktur utama di perusahaan raksasa ini. Ronald pernah mengatakan bahwa dia adalah orang miskin yang berjuang untuk bertahan hidup. Tapi sekarang, bagaimana mungkin Tuan Kobayashi mengklaim bahwa Ronald adalah anak kandungnya? Riris merasa kebingungannya semakin mendalam.

Namun, setelah melihat wajah Ronald lebih saksama, ia mulai merasakan ada yang aneh. Wajahnya tak sama dengan orang lokal. Sejak pertama kali bertemu, Riris sudah merasa ada yang berbeda dari dirinya, sebuah firasat yang kini semakin menguat.

Acara pelantikan pun selesai, dan para karyawan dibubarkan kembali ke meja kerja mereka masing-masing. Riris, yang masih belum yakin apakah lelaki yang kini menggantikan Takeda Kobayashi sebagai direktur utama benar-benar Ronald, berdiri menunggu di depan lift. Tak mungkin ia bisa tidur nyenyak malam itu tanpa jawaban pasti. Ia harus mencari tahu kebenarannya, meskipun harus berhati-hati, karena kini ia berhadapan dengan seorang direktur, bahkan jika pria itu adalah Ronald yang dulu ia kenal.

“Hmm, anu … maaf.” Riris dengan ragu menghentikan langkah Ronald. Sambil memeluk berkas-berkas yang harus dikerjakannya hari itu, dia menatap dengan malu-malu, menghadap wajah lelaki yang sudah dikenalnya itu.

“Ronald,” lirihnya, jantungnya berdegup keras, seakan berontak keluar dari dada.

Ronald mengernyitkan dahi, tampak bingung. “Kamu siapa?” tanyanya, suaranya tegas dan penuh intimidasi. Sikap dinginnya mulai terlihat jelas.

“M-Maaf, Pak. Saya Riris. Maaf, maaf ….” Riris buru-buru membungkuk, merasa dirinya sudah terlalu berani menyebut nama seorang direktur tanpa formalitas yang layak.

“Riris? Saya tidak kenal kamu! Kembali bekerja!” Ronald berkata dengan nada datar, tanpa sedikit pun tanda kenal.

Sebuah pukulan telak yang langsung menggetarkan dada Riris. Tak ada kata-kata untuk membela diri. Meskipun jelas lelaki itu adalah Ronald, yang dikenalnya, tetapi sikapnya sama sekali berbeda. Ronald yang ia ingat dulu selalu hangat, mudah tersenyum, jauh dari sosok dingin seperti ini.

Ronald melangkah masuk ke dalam lift. Sebelum pintu tertutup, ia menatap Riris dengan sorot mata yang tajam, begitu lamat, tapi penuh jarak.

Riris hanya bisa bersandar pada dinding, menunduk, mencoba menenangkan pikirannya. Hanya satu yang ia harapkan, semoga semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun, setelah mendengar kalimat dingin dari Ronald, ia tahu itu bukan mimpi. Rasanya begitu nyata dan begitu menyakitkan.

Lihat selengkapnya