Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #56

Melupakan Masa Lalu

Bukan sekadar kata-kata kosong, Ronald benar-benar membuktikan ancamannya. Dia tidak ragu memecat karyawan yang dianggapnya tidak kompeten, bahkan jika HRD keberatan dengan keputusannya. Jika perlu, Ronald akan mengganti struktur perusahaan, menyingkirkan mereka yang memiliki jabatan tinggi tanpa merasa segan sedikit pun.

Mendengar itu semua, Riris tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Dulu, Ronald yang dia kenal adalah sosok baik hati, penuh senyum, dan ramah. Namun, kini dia justru melihat Ronald sebagai lelaki yang pemarah dan tidak ingin kalah. Seolah-olah dia berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

Tak ada jalan untuk menyangkal bahwa ini adalah Ronald. Gaya bicaranya yang tegas, tatapannya yang tajam seperti elang, semua itu menunjukkan bahwa pria yang berdiri di hadapannya ini adalah Ronald yang dulu dia kenal, meski kini tatapannya tidak lagi terasa hangat seperti dulu.

Sebagai sekretaris di perusahaan tersebut, Riris benar-benar merasa jengah dengan perubahan perilaku Ronald. Hari itu, dia diminta ikut serta dalam pertemuan dengan salah satu investor Kobayashi Advertising. Ketika mereka hendak memasuki mobil, Ronald bertanya dengan nada serius, “Kamu sudah menyiapkan semua berkas yang saya butuhkan?”

Riris yang sudah menyiapkan segalanya mengangguk dan menjawab dengan ragu, “Iya, Pak. Saya sudah menyiapkannya.”

Tanpa berkata lebih lanjut, Ronald merebut berkas yang dibawa Riris dan memeriksa beberapa bagian yang kemarin dia beri koreksi. Matanya menyapu setiap detail, dan kemudian dengan nada yang tetap dingin, dia berkata, “Masih belum terlalu rapi. Kamu harus belajar lebih banyak.”

Riris, yang sudah cukup muak dan merasa frustrasi, tak bisa menahan diri. Secercah kemarahan muncul dalam jawabannya. “Pak, saya sudah tahunan bekerja di sini, dan saya tidak pernah melihat ada masalah dengan kolom atau gaya font yang Anda sebutkan. Saya selalu membuat laporan seperti itu, Pak. Anda terlalu berlebihan dan—”

Riris terhenti saat dia menyadari ekspresi wajah Ronald yang mulai berubah. Mata pria itu menjadi semakin tajam, dan seketika itu juga, Riris merasakan kesalahan besar dalam kata-katanya. Dia menelan saliva, menunduk, dan merutuki dirinya sendiri dalam hati. Mati aku, kenapa aku bisa ngomong kayak gitu?!

Dengan suara lebih dalam dan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya, Ronald bertanya, “Jadi, menurutmu saya yang salah? Menurutmu, semua koreksi yang saya berikan padamu itu salah?”

Riris merasa tubuhnya kaku, takut jika salah kata sedikit saja, posisi dan keberadaannya di Kobayashi Advertising bisa terancam. Dia berusaha menarik napas, mencoba menenangkan diri, dan memperbaiki ucapannya.

“Tidak, Pak. M-maksud saya, baru kali ini saya menerima koreksi yang benar-benar ... berguna. Ya, benar. Baru kali ini, Pak.” Meski begitu, Riris langsung mengalihkan pandangannya, tidak bisa bertahan melihat tatapan tajam Ronald.

Ronald masih diam, tatapannya yang intens tidak lepas dari Riris, seperti mencoba membaca setiap gerakan dan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Keheningan itu terjaga beberapa menit lamanya, hingga akhirnya sebuah bayangan tiba-tiba mengganggu pikiran Ronald. Bayangan seorang gadis dengan penampilan yang sangat berbeda, dan perasaan asing ketika terbayang sebuah perpisahan antara mereka.

Ronald menekan pelipisnya dengan tangan, merasakan pusing yang menyiksa, seakan-akan bayangan itu semakin kuat dan nyata. Tanpa sadar, dia mundur beberapa langkah, menyandarkan punggung di sisi mobil, mencoba meredakan rasa pening yang mengempas.

“Pak? Ada apa, Pak?” Suara Riris terdengar cemas, tapi Ronald tidak menjawab. Hanya rasa sakit yang semakin menguasai pikirannya, bayangan-bayangan itu berputar tanpa henti, mengalir begitu saja. Di tengah ketidakmampuan untuk mengendalikan semua itu, Ronald merasakan sebuah gambar yang menonjol lebih tajam, seorang gadis berambut setengah pirang, wajahnya sangat jelas, dan rasa sesak itu menyerang hatinya seperti dihantam batu besar.

Lihat selengkapnya