Di jam makan siang, Riris berdiri ragu di depan pintu ruangan Ronald. Tangannya memegang kotak makanan berwarna biru muda, masakan yang dia buat sendiri. Meski hatinya gelisah, dia tahu ini satu-satunya kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ronald. Mungkin, hanya mungkin, masakan ini bisa mengingatkannya pada momen-momen mereka di masa lalu—meski itu hanya sebentar.
Riris menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Setelah beberapa saat, dia mengetuk pintu dengan lembut.
“Masuk!” Suara Ronald terdengar dari dalam.
Riris memutar kenop pintu perlahan, membuka sedikit pintu, dan menyembulkan kepala. Begitu masuk, tatapannya langsung bertemu dengan Ronald. Ruangan itu terasa sepi, hanya ada mereka berdua.
“Ada apa kamu menemui saya di jam makan siang begini?” Ronald bertanya, suaranya terkesan serius, tapi ada sedikit rasa penasaran.
“M-maaf, Pak. Saya … ada sesuatu yang ingin saya berikan,” jawab Riris dengan gugup.
“Memberikan saya sesuatu? Apa itu?” Ronald menatapnya tajam, belum mengerti maksud kedatangan Riris.
Riris melangkah mendekat, menaruh kotak nasi di atas meja Ronald. “Makan siang, Pak. Maaf, kalau saya lancang. Saya hanya ….” Dia terdiam sejenak, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Sebenarnya, dia belum memikirkan alasan mengapa dia tiba-tiba membawakan Ronald makan siang. Tentu saja, lelaki itu sangat mengutamakan logika dan alasan di balik setiap tindakan.
Tatapan Ronald berubah. Ada kecurigaan yang jelas terpancar di matanya, seolah-olah dia mencari-cari maksud tersembunyi di balik niat Riris.
“Isinya bukan racun, kok, Pak. Itu makanan biasa.” Riris mencoba meyakinkannya, meski rasa gugupnya semakin jelas. “Tapi, saya bisa jamin rasanya enak. Saya yang masak sendiri. Saya pikir Pak Ronald selalu bekerja di jam makan siang, jadi alasan saya memberikan makan siang itu untuk .…” Dia terhenti lagi, merasa kalimatnya semakin tidak nyambung.
Ronald tidak menjawab, tetapi tangannya bergerak perlahan, mengambil kotak makanan dan membuka tutupnya. Bau harum dari sambal dan ayam yang baru dimasak langsung tercium, menguar dengan lembut ke udara. Rasanya ini bukan makanan yang buruk. Sebuah senyuman kecil muncul di wajah Ronald, walaupun tetap diselimuti sikap hati-hati.
“Coba saja, Pak. Saya berani bertanggung jawab kalau rasanya tidak enak sama sekali,” ujar Riris dengan nada menggugah, meskipun hatinya berdebar kencang.
Dia memang gugup, ragu apakah Ronald akan menyukai masakannya. Meskipun ini Ronald yang ia kenal, ada perbedaan yang jelas terlihat—sifatnya sekarang sangat berbeda dari yang dulu. Bukankah seharusnya selera Ronald pun berubah? Riris merasa terombang-ambing antara ketakutan dan harapan.
“Kalau saya langsung mati di sini bagaimana? Apa kamu bisa menggantikan nyawa saya?” Ronald berkata dengan nada tegas dan sedikit selipan rasa curiga.
Riris hampir tersedak mendengarnya. “Ya, ampun, Pak! Saya tidak pernah berpikir untuk membunuh Pak Ronald. Saya benar-benar tulus memasak dan memberikan makanan itu.” Suaranya terbata-bata, tapi dia mencoba menenangkan diri.
Ronald mengangkat sebelah alis, tatapannya lebih tajam sekarang. Dia tampak sedang mempertimbangkan, memikirkan apakah ada sesuatu yang mencurigakan dari perempuan di depannya. Namun, setelah beberapa detik, dia akhirnya memutuskan untuk memberi sedikit kepercayaan. Perlahan, dia mengangkat sendok, mengambil sedikit sambal yang merata di paha ayam, dan menyuapkannya ke mulut.