Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #58

Faker

Angela terdiam sejenak, tidak memahami pertanyaan yang baru saja Ronald lontarkan. Rasanya, pertanyaan itu tak seharusnya muncul—terutama mengingat banyaknya hal yang telah mereka lewati bersama di masa lalu. Meskipun itu hanya sebuah kenangan, tidak seharusnya dilupakan begitu saja.

Bagi Angela, Ronald bukanlah tipe lelaki yang mudah melupakan sesuatu, apalagi masa lalu yang begitu penuh makna. Maka dari itu, pertanyaan yang dilontarkan Ronald terdengar sangat aneh dan tidak bisa diterima begitu saja.

Sebastian pun merasa bingung, bahkan lebih bingung daripada Angela. Dia teringat akan masa lalu mereka, termasuk tindakan kekerasan yang sempat ia lakukan pada Ronald, dan sejujurnya, ia juga tak mengerti apa yang dimaksud dengan pertanyaan itu.

“Ronald? M-maksud kamu ... apa?” Sebastian bertanya, berusaha memahami apa yang terjadi.

Ronald menatap Angela dengan tatapan kosong. “Kamu mengenal saya? Siapa kamu?” tanyanya dengan suara yang penuh kebingungan.

Angela hanya bisa terdiam, menutup mulutnya dengan tangan. Ekspresinya mencerminkan ketidakpercayaan yang dalam, rasa yang begitu wajar mengingat situasi ini. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa Ronald benar-benar melupakan dirinya begitu saja.

“Aku … aku Angela, Ronald. Apa yang sudah terjadi sama kamu?!” Suaranya terdengar penuh keheranan dan sakit hati.

“Angela?” Ronald menyebutkan nama itu, tapi dengan nada yang ragu, seolah kata itu tidak familier baginya.

Bagi Angela, ini adalah momen yang mengiris hatinya, tapi tidak demikian dengan Sebastian. Justru, bagi dia, ini adalah kesempatan besar. Kesempatan untuk memiliki Angela sepenuhnya, tanpa gangguan Ronald.

“Oh, jadi saking patah hatinya, kamu sampai-sampai melupakan perempuan yang pernah kamu suka?” ujar Sebastian dengan senyum yang begitu jahat, memanfaatkan situasi ini untuk kepentingannya sendiri. “Aku berterima kasih atas keputusan yang sudah kamu buat. Sekarang aku bisa lebih leluasa, dan aku yang akan jadi pemilik Angela seutuhnya.”

Angela menatap Sebastian dengan tatapan tajam, tapi ia tidak bisa menahan perasaan yang bercampur aduk di dalam dirinya. Semua ini begitu membingungkan dan menghancurkan.

Ronald tidak menanggapi perkataan Sebastian, malah mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jas hitamnya. Dengan sikap dingin, ia menatap Angela sekilas, lalu meletakkan kartu itu di meja.

“Saya direktur perusahaan di depan kafe ini,” katanya, seakan memberi penjelasan yang tidak perlu, seolah ini adalah hal yang lebih penting daripada hubungan mereka.

Setelah itu, Ronald berbalik dan melangkah keluar, tanpa memberi kesempatan pada Angela untuk menjelaskan apa pun. Hatinya hancur melihat Ronald pergi begitu saja, seakan semua kenangan mereka tidak pernah ada.

Angela menatap punggung Ronald yang menjauh, air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. “Apa yang terjadi sama kamu, Ronald?” bisiknya dengan suara tercekat, berharap ada penjelasan, meski ia tahu itu tidak mungkin terjadi. Ronald sudah pergi, dan mungkin tak akan pernah kembali.

Sebastian, yang menyaksikan semua itu, merasa puas, tapi marah pada saat yang sama. Dia membenturkan telapak tangannya ke meja dengan kekuatan yang meledak. “Sialan!” gerutunya, frustrasi dengan kenyataan bahwa Ronald tidak melihat Angela sebagai bagian dari hidupnya lagi. Bukan kepuasan yang dia dapatkan, melainkan sebuah keinginan untuk melihat Ronald menderita—melihat keputusasaan Ronald, lebih dari apa pun yang pernah dibayangkan.

Lihat selengkapnya