Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #59

Satu Potongan Terakhir

Belum sempat Ronald benar-benar memperhatikan tiga orang yang ada dalam foto itu, sebuah tindakan yang mengejutkannya terjadi. Potongan-potongan kertas yang sedang dipegangnya direbut paksa oleh Amaliya. Tidak hanya Ronald, bahkan Hana pun terbelalak melihat perlakuan tersebut.

“Ini nggak penting,” kata Amaliya dengan nada acuh, sambil meremas potongan-potongan kertas itu dan memasukkannya ke dalam tasnya.

“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Hana, berdiri dengan sigap, matanya memancarkan tatapan tajam yang menusuk langsung ke arah Amaliya.

Ronald untuk pertama kalinya melihat pandangan Hana yang begitu berbeda. Marah. Dengan penuh pertanyaan, Ronald berusaha menebak alasan kemarahan Hana. Mengapa Hana bisa begitu emosional hanya karena foto itu direbut dengan paksa? Ada sesuatu yang pasti terkandung di dalam foto tersebut, sesuatu yang begitu penting—sesuatu yang Hana tahu dan Ronald tidak tahu.

Merasakan ketegangan di antara mereka, Ronald menggenggam erat kedua tangannya dan bertanya dengan suara yang lebih tegas, “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

Amaliya hanya mengangkat kedua bahunya, berusaha terlihat santai. “Nggak ada yang terjadi, Ronald sayang. Kamu nggak perlu berpikir macam-macam. Itu hanya sampah yang seharusnya dibuang ke tempat sampah.”

“Apa yang berusaha kamu lakukan, Amaliya?” Ronald tidak bisa lagi menyembunyikan kebingungannya. Bahkan rahang Hana terlihat mengeras, menahan amarah yang semakin meluap.

“Oh, ayolah, Tuan Putri.” Amaliya mencibir dengan nada sinis. “Kamu dan Ronald sudah dijodohkan dan akan segera menikah. Jangan merusak suasana di antara kalian dengan membicarakan hal yang nggak berguna sama sekali.”

Namun, Hana tak tinggal diam. “Saya tahu kamu sedang memanipulasi Ronald-kun. Tapi setidaknya biarkan dia mengingat kenangannya. Kamu tidak tahu seberapa berharga kenangan itu.”

Ucapan Hana itu membuat Amaliya semakin kesal. Tanpa kata-kata lagi, dia menarik tangan Ronald dengan kasar, berusaha membawa lelaki itu pergi dari situasi yang semakin tegang.

“Saya akan meminjam Ronald sebentar,” ujarnya dengan nada yang seolah memerintah.

Hana hanya bisa berdiri terpaku, tak tahu harus berbuat apa. Dia sadar betul bahwa Amaliya berada di bawah perintah langsung Takeda Kobayashi, jadi jika dia terlalu mendesak atau mengancam, hal itu bisa menimbulkan masalah yang lebih besar. Namun, di dalam hatinya, Hana tidak bisa menahan rasa sakit melihat Ronald yang semakin jauh dari ingatan-ingatannya yang paling berharga.

“Jangan perlakukan saya seperti anak kecil!” Ronald memaksa tangannya terlepas dari cengkeraman Amaliya begitu mereka tiba di tempat parkir. Suaranya penuh dengan ketegasan.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah lancang!”

“Ops! Maaf, Tuan Muda Kobayashi. Tapi saya diperintahkan oleh ayahmu sendiri untuk membawamu ke suatu tempat.”

Dahi Ronald mengernyit, kebingungannya semakin mendalam. “Suatu tempat?”

“Kamu akan tahu sebentar lagi.” Amaliya melangkah masuk ke dalam mobil mewah berwarna putih, menatapnya sekilas. “Ayo, ikuti aku.”

Dengan tegas, Ronald menolak, “Saya menolak!”

“Jangan paksa saya melakukan kekerasan, Ronald. Ini perintah dari ayahmu, dan kamu ....”

Lihat selengkapnya