Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #60

Black Tiger dan Generasi Penerus

Menyadari situasi semakin genting, Amaliya segera menghubungi para bawahannya beberapa saat sebelumnya. Tidak mungkin dia membiarkan Ronald terjebak dalam perbincangan yang melibatkan ketiga orang itu. Rencana yang telah disusun dengan hati-hati bisa saja hancur seketika. Sebagai seorang profesional yang bekerja di bawah kepemimpinan Yakuza Black Tiger, Amaliya tahu bahwa setiap langkah harus diambil dengan cermat.

Tak lama kemudian, dengan sigap, personel yang ia hubungi tiba di lokasi. Tanpa basa-basi, mereka segera menangkap Ronald, membiusnya hingga jatuh pingsan.

"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Hana, panik dan tak bisa berbuat apa-apa saat orang-orang berjas dan berkacamata hitam itu menggiring Ronald. Tangan Ronald yang terkulai lemas hanya bisa digenggam oleh Hana, tapi ia tak mampu menghalangi mereka. Bahkan Angela yang berdiri di sampingnya hanya bisa membelalak, terkejut dengan kejadian yang begitu cepat.

“Apa yang terjadi di sini?!” tanya Angela dengan nada penuh kebingungan, entah pada siapa.

Tanpa memberi kesempatan untuk penjelasan, para pria itu segera memasukkan Ronald ke dalam limosin hitam. Hana hanya bisa terisak, berteriak memohon agar Ronald dilepaskan. Angela yang sebenarnya juga tidak tahu apa yang sedang terjadi, berdiri tak berdaya, hanya bisa menatap limosin itu menghilang.

"Hana! Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Angela, mencari jawaban di tengah kebingungannya. Namun, yang dia dapatkan hanya kesenyapan. Hana berdiri terdiam, mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya.

Sebastian, meski membenci Ronald, tak bisa menahan rasa marah saat melihat orang lain mengambil apa yang dia anggap miliknya. Meskipun begitu, dia merasa jengkel ketika mangsanya dirampas oleh pihak luar.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ronald? Aku sama sekali nggak paham. Kalau kamu bisa ngomong, cerita ke aku! Apa yang terjadi, Hana?!” Angela mendekati Hana, memegang kedua bahunya dengan cemas. Matanya penuh dengan rasa frustrasi. Dia tidak bisa lagi diam. Ketika orang yang ia harapkan bisa menjadi penyelamat malah terjebak dalam situasi yang begitu rumit, ia merasa kehilangan arah.

Hana menghela napas panjang, seolah siap membuka mulut.

“Ini sangat rumit. Bahkan jika saya menceritakannya padamu, tidak ada yang bisa kita lakukan.”

"Seenggaknya aku bisa tahu apa yang terjadi dengan Ronald!" Angela mendesak, suaranya penuh keputusasaan.

Hana menatapnya tajam, seolah ingin memastikan perasaan Angela yang sesungguhnya.

“Sebegitu penting Ronald-kun bagimu?” Tatapan Hana begitu dalam, memancarkan emosi yang telah lama terkubur. “Kalau dia sangat penting bagimu, kenapa kamu hanya diam saja dan berkali-kali mematahkan hatinya?! Kenapa kamu hanya melihat dari kejauhan tanpa mau tahu apa penderitaan Ronald-kun selama ini?!”

Angela terdiam. Kata-kata itu langsung menghunjam ke hatinya. Tak ada lagi alasan yang bisa dia berikan. Kenyataan yang tak bisa ia bantah adalah bahwa dia telah membiarkan Ronald berjuang sendirian, sementara dia hanya diam dan mengikuti Sebastian ke mana pun tanpa berbuat apa-apa.

"Saya awalnya sangat percaya padamu, Angela. Saya percaya kamu bisa menyelamatkan Ronald-kun dari neraka kesengsaraan ini. Tapi, saya tidak pernah melihat kamu berjuang untuknya. Kamu hanya memberikan dia luka dan menengadah ke langit demi diselamatkan tanpa ingin tahu apa masalah yang sedang dia hadapi," ujar Hana sambil membelakangi Angela, suaranya tergetar, tapi tegas.

Lihat selengkapnya