Rela Miskin Demi Cinta

Marion D'rossi
Chapter #61

Membuat Beberapa Anak

“Seppuku? Yang benar saja!” Ronald tertawa dengan sinis. Tidak mungkin dia akan melakukan pembodohan seperti itu. Sebagai seorang yang selalu percaya pada dirinya sendiri, dia tak merasa sedikit pun bertanggung jawab atas penobatan dirinya sebagai pemimpin Yakuza Black Tiger, apalagi merasa gagal atas perintah itu. Baginya, semua ini hanyalah sandiwara yang perlu dipahami dengan lebih dalam. Dan kini, dia akan memastikan satu hal lagi—untuk apa semua ini dilakukan oleh Takeda?

Mereka melangkah masuk ke dalam bangunan besar itu, pintu yang tinggi dan megah terbuka lebar. Di dalam, suasana terasa sangat berbeda—seperti memasuki dunia yang terpisah dari realitas. Ratusan laki-laki dan perempuan berkumpul di sana, semuanya mengenakan pakaian formal dengan kesan yang sangat mewah. Para pria mengenakan setelan hitam rapi, sementara para wanita anggun dalam gaun merah menyala. Ronald bisa merasakan aura kekuatan yang begitu tebal di udara. Mereka bukan orang sembarangan.

Di antara kerumunan yang teratur rapi itu, ada orang-orang yang jelas memiliki pengaruh besar. Usaha dan kekayaan mereka tergantung pada kapasitas dan kontribusi mereka dalam organisasi. Dan saat itu, Ronald mulai sadar dari mana sebenarnya kekayaan ayahnya berasal. Selama ini, dia hanya tahu tentang perusahaan besar milik Takeda, tetapi ini adalah sisi yang berbeda—sisi gelap yang tak pernah terungkap.

Tidak masuk akal jika Takeda memiliki begitu banyak emas. Perusahaan Kobayashi Advertising sendiri tak mungkin menghasilkan kekayaan sebesar itu. Ini adalah saatnya bagi Ronald untuk mengetahui semua fakta yang selama ini tersembunyi—termasuk sisi kehidupan ayahnya yang jarang sekali ia ungkapkan.

Saat mereka melangkah lebih jauh, semua orang yang ada di sana membungkuk hormat, memberikan penghormatan pada pemimpin baru mereka—Ronald Kobayashi. Suasana yang sebelumnya terasa asing dan tidak nyata kini mulai terasa sangat nyata. Seolah-olah dunia itu menanti kedatangannya.

Langkah Ronald terhenti saat seorang pria bermata sipit berdiri di depannya, memandangnya dengan intens. Ronald mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, merasakan gelombang energi yang sangat kuat di sekitarnya.

“Angkat kepala kalian!” teriaknya dengan suara tegas yang menggema di seluruh ruangan. Suara itu memecah keheningan dan membuat setiap orang yang ada di sana terdiam, tak berani melawan.

Ronald menyadari sesuatu di dalam dirinya—sebuah kekuatan yang dia warisi, kekuatan yang selama ini tersembunyi. Tak heran jika Takeda memilihnya sebagai penerus. Pasti ada alasan mengapa ayahnya ingin dia dilatih di sekolah bela diri terkenal itu. Bahkan tanpa alat seperti senjata, hanya dengan tangan kosong, Ronald bisa menghancurkan siapa pun yang mencoba menantangnya. Jika diberi katana, mungkin tak akan ada lawan yang mampu melawan kemampuannya.

Amaliya yang berdiri di sampingnya, merasakan ketegangan itu. Dia tahu betul apa yang bisa terjadi jika Ronald kehilangan kendali. Jika kemampuan yang dimilikinya keluar tanpa batas, dia bisa menghabisi siapa saja tanpa ampun. Meski tak mungkin baginya untuk melawan ratusan orang yang ada di dalam bangunan itu, Amaliya tetap waspada. Matanya tak pernah lepas dari setiap gerak-gerik Ronald. Dia harus siap dengan segala kemungkinan.

“Jadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang?” Ronald bertanya, mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi acuh tak acuh, seolah semuanya sudah bisa dia atur.

Amaliya menatapnya, suara tenangnya terdengar dalam kesunyian. “Perkenalkan dirimu, Ronald.”

“Kenapa saya harus memperkenalkan diri?” jawab Ronald dengan nada yang sedikit sinis. “Seharusnya mereka sudah sadar diri dan tahu siapa pemimpin mereka yang baru.”

Tentu saja, Ronald tetaplah Ronald. Sifat keras kepala dan ketidaksediaannya untuk menghormati orang lain selalu muncul, bahkan ketika itu bisa merugikan dirinya sendiri. Terlebih di saat seperti ini, ketika Amaliya butuh dia untuk bersikap berbeda—lebih bijaksana—agar bisa menghadapi masa lalunya dengan cara yang lebih baik. Namun, jelas sekali, itu bukanlah sesuatu yang bisa dia ubah dengan mudah.

"Baiklah. Ayo, kita nikmati segelas wine dan berbincang sebentar," kata Amaliya, mengajak Ronald untuk mengikuti langkahnya.

Mereka berdua menaiki tangga menuju sebuah panggung berbentuk lingkaran, yang lantainya tertutup oleh tikar merah. Setelah duduk, seorang pelayan segera menuangkan wine ke dalam gelas mereka.

Lihat selengkapnya