Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Ronald berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Amaliya. Tangan kirinya meraih gagang pintu yang terlupakan Amaliya untuk dikunci. Dalam sekejap, pintu itu terbuka, dan dengan satu dorongan, Ronald mengunci pintu itu dari luar, meninggalkan Amaliya yang terkurung di dalam.
“Membusuklah di dalam sana selamanya,” ujar Ronald dengan nada datar, suaranya tidak menunjukkan keraguan. Kata-kata itu keluar seolah sudah dipikirkan matang-matang, seperti sebuah keputusan yang tidak bisa dibatalkan.
“Ronald! Apa yang kamu lakukan!? Buka pintunya, Ronald!” Amaliya berteriak dari balik pintu, suaranya dipenuhi ketakutan dan kebingungannya yang semakin meluap. Dia memukul-mukul pintu dengan keras, tapi hanya kesunyian yang menyambutnya. Setiap pukulan yang dihasilkan hanya membuatnya merasa lebih terisolasi, sementara Ronald sudah pergi, meninggalkannya sendirian dalam kekhawatiran yang semakin mencekam.
Langkah kaki Ronald menggema di sepanjang koridor panjang, suara beratnya terdengar jelas di ruang kosong. Begitu keluar dari ruangan yang baru saja dia tutup, ia dihadapkan pada sekelompok pria berjas yang sepertinya sudah menunggu. Ronald menatap mereka dengan tatapan tajam yang penuh ancaman, matanya seolah mengintimidasi mereka tanpa perlu kata-kata.
“Pilihlah, saya atau wanita sialan itu?” katanya dengan suara dingin dan penuh kekuasaan. “Jika kalian masih ingin hidup, singkirkan diri kalian dan beri saya jalan.”
Namun, tidak ada yang bergerak. Semua pria itu terdiam, wajah mereka menampilkan ketakutan yang tersirat. Mereka tahu betul bahwa ini bukan sekadar ancaman kosong. Ronald bukan lagi seorang pria biasa. Ia sedang berada di jalur yang sudah dipilihnya, jalur menuju puncak kekuasaan di Yakuza Black Tiger. Tak ada yang bisa menghalanginya. Jika pemberontakan ini sampai diketahui Takeda, bukan hanya hidup mereka yang terancam, tetapi juga kehormatan mereka sebagai bagian dari keluarga Kobayashi. Jika itu terjadi, mereka semua akan diminta untuk melakukan seppuku, dan tak ada yang lebih buruk dari nasib itu.
“Maafkan kami, Tuan Muda Kobayashi,” ucap salah satu dari mereka, suaranya bergetar ketakutan.
Ronald tertawa keji, tawa yang lebih menyerupai deru kebencian daripada ekspresi seorang manusia. Senyumnya mengembang, tapi ada kegelapan yang tampak di matanya. Tanpa ragu, ia melangkah maju, menembus setiap hambatan di depannya. Ia meninggalkan bangunan itu dengan hati yang penuh kemarahan, rasa kecewa yang mendalam menghantui setiap langkahnya.
Setibanya di rumah, Ronald langsung masuk tanpa basa-basi, matanya tetap tajam, seperti seseorang yang baru saja menginjakkan kaki di medan pertempuran. Di ruang tamu, Hana duduk termenung, wajahnya penuh kecemasan. Namun, begitu melihat Ronald, ekspresi khawatir di wajahnya seketika berubah menjadi lega.
“Ronald-kun? Kamu tidak apa-apa?” tanya Hana dengan suara lembut, penuh kekhawatiran. Matanya menatap Ronald dengan penuh perhatian, seakan mencari tanda-tanda bahwa semuanya baik-baik saja.
“Saya baik-baik saja,” jawab Ronald dengan nada datar, meskipun ekspresinya terkesan dingin. Gerakannya cepat, hampir tidak terlihat, ketika ia menepis tangan Hana yang berusaha mengelus pipinya.
Namun, Hana tidak merasa tersakiti. Justru, ada rasa hangat yang mulai tumbuh di dalam hati kecilnya. Ia merasa, meskipun perlakuan Ronald tampak keras, sedikit demi sedikit, dia melihat kembali pria yang pernah dikenalnya. Ada secercah harapan, meski kecil, bahwa Ronald yang dulu masih ada, meski terluka dan terperangkap dalam ketidakpastian. Hana tahu, meskipun rasa sakit itu mungkin tak akan pernah sepenuhnya sembuh, kehidupan tetap berjalan—bahkan kebahagiaan pun tidak bisa terlepas dari penderitaan yang mengiringinya. Tanpa itu, bagaimana bisa kebahagiaan dihargai?
Ronald menatap mata Hana sejenak, seolah mencari bagian yang hilang dalam dirinya, sepotong kenangan yang sudah lama terpendam. Tanpa berkata banyak, ia menarik tangannya dari jangkauan Hana dan mengalihkan pandangan.
“Kita mau ke mana, Ronald-kun?” tanya Hana, mencoba mengubah suasana.
“Saya ingin mengajakmu berjalan-jalan,” jawab Ronald dengan suara yang tetap datar. Meski begitu, ada banyak hal yang mengendap di dalam dirinya, hal-hal yang mengganggu pikirannya, yang tak bisa dia ungkapkan begitu saja.
Mereka berdua melangkah menuju mobil, suasana antara mereka tenang, tapi penuh ketegangan. Setelah duduk di dalam mobil dan melaju, keheningan di antara mereka perlahan pecah.